Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Islam dan Kaidah Jurnalistik

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 15 April 2020 10:59 10:59 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 15 April 2020 10:59
Bagikan
etika jurnalistik
[Ilustrasi] Jurnalis.
Bagikan

Oleh: Mahladi Murni

 

Hidayatullah.com | “Kita ini sedang berperang. Bukan perang dengan senjata, tapi perang dengan opini. Dalam perang, tipu daya diperbolehkan,” demikian kira-kita ucapan salah seorang pemimpin redaksi sebuah media saat bertandang ke redaksi Hidayatullah.com beberapa tahun lalu.

Saya menerima sang pemimpin redaksi tersebut. Tentu saya tidak mau mendebatnya. Rasulullah ﷺ, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, memang pernah menyatakan bahwa perang adalah tipuan.

Hanya saja, ketika ia menegaskan bahwa produk publikasi yang ia buat adalah produk jurnalistik, maka ini menjadi bermasalah. Sebab, jurnalistik adalah profesi. Sebagai profesi, tentu ia punya aturan main. Dan, aturan main itu harus diikuti oleh orang-orang yang mengaku berprofesi sebagai jurnalis.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Salah satu aturan main itu adalah  off the record. Artinya, informasi yang didapat tidak untuk disiarkan. Meskipun informasi tersebut amat mendukung sudut pandang yang sedang dibangun sang reporter, atau media tempat reporter itu berkarya, tetap tak boleh dipublikasikan.

Ada juga kaidah  cover both side. Artinya, kedua sisi harus diliput. Bila sang reporter menerima informasi dari satu pihak yang sedang berselisih, maka ia pun harus mengimbanginya dengan menyiarkan informasi dari pihak lain.

Ada juga kewajiban untuk melakukan konfirmasi, klarifikasi, dan verifikasi setiap informasi yang masuk agar terhindar dari fitnah dan kebohongan.  Informasi yang belum terkonfirmasi, yang sifatnya “katanya”, jelas tak boleh dipublikasi. Apalagi berita bohong.

Aturan main lainnya adalah kejelasan identitas media dan sang jurnalis yang membuat laporan. Ini bagian dari pertanggungjawaban informasi. Jika ada kesalahan publikasi, maka sang jurnalis dan media yang mempublikasikannya harus berani mengatakan, “Kami ada di sini dan kami akan bertanggungjawab.”

Masih cukup banyak kaidah-kaidah jurnalistik lain yang harus dituruti oleh para pewarta, termasuk pewarta Muslim. Tentu saja saya tidak menjelaskan aturan-aturan ini kepada Sang Pemimpin Redaksi yang siang itu saya temui. Andai saya jelaskan, boleh jadi ia akan bertanya, “Mengapa kita harus mengikuti aturan-aturan tersebut padahal mereka tak diatur dalam Islam?”

Sebagian dari aturan-aturan tadi memang tak diatur secara langsung oleh Islam. Namun, secara tak langsung, Islam mengaturnya. Bukankah ada kaidah fiqih yang menyatakan al-muslimuna ‘ala syuruthihim, yang artinya, “Kaum Muslim wajib memenuhi syarat-syarat yang ada di antara mereka”.

Ini ibarat peraturan di sebuah sekolah. Jika pihak sekolah menerapkan aturan bahwa setiap hari Senin para siswa harus mengenakan pakain putih-putih, maka semua siswa wajib menaatinya meskipun tak ada larangan dalam Islam seseorang mengenakan pakaian putih biru pada hari Senin.

Hanya saja, jurnalis Muslim tetap harus menempatkan syariat di atas segala kesepakatan profesi.  Kita tahu, jurnalistik bukanlah ilmu yang berasal dari Islam. Bukan mustahil –meski dalam praktiknya belum pernah kita dengar—suatu saat nanti ada benturan antara praktik jurnalistik dan syariat Islam.

Karena itu perlunya ada kalimat yang tegas dalam kode etik jurnalis Muslim untuk mengantisipasi hal ini, yakni: Jurnalis Muslim harus bekerja secara profesional, sesuai kaidah profesi dalam kejurnalistikan, selagi hal tersebut tidak bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah.

Kembali pada cerita Sang Pemimpin Redaksi tadi. Saya tahu betul dia bukanlah seorang pengecut. Ini terbukti ketika saya ingatkan dia soal risiko yang harus ia hadapi. Dia dengan tenang berkata, “Saya tidak takut!”

Semua perjuangan memang butuh pengorbanan.*

Penulis adalah wartawan

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:etika jurnalistikjurnalisjurnalis muslimwartawan Muslim
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Benarkan Imam Mahdi Diutus Umur 40 Tahun?
Tulisan selanjutnya Santriwati Penghafal Qur’an ini Yakini Ibadah Faktor Penyembuh Covid-19

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Berita
28 Agustus 2026 09:48
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?