Opini: Khaled A. Beydoun
Hidayatullah.com | KLUB sepakbola Liverpool – yang mengklaim gelar Liga Premier pertamanya dalam 30 tahun akhir pekan lalu – membanggakan dua orang dari pemain utamanya: Mohamed Salah dan Sadio Mane, dua pesepak bola yang mempelopori keberhasilan bersejarah Liverpool di musim 2019-2020.
Salah dan Mane keduanya adalah Muslim. Muslim Arab dan Muslim berkulit hitam itu didorong ke atas panggung – sepak bola Inggris – yang telah lama dinodai oleh rasisme kulit hitam dan xenophobia.
Mereka melakukan perjalanan yang berbeda menuju Liverpool , dan menghadapi tantangan yang menguji tekad mereka di saat tiba di Liverpool . Namun keyakinan mereka memberi keduanya jalan yang sama menuju cobaan yang telah menggagalkan pesepak bola lain.
Ajaran Nabi
Muslim Mesir dan Senegal itu bisa dengan mudah memperdagangkan identitas Muslim mereka dengan imbalan mobil dan gaya hidup mewah yang dimiliki para pesepakbola di Inggris. Tetapi menghindari jalan itu, dan mengikuti ajaran Nabi terakhir mereka, Rasulullah Muhammad ﷺ, Salah dan Mane hidup dengan slogan klub mereka “kamu tidak akan pernah berjalan sendiri.”
Sementara, seperti yang dikatakan seorang jurnalis, “Kematian, wabah dan keruntuhan ekonomi membuntuti negeri itu, menusuk kemampuan olahraga untuk berpura-pura sebagai bagian dari dunia hanya sebuah cerita sampingan,” dunia Mohamed Salah dan Sadio Mane menggambarkan – selama ini – bagaimana olahraga adalah salah satu dari teater yang paling berpengaruh dalam kehidupan.
Kedua pemain depan Liverpool itu, dengan Mane menguasai sisi kanan lapangan dan Salah mengobrak-abrik sisi kiri, memimpin kenaikan posisi klub itu ke puncak klasemen. Liverpool tidak hanya memenangkan kejuaraan, tetapi benar-benar mengungguli lapangan dengan mendominasi 28 kemenangan dengan hanya dua kali imbang dan satu kekalahan, Manchester City di peringkat kedua dengan selisih 23 poin.
Tidak mengherankan, Salah dan Mane memimpin perjalanan bersejarah menuju gelar, dengan “Raja Mesir” mencetak 17 gol dan Pemain Terbaik Afrika Tahun Ini, Mane, mencetak 16 gol. Pencapaian ini menempatkan Salah sebagai pencetak skor tertinggi keempat Liga Premier musim ini, dan Mane di peringkat kelima.
Setiap kali mereka mencetak gol, dan mereka sering melakukannya, Salah dan Mane berlutut dan bersujud dalam kebiasaan Islam bernama sujud syukur. Bersujud, yang diberlakukan hukuman di liga olahraga seperti NFL, menjadi jauh lebih dari sekedar pemandangan umum bagi penonton EPL, tetapi jutq ditiru oleh penggemar Liverpool dari setiap agama, menginspirasi perubahan budaya di klub sepak bola berumur 128 tahun itu:
Di musim bersejarah ini, seperti beberapa musim sebelumnya, menyaksikan semakin tergerusnya Islamofobia yang mencengkram Inggris, berkat dampak Salah dan Mane.
Orang-orang kulit putih, mengenakan seragam The Reds yang mengaku Kristen atau keyakinan lain, akan secara teratur meledak dalam yel-yel pujian untuk Salah yang dalam bahasa Indonesia begini liriknya:
“Mo Salah, la, la, la, la, La, la, la, la, la, la,
“Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku.”
“Jika dia menciptakan gol-gol baru, aku pun akan menjadi Muslim.”
“Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku.”
“Duduk di mesjid, di situlah kuingin berada,”
Mereka menyanyikan itu dimanapun mereka menyaksikan Salah mencetak gol ke gawang lawan. Penjajaran itu nyata terhadap Islamofobia yang dikipasi oleh Brexit dan Boris Johnson.
Adegan-adegan yang diilhami oleh Salah merupakan hal yang ajaib. Setiap pria, wanita dan pemuda Inggris menerikkan, “Aku akan menjadi Muslim juga” dan senang membayangkan “duduk di masjid.”
Bintang-bintang pesepakbola Muslim sedang menantang Islamofobia yang mencengkram Inggris dan dunia di sekitarnya. Dan Mane serta “Salah Effect” tidak hanya simblois atau anekdot, namun juga dapat diukur. “Menurut Lab Kebijakan Imigrasi Universitas Stanford, Salah dipuji-puji berhasil mengurangi Islamofobia dan kejahatan rasial di Liverpool sejak dia menandatangani kontrak dengan klub itu pada Juni 2017.”
Secara khusus, studi Universitas Stanford menemukan bahwa kejahatan rasial di wilayah metropolitan Liverpool menurun sebesar 19 persen, dan komentar anti-Muslim meningkat 50 persen sejak Salah bergabung dengan Liverpool pada 2017. Dampak Salah dapat diukur, dan kehadiran serta permainannya di lapangan mengubah hati dan pikiran di masa ketika nativisme telah meningkat di Inggris, dan Islamofobia berkembang biak di seluruh dunia.
Sebelum membantu Liverpool mengklaim gelar Juara Premier Inggris, Salah memperjuangkan sebuah budaya baru dalam penerimaan diantara para penggemar sepak bola, dengan hanya menjadi Muslim yang otentik dan tanpa kompromi.
Kerendahan hati
Mane memuji Salah sebagai teladan baru dari bintang sepak bola modern. Pada September 2018, hanya beberapa jam setelah mencetak gol penentu kemenangan melawan Leicester City, Mane berkendara ke masjid seperti yang selalu dilakukannya. Di sana, dia terekam mengisi ember air dan membersihkan toilet di dalam kamar mandi – di mana laki-laki Muslim biasanya membersihkan diri sebelum sholat.
Tidak menyadari kamera telepon yang merekamnya, Mane tanpa ragu membersihkan ruang itu bersama beberapa orang lain. Video tersebut kemudian viral. Video itu merebut hati jutaan penggemar, yang memuji Mane karena “keredahan hatinya” dan, sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, “menjaga dirinya sama” seperti orang biasa meskipun menjadi pesepakbola miliader.
Inilah tepatnya siapa Mane, dan yang dilambangkan Islam – tanpa filter dan tanpa ternoda: Kesederhanaan dan kerendahan hati, dan menarik garis di mana kaki setiap orang sama dengan yang ada di sampingnya – terlepas dari rasa tau kelas, status atau kekayaan.
Pada Oktober 2019, satu tahun setelah memimpin Senegal dalam penampilan kedua Piala Dunia negara itu, Mane ingin memberi negara dan rakyatnya lebih banyak lagi. Ketika ditanya oleh seorang jurnalis tentang model hidupnya yang sederhana, dia menjawab,
“Mengapa saya ingin 10 Ferrari, 20 jam tangan berlian, atau dua pesawat? Apa yang akan dilakukan benda-benda ini untuk saya dan bagi dunia?” Saya membangun sekolah, stadion, kami menyediakan pakaian, sepatu, makanan untuk orang-orang yang berada dalam kemiskinan ekstrem.”
Melalui kedermawanannya, Mane mewujudkan model kenabian yang menyatakan, “Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang) mengetahui.”
Salam, Liverpool
Inilah klub sepak bola Liverpool : Orang Mesir berambut keriting yang bersujud setiap kali mencetak gol, dan seorang raksasa sepak bola Senegal berkulit hitam yang kekuatan supernya adalah kerendahan hati. Para juara, yang menolak mobil mewah dan kemewahan untuk memberi “orang mereka sedikit dari apa yang telah diberikan kehidupan” kepada mereka.
Kedua pria Muslim ini muncul di Liverpool , sebuah kota industri Inggris yang pernah dirusak oleh kekerasan rasial dan hari ini terancam oleh kaum neo-Nazi dan para nativis yang digalakkan oleh agenda populis yang menandai Muslim, seperti Salah dan Mane, sebagai sasaran.
Tapi mereka tetap tidak berubah. Dan yang lebih penting, tetap setia pada siapa mereka, sebagai pria Arab dan Hitam, dan sebagai Muslim. Salah dan Mane memenangkan sebuah kota dan negara yang dirusak oleh rasisme dan Islamofobia dengan permainan mereka, tetapi akan diingat juga, karena kepribadian transenden dan keaslian asli mereka.*
Khaled A. Beydoun adalah seorang profesor hukum dan penulis buku yang diakui secara kritis, American Islamophobia: Understanding the Roots and Rise of Fear. Dia duduk di Komisi Hak Sipil Amerika Serikat, dan berbasis di Detroit. Artikel di muat di laman alaraby.co.uk