Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Salah dan Mane, Dua Muslim Penyelamat Liverpool

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 7 Juli 2020 16:43 4:43 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 7 Juli 2020 16:40
Bagikan
Mo Salah - Sadio Mene
Bagikan

Opini: Khaled A. Beydoun

 

Hidayatullah.com | KLUB  sepakbola Liverpool  – yang mengklaim gelar Liga Premier pertamanya dalam 30 tahun akhir pekan lalu – membanggakan dua orang dari pemain utamanya: Mohamed Salah dan Sadio Mane, dua pesepak bola yang mempelopori keberhasilan bersejarah Liverpool  di musim 2019-2020.

Salah dan Mane keduanya adalah Muslim. Muslim Arab dan Muslim berkulit hitam itu didorong ke atas panggung – sepak bola Inggris – yang telah lama dinodai oleh rasisme kulit hitam dan xenophobia.

Mereka melakukan perjalanan yang berbeda menuju Liverpool , dan menghadapi tantangan yang menguji tekad mereka di saat tiba di Liverpool . Namun keyakinan mereka memberi keduanya jalan yang sama menuju cobaan yang telah menggagalkan pesepak bola lain.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Ajaran Nabi

Muslim Mesir dan Senegal itu bisa dengan mudah memperdagangkan identitas Muslim mereka dengan imbalan mobil dan gaya hidup mewah yang dimiliki para pesepakbola di Inggris. Tetapi menghindari jalan itu, dan mengikuti ajaran Nabi terakhir mereka, Rasulullah Muhammad ﷺ, Salah dan Mane hidup dengan slogan klub mereka “kamu tidak akan pernah berjalan sendiri.”

Sementara, seperti yang dikatakan seorang jurnalis, “Kematian, wabah dan keruntuhan ekonomi membuntuti negeri itu, menusuk kemampuan olahraga untuk berpura-pura sebagai bagian dari dunia hanya sebuah cerita sampingan,” dunia Mohamed Salah dan Sadio Mane menggambarkan – selama ini – bagaimana olahraga adalah salah satu dari teater yang paling berpengaruh dalam kehidupan.

Kedua pemain depan Liverpool  itu, dengan Mane menguasai sisi kanan lapangan dan Salah mengobrak-abrik sisi kiri, memimpin kenaikan posisi klub itu ke puncak klasemen. Liverpool  tidak hanya memenangkan kejuaraan, tetapi benar-benar mengungguli lapangan dengan mendominasi 28 kemenangan dengan hanya dua kali imbang dan satu kekalahan, Manchester City di peringkat kedua dengan selisih 23 poin.

Tidak mengherankan, Salah dan Mane memimpin perjalanan bersejarah menuju gelar, dengan “Raja Mesir” mencetak 17 gol dan Pemain Terbaik Afrika Tahun Ini, Mane, mencetak 16 gol. Pencapaian ini menempatkan Salah sebagai pencetak skor tertinggi keempat Liga Premier musim ini, dan Mane di peringkat kelima.

Setiap kali mereka mencetak gol, dan mereka sering melakukannya, Salah dan Mane berlutut dan bersujud dalam kebiasaan Islam bernama sujud syukur. Bersujud, yang diberlakukan hukuman di liga olahraga seperti NFL, menjadi jauh lebih dari sekedar pemandangan umum bagi penonton EPL, tetapi jutq ditiru oleh penggemar Liverpool  dari setiap agama, menginspirasi perubahan budaya di klub sepak bola berumur 128 tahun itu:

Di musim bersejarah ini, seperti beberapa musim sebelumnya, menyaksikan semakin tergerusnya Islamofobia yang mencengkram Inggris, berkat dampak Salah dan Mane.

Orang-orang kulit putih, mengenakan seragam The Reds yang mengaku Kristen atau keyakinan lain, akan secara teratur meledak dalam yel-yel pujian untuk Salah yang dalam bahasa Indonesia begini liriknya:

“Mo Salah, la, la, la, la, La, la, la, la, la, la,

“Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku.”

 “Jika dia menciptakan gol-gol baru, aku pun akan menjadi Muslim.”

 “Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku.”

 “Duduk di mesjid, di situlah kuingin berada,”

Mereka menyanyikan itu dimanapun mereka menyaksikan Salah mencetak gol ke gawang lawan. Penjajaran itu nyata terhadap Islamofobia yang dikipasi oleh Brexit dan Boris Johnson.

Adegan-adegan yang diilhami oleh Salah merupakan hal yang ajaib. Setiap pria, wanita dan pemuda Inggris menerikkan, “Aku akan menjadi Muslim juga” dan senang membayangkan “duduk di masjid.”

Bintang-bintang pesepakbola Muslim sedang menantang Islamofobia yang mencengkram Inggris dan dunia di sekitarnya. Dan Mane serta “Salah Effect” tidak hanya simblois atau anekdot, namun juga dapat diukur. “Menurut Lab Kebijakan Imigrasi Universitas Stanford, Salah dipuji-puji berhasil mengurangi Islamofobia dan kejahatan rasial di Liverpool  sejak dia menandatangani kontrak dengan klub itu pada Juni 2017.”

Secara khusus, studi Universitas Stanford menemukan bahwa kejahatan rasial di wilayah metropolitan Liverpool  menurun sebesar 19 persen, dan komentar anti-Muslim meningkat 50 persen sejak Salah bergabung dengan Liverpool  pada 2017. Dampak Salah dapat diukur, dan kehadiran serta permainannya di lapangan mengubah hati dan pikiran di masa ketika nativisme telah meningkat di Inggris, dan Islamofobia berkembang biak di seluruh dunia.

Sebelum membantu Liverpool  mengklaim gelar Juara Premier Inggris, Salah memperjuangkan sebuah budaya baru dalam penerimaan diantara para penggemar sepak bola, dengan hanya menjadi Muslim yang otentik dan tanpa kompromi.

Kerendahan hati

Mane memuji Salah sebagai teladan baru dari bintang sepak bola modern. Pada September 2018, hanya beberapa jam setelah mencetak gol penentu kemenangan melawan Leicester City, Mane berkendara ke masjid seperti yang selalu dilakukannya. Di sana, dia terekam mengisi ember air dan membersihkan toilet di dalam kamar mandi – di mana laki-laki Muslim biasanya membersihkan diri sebelum sholat.

Tidak menyadari kamera telepon yang merekamnya, Mane tanpa ragu membersihkan ruang itu bersama beberapa orang lain. Video tersebut kemudian viral. Video itu merebut hati jutaan penggemar, yang memuji Mane karena “keredahan hatinya” dan, sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, “menjaga dirinya sama” seperti orang biasa meskipun menjadi pesepakbola miliader.

Inilah tepatnya siapa Mane, dan yang dilambangkan Islam – tanpa filter dan tanpa ternoda: Kesederhanaan dan kerendahan hati, dan menarik garis di mana kaki setiap orang sama dengan yang ada di sampingnya – terlepas dari rasa tau kelas, status atau kekayaan.

Pada Oktober 2019, satu tahun setelah memimpin Senegal dalam penampilan kedua Piala Dunia negara itu, Mane ingin memberi negara dan rakyatnya lebih banyak lagi. Ketika ditanya oleh seorang jurnalis tentang model hidupnya yang sederhana, dia menjawab,

“Mengapa saya ingin 10 Ferrari, 20 jam tangan berlian, atau dua pesawat? Apa yang akan dilakukan benda-benda ini untuk saya dan bagi dunia?” Saya membangun sekolah, stadion, kami menyediakan pakaian, sepatu, makanan untuk orang-orang yang berada dalam kemiskinan ekstrem.”

Melalui kedermawanannya, Mane mewujudkan model kenabian yang menyatakan, “Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang) mengetahui.”

Salam, Liverpool

Inilah klub sepak bola Liverpool : Orang Mesir berambut keriting yang bersujud setiap kali mencetak gol, dan seorang raksasa sepak bola Senegal berkulit hitam yang kekuatan supernya adalah kerendahan hati. Para juara, yang menolak mobil mewah dan kemewahan untuk memberi “orang mereka sedikit dari apa yang telah diberikan kehidupan” kepada mereka.

Kedua pria Muslim ini muncul di Liverpool , sebuah kota industri Inggris yang pernah dirusak oleh kekerasan rasial dan hari ini terancam oleh kaum neo-Nazi dan para nativis yang digalakkan oleh agenda populis yang menandai Muslim, seperti Salah dan Mane, sebagai sasaran.

Tapi mereka tetap tidak berubah. Dan yang lebih penting, tetap setia pada siapa mereka, sebagai pria Arab dan Hitam, dan sebagai Muslim. Salah dan Mane memenangkan sebuah kota dan negara yang dirusak oleh rasisme dan Islamofobia dengan permainan mereka, tetapi akan diingat juga, karena kepribadian transenden dan keaslian asli mereka.*

Khaled A. Beydoun adalah seorang profesor hukum dan penulis buku yang diakui secara kritis, American Islamophobia: Understanding the Roots and Rise of Fear. Dia duduk di Komisi Hak Sipil Amerika Serikat, dan berbasis di Detroit. Artikel di muat di laman alaraby.co.uk

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamofobiaLiverpoolMohamad Salah dan Sadio ManeMohamed SalahMuslimxenophobia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ulumul Qur`an, Ilmu Penjaga Al-Qur`an
Tulisan selanjutnya Zimbabwe Tangkap Perawat yang Protes Soal Gaji

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Palestina Terkini

Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis

Palestina Terkini
13 Juli 2026 05:55
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?