Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Energi Dakwah dari Bumi Nuu War

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Juli 2020 16:31 4:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Juli 2020 16:31
Bagikan
Parade Tauhid Indonesia
Ustadz Fadlan Garamatan, sampaikan orasi didepan peserta Parade Tauhid
Bagikan

Oleh: Fahmi Salim

Hidayatullah.com | SETIAP kesulitan yang dihadapi seorang dai adalah vitamin. Bukannya menyurutkan gerakan dakwahnya, sebaliknya makin memperkuat energinya, sebagaimana yang dialami oleh para Nabi. Tak ada seorang Nabi pun tanpa diuji dengan berbagai kesulitan dalam hidupnya, bahkan lebih dahsyat dari orang kebanyakan. Dihina, diintimidasi, diboikot, diusir dari tanah kelahirannya bahkan dibunuh.

Begitu pula yang dialami Ustadz Fadlan Gamaratan, yang berjuang lebih dari 30 tahun untuk menyebarkan Islam di tanah Papua. Atas petunjuk Allah, ribuan orang suku asli pedalaman Papua telah berikrar syahadat, setelah mendapat sentuhan dakwahnya. Berbagi kisah dengan Ustadz Fadlan dalam program NGESHARE: Ngaji dulu Alim Kemudian, tentu menjadi inspirasi bagi siapa pun. Kisah dakwah Ustadz Fadlan pun selalu mengharukan dan menyentuh kalbu. Rasanya, saya dan semua dai harus belajar banyak dari sosoknya.

Berkali-kali dipanah dan ditombak, bahkan pernah dijebloskan ke penjara. Namun, tak menyurutkan dakwahnya. Ustadz Fadlan tak pernah kapok.

Dikisahkan, suatu saat ia pernah berdakwah di Kampung Gayem. Tiba-tiba kakinya ditombak, hingga betisnya terluka dan segera dibawa ke rumah sakit. Setelah sembuh, Ustadz Fadlan tak jera dan kembali lagi ke kampung itu untuk berdakwah hingga sang kepala suku pun akhirnya masuk Islam.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Ada lagi satu kisah, Ustadz Fadlan bersama rombongan dalam sebuah perjalanan dakwah diadang bahkan dikejar-kejar, sehingga berkali-kali gagal menuju sebuah kampung. Tapi, suatu ketika, kepala suku terkena sakit diare. Mereka panik dan mencari obat dari Ustadz Fadlan. Rombongan yang selalu didampingi tim medis pun berusaha membantu kepala suku. Alhamdulillah, ia sembuh.

Jalan untuk berdakwah pun akhirnya terbuka. Saat melihat Ustadz Fadlan beserta rombongan tengah menjalankan shalat, mereka pun bertanya, “Kenapa angkat tangan?” “Kita menyerahkan diri kepada Pencipta diri kita dan alam semesta ini,” jawab Ustadz Fadlan.

“Kenapa bongkok badan? ” tanyanya lagi (yang dimaksud ruku). “Supaya kita bisa melihat apa yang sudah diberikan Tuhan di bumi ini, untuk dilindungi dan dimanfaatkan sebaik mungkin,” begitulah penjelasan yang sederhana, justru memikat hati mereka. Sebuah strategi dakwah yang beradaptasi dengan bahasa kaumnya, sebagaimana diperintahkan dalam firman Allah Ta’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS Ibrahim:4)

Ngobrol bareng Ustadz Fadlan, sangat mengasyikkan. Begitu banyak kisahnya yang unik dan inspiratif. Dakwah itu tidak hanya membahas soal halal haram, juga harus bisa menggunakan pendekatan lingkungan, kesehatan, dan budaya setempat. Tak heran, Ustadz Fadlan dikenal Ustadz Sabun, karena ia memperkenalkan kebiasan mandi dengan sabun kepada banyak suku pedalaman.

Dalam berdakwah harus selalu ditujukan kepada dua kelompok, yaitu kepada orang yang belum beragama Islam, dan kaum Muslimin. Orang Islam pun harus dijaga akidahnya, sedangkan orang yang belum mengenal Islam, mereka harus diperkenalkan, dicerdaskan, dan dicerahkan dengan agama yang haq ini. Tugas ini tentu tidaklah mudah. Tapi, saya sepakat dengan pernyataan Ustadz Fadlan, tidak ada pekerjaan yang lebih bergensi kecuali berdakwah, karena, semua hidupnya didedikasikan untuk Allah dan Rasul-Nya.

Jika ada orang lain berusaha menghalangi dakwah kita, maka berbaik sangkalah. Jangan berprasangka buruk dulu. Kalau kita harus meyakinkan mereka, bahwa dakwah Islam bukan untuk mencelakakan, tapi mengajak orang untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat. Maka, rahmat dan pertolongan Allah senantiasa mengiringi orang yang berjuang di jalan Allah.

Ustadz Fadlan berhasil mengkader banyak mujahid dakwah dari tanah Papua. Beliau mendirikan Pesantren Nuu War di Bekasi, pada tahun 1994. Mereka bisa mengenyam pendidikan secara gratis. Dimulai dari sebuah rumah kecil dengan 5 orang santri, sekarang sudah berkembang menjadi lebih dari 600 oang santri di bawah Yayasan Al Fatih Kaffah Nusantara (AFKN). Lulusannya tersebar di mana-mana, kembali ke tanah kelahirannya, mengabdi dengan ragam profesi, ada yang menjadi tentara, guru, bidan, hingga menjadi ustadz.

Tanah Papua menjadi saksi perjalanan dakwah Ustadz Fadlan. Selain sebagai tanah kelahirannya, tanah yang lebih suka disebutnya dengan Nuu War, karena mengandung makna filosofis yang luhur. Nuu bermakna cahaya, Waar bermakna menyimpan rahasia alam. Nuu War itu bertujuan untuk membangun sebuah peradaban dengan pondasi mencerahkan, mencerdaskan, mengkaryakan, membangun, memandirikan, peduli, dan memanusiakan.

Agama Islam sudah lama dikenal di bumi Nuu War ini, dibawa oleh Sultan Iskandar Syah dari Samudra Pasai pada tahun 1204 M, jauh sebelum penyebaran agama Kristen pada tahun 1885 M. Perjalanan dakwah Sultan dimulai dari Malaysia, Solok, Filipina, Tidore, hingga tiba di negeri yang dulu dinamainya Irian. Tak kurang dari 12 kerajaan Islam berdiri di Tanah Cendrawasih ini.

Secara historis Irian sudah lama bersatu dengan Nusantara dan mendapat cahaya Islam. Karena itu, bumi Nuu War tidak bisa dipisahkan dengan Indonesia. “Kami dari bumi Nuu War ini, adalah saudara yang lebih dulu bangun dan melakukan shalat subuh mendoakan semua warga bangsa, terutama saudara kami yang berada di wilayah tengah dan barat Indonesia.” Inilah ungkapan seorang dai yang tidak pernah kehabisan energi dakwahnya untuk menebarkan rahmat di muka bumi ini.

Inilah bukti cahaya Islam telah menembus ke berbagai pelosok dunia, sebagaimana yang dinubuwatkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

إن ربى زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها، وأن ملك أمتي سيبلغ ما زوي لي منها، وأعطيت الكنزين الأحمر والأبيض

“Sesungguhnya Tuhanku telah melipat bumi untukku, maka aku bisa melihat ujung timur bumi dan ujung baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang dilipat untukku (seluruh muka bumi, sejak ujung timur hingga ujung barat). Aku juga dikaruniai dua perbendaharaan (kekayaan), yaitu perbendaharaan negeri merah (imperium Romawi) dan perbendaharaan negeri putih (imperium Persia). (HR. Abu Daud dari Tsauban RA.).*

Founder Al-Fahmu Institute & AFI MEDIA

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:daidakwahFadlan GaramatanIrian JayaIslam di PapuaNuu WaarPapua
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lagi, ‘Israel’ Menghancurkan Rumah-Rumah Dan Membakar Kebun Palestina
Tulisan selanjutnya Inilah Proses Sekularisasi di Kesultanan Utsmani [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Berita
13 Juli 2026 18:00
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?