Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

PTUN dan Pertaruhan Moeldoko: Partai Demokrat Pun Terus Digoyang

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Juni 2021 11:59 11:59 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Juni 2021 11:59
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Ibarat ikan, yang karena sesuatu sebab tepelanting ke daratan pantai, dan lalu menggelepar-gelepar mempertahankan hidup. Menggerak-gerakkan tubuhnya dengan keras, berharap bisa kembali ke air. Tiada yang tahu nasib ikan yang tergolek itu benar-benar mati, atau bisa bertahan karena keajaiban terseret lagi oleh ombak di tepi pantai.

Melihat Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat, Deli Serdang (5 Maret 2021), itu ibarat ikan yang menggelepar tadi, yang ingin tetap hidup. Meski setelah keberadaan hasil KLB ditolak Kemenkumham. Yassona Laoly, (31 Maret), yang mengumumkan bahwa yang sah adalah Partai Demokrat (PD), yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Mestinya peristiwa kudeta partai politik, atau dikenal pula sebagai begal politik, itu tidak boleh terjadi. Peristiwa memalukan itu tercatat dalam sejarah hitam kepartaian politik di Indonesia. Ketua Umum yang terpilih pada KLB itu adalah Jenderal (Purn) Moeldoko, yang juga menjabat sebagai Kepala Staf Kantor Presiden (KSP). Seseorang yang “berjarak” amat dekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Maka spekulasi mengatakan, mustahil Presiden Jokowi tidak tahu orang dekatnya itu bermanuver merebut PD. Hal aneh jika meninggalkan Presiden Jokowi tanpa izin, lalu melakukan perjalanan sampai ke Deli Serdang, Sumatera Utara.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Karenanya, penolakan Kemenkumham, atas hasil KLB PD itu, setidaknya ingin membuktikan bahwa Presiden Jokowi tidak ikut campur dengan permainan anak buahnya (Moeldoko) dalam merampas Partai Demokrat. Jika Presiden Jokowi merestui aksi yang dilakukan Moeldoko, maka skenarionya adalah diterimanya keabsahan PD hasil KLB itu. Setidaknya itu yang ingin digambarkannya.

Publik tetap membacanya tidak sesimpel atau sesederhana itu, lalu mempercayai bahwa Presiden Jokowi memang tidak tahu sama sekali soal itu, dan karenanya tidak “memerintahkan” Yasonna Laoly untuk mengesahkan hasil KLB PD itu. Publik bisa mempercayai jika memang benar ia tidak mengetahui, maka setidaknya ia akan menyingkirkan Moeldoko dari jabatannya, bahkan memberhentikan dengan tidak hotmat.

Tapi itu tidak dilakukan Presiden Jokowi, yang tetap memposisikan Moeldoko pada posisinya sebagai Kepala KSP, tetap menjadi orang dekatnya. Hal itu menjadi kejanggalan tersendiri, bagaimana seorang Presiden ditelikung anak buahnya pada peristiwa politik tidak biasa, dan dianggap paling memalukan dalam sejarah republik ini, dan ia menganggapnya bukan sesuatu.

Bagaimana mungkin partai politik bisa dikudeta oleh pihak di luar partai secara inkonstitusional, meski memakai beberapa orang yang pernah aktif sebagai pengurus partai masa lalu, dan memilih orang luar partai, Moeldoko, sebagai Ketua Umum. Disebut inkostitusional, karena KLB itu tidak mengacu pada AD/ART PD, yang dibuat dalam Kongres V PD, Jakarta, 2020.

Drama perebutan PD ini, bisa dibaca dalam beberapa tulisan penulis sebelumnya ( Mengurai “Kudeta 5 Maret” dengan Rumus St Agustinus, 7 Maret. Dan, Terhentilah Langkah Pak Moel, AHY Pemenang, Usai Sudah Kemelut Partai Demokrat, 1 April), yang menjelaskan perebutan partai itu dengan segala intriknya, yang semestinya berhenti dengan penolakan Kemenkumham atas keabsahan hasil KLB PD Deli Serdang. Lama tidak terdengar nasib PD hasil KLB, ternyata memilih bagai ikan yang menggelepar, tapi tetap bertahan ingin survive, dan itu dengan mendaftarkan menggugat peruntungannya pada PTUN Jakarta.

Apa yang dilakukan Moeldoko dengan mendaftarkan gugatannya pada Menkumham, itu punya konsekuensi serius yang sulit bisa diterima akal sehat. Bagaimana mungkin Moeldoko, kepala KSP, yang anak buah Presiden Jokowi melawan anak buah Jokowi lainnya, yaitu Yassona Laoly, Menkumham. Hal yang sulit dinalar, tapi ya itulah yang tampak dan yang akan berproses.

Apa Sebenarnya yang Terjadi

Partai Demokrat (PD) itu memang partai seksi. Partai kelas menengah, tapi punya daya tawar yang tinggi pada saatnya. Setidaknya itu perkiraan yang muncul, dan itu lebih tertuju pada 2024, saat Pemilihan Presiden (Pilpres) berlangsung.

Saat itu PD akan jadi partai penentu, yang karenanya jika ingin diredam itu hal yang wajar. Maka perebutan PD lewat KLB Deli Serdang, itu menjawab bagaimana partai ini ingin dilumpuhkan. Setidaknya itu analisa yang bisa dibaca, agak kasar cara yang dipertontonkan sehingga alur cerita tampak tidak berkelas, atau mudah dibaca jalan ceritanya.

Tampak grusa-grusu dan akhirnya yang muncul adalah alur cerita yang plot-plotnya tidak tersambung dengan rapi. Maka “pertempuran” di PTUN antara Presiden Jokowi (Moeldoko, Kepala KSP) versus Presiden Jokowi (Yasonna Laoly, Menkumham) itu hasil kerja tanpa koordinasi yang rapi.

Maka membaca itu semua akan memunculkan pertanyaan, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan koordinasi pada Kabinet Indonesia Maju ini, menjawabnya tidak sesederhana melihat hanya dalam koordnat tingkat kabinet.

 

Tapi lebih dari itu, yaitu pentingnya penguasaan atas  partai berlambang mercy itu. Penguasaan atas fisik partai guna sebagai kuda tunggangan pada Pilpres, atau justru partai itu dimandulkan agar tidak bisa memberi warna perlawanan pada perhelatan Pilpres 2024.

Semua kemungkinan seolah bisa dimungkinkan, dan pertaruhannya sampai pada tingkat “pertempuran” sesama anak buah Presiden. Hal absurd itu terpaksa mesti dtampakkan pada publik, karena tidak ada jalan lain bisa diikhtiarkan. Dan PTUN menjadi pertaruhan nasib PD itu. Semua kita akan diberi tontonan tidak mengenakkan, tapi suka tidak suka mesti ditonton.

Adakah “pertempuran”, itu jika disebut pertempuran, sebenarnya  melibatkan hubungan Megawati dengan Presiden Jokowi, yang diwakili Yasonna Laoly “petugas” partai (PDI-P) versus Jokowi, yang diwakili Moeldoko. Dalam konteks ini, Jokowi tidak pantas lagi disebut sebagai “petugas” partai, karena dinamikanya sudah berkembang, dan Partai Demokrat jadi pihak yang coba dijadikan mainan yang tidak seharusnya. Tentu AHY dan pasukannya tidak akan tinggal diam, akan melawan secara konstitusional. Dan itu dimungkinkan. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca: artikel lain Ady Amar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:MoeldokoPartai DemokratPTUN
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya China Gunakan Vaksin Covid-19 untuk Ancam Ukraina
Tulisan selanjutnya Politik untuk Ibadah, Bukan Sekedar untuk Berkuasa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun

Berita
27 Agustus 2026 15:03
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

Terbaru

  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?