Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Bual dan Mual, Dua Kata Bagai Long Hook yang Menghunjam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Juni 2021 09:59 9:59 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Juni 2021 09:59
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM-UI) memberi gelar pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak sembarang gelar, “The King of Lip Service” alias Raja Bual, itu gelar yang diberikan. Sungguh menohok, seperti petinju baru bel ronde pertama berbunyi, long hook BEM-UI diayun keras yang bisa membelalakkan seisi republik. Dan hook tadi persis menghantam rahang sang petinju, yang lalu tersungkur berdentam ke bumi.

Gelar yang diberikan BEM-UI  itu mencengangkan, di tengah terkesan apatisnya  mahasiswa selama ini melihat persoalan negeri. Tiba-tiba ayunan hook tadi seolah ingin menyampaikan pesan bantahan, bahwa kami tidak sedang benar-benar tidur apalagi pingsan. Mereka coba sampaikan pesan, bahwa sebenarnya kami cuma leyeh-leyeh, namun tetap mengamati keadaan yang ada.

Lalu muncullah gelar yang diberikan pada Presiden Jokowi itu. Tentu menyematkan gelar itu melalui pengamatan yang matang, dan itu tentang janji-janji Presiden Jokowi yang tidak ditepati. Dan lalu disodorkan data akan janji, misal kangen didemo, tapi saat ada demonstrasi Presiden Jokowi tidak pernah ada di istana, atau mengundang perwakilan pendemo untuk mendiskusikan tuntutan para pendemo.

Juga masalah Revisi UU ITE, Penguatan KPK tapi yang terjadi adalah pelemahan, itulah rentetan janji lainnya, Katanya begini, faktanya begitu. Hentikan membual yang bikin rakyat mual, begitu pesan yang disampaikan BEM-UI lewat unggahannya.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Kata “bual” dan “mual” dari BEM-UI itu adalah dua kata yang menyengat dan menyentak kesadaran. Dua kata bual atau membual dan mual, itu suara protes mahasiswa. Gerakan mahasiswa selalu menyuarakan suara rakyat kebanyakan, lalu di take over menjadi gerakan mahasiswa. Maka muncul pernyataan itu, bahwa “kami sudah bosan dengan bualan, dan kami sudah mual dengan itu”. Tentu dua kata yang dipakai mahasiswa itu, yang lalu melatarbelakangi pemberian gelar pada Presiden Jokowi.

Pihak Rektorat UI memanggil BEM-UI, lalu keluar pernyataan bahwa mereka tidak akan mencabut poster Presiden Jokowi dengan memakai mahkota. Itu artinya, gelar yang diberikan itu tidak akan dicabut. Para mahasiswa itu tentu punya perhitungannya sendiri. Sikap nekad, tapi itu pastinya sudah diperhitungkan matang.

Maka dukungan dari banyak pihak, khususnya kalangan yang selama ini menyuarakan keprihatinan atas arah pembangunan negeri ini tidak sedikit, diantaranya Faisal Basri, ekonom yang juga mantan staf pengajar UI.

Tapi yang keberatan pun ada, dan itu diwakili Ade Armando, yang mengecilkan aksi mahasiswa itu dengan pernyataan tidak sewajarnya. Ade katakan, bahwa ketua umum BEM-UI itu aktivis HMI, pernyataan provokatif, memangnya kenapa? Juga mengatakan, bahwa mahasiswa yang ada di BEM-UI, itu jangan-jangan mahasiswa yang masuk ke UI karena nyogok. Ini sih pernyataan keterlaluan dan menghina UI, di mana ia juga mengajar sebagai dosen di sana. Aneh sikapnya.

Bual dan Mual yang Menohok

“Kami sudah bosan dengan bualan, dan kami sudah mual dengan itu”. Dua kata bual dan mual menjadi kekuatan menohok. Dan itu tentang ketidakpercayaan kaum intelektual mahasiswa, yang menyerap suara rakyat yang tersekat ditenggorokkan. Atau bahkan suara rakyat yang tak mampu mendefinisikan sebenarnya apa yang sedang terjadi.

Seolah dua kata tadi mewakili informasi lain yang tidak searah dengan informasi yang dibangun istana selama ini untuk menutup kelemahan memenej negeri hampir di seluruh aspek. Dua kata tadi lalu menjadi semacam petunjuk agar suara yg tersekat ditenggorokan, dan lalu menginformasikan hal sebaliknya.

Dua kata tadi adalah bentuk protes, bahwa bual atau membual itu mestinya tabu keluar dari mulut pemimpin negeri. Apalagi dilakukan tidak cuma sekali. Bual itu tidak sekadar bermakna omong kosong, tapi itu menyangkut trust, kepercayaan. Jika itu dilakukan berulang, maka rasa “mual” akan muncul dengan sendirinya.

Pesan dua kata itu bentuk kritik atau protes, dan itu lewat tulisan. Tapi mampu menggerakkan kesadaran awal, setidaknya melawan informasi searah yang terus diperdengarkan bagai suara penyanyi merdu. Maka suara protes itu, yang dimulai dari UI, tidak mustahil akan diikuti oleh gerakan mahasiswa di Perguruan Tinggi lainnya dengan tingkat kreativitas yang lain. Bisa jadi itu isyarat perlawanan mahasiswa dimulai.

Maka upaya membungkam ikhtiar mahasiswa yang melakukan protes dengan memberikan gelar tidak mengenakkan pada Presiden Jokowi, itu coba diredam dengan segala upaya. Itu agar api kecil tidak menyambar ke mana-mana. Muncullah Ade Armando, yang bangga menyebut diri sebagai buzzer menyerang aksi BEM-UI itu.

Api kecil yang coba dipadamkan itu, jika cara memadamkannya salah, maka tidak mustahil api itu justru akan membesar dan menjadi gerakan massa yang sulit diperhitungkan. Sejarah terus berulang, dan biasanya tanpa disadari oleh penguasa. Orde Lama dan Orde Baru pun tumbang, meski tanpa dimulai dengan kata “bual”, tapi itu pun sudah cukup menjadikan civil society mual, seluruh komponen bangsa bergerak menggulingkannya. Sejarah acap tidak menjadi guru yang baik bagi mereka yang sedang berkuasa, dan itu bagai bandul yang bergerak pada tutik yang sama. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca: artikel lain Ady Amar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BEM UImahasiswaPresiden Joko Widodo
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 28 kedua Kekebalan Vaksinasi Penolak Vaksin Bakal Dikenai Denda, PKS: Justru Pemerintah Memasifkan Edukasi dan Penyadaran Publik untuk Sadar Prokes dan Vaksin
Tulisan selanjutnya perkembangan teknologi Targetan 1 Juta Nasabah, BSI Perkuat Kualitas Layanan Perbankan Syariah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Berita
13 Juli 2026 06:00
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?