Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com | Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM-UI) memberi gelar pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak sembarang gelar, “The King of Lip Service” alias Raja Bual, itu gelar yang diberikan. Sungguh menohok, seperti petinju baru bel ronde pertama berbunyi, long hook BEM-UI diayun keras yang bisa membelalakkan seisi republik. Dan hook tadi persis menghantam rahang sang petinju, yang lalu tersungkur berdentam ke bumi.
Gelar yang diberikan BEM-UI itu mencengangkan, di tengah terkesan apatisnya mahasiswa selama ini melihat persoalan negeri. Tiba-tiba ayunan hook tadi seolah ingin menyampaikan pesan bantahan, bahwa kami tidak sedang benar-benar tidur apalagi pingsan. Mereka coba sampaikan pesan, bahwa sebenarnya kami cuma leyeh-leyeh, namun tetap mengamati keadaan yang ada.
Lalu muncullah gelar yang diberikan pada Presiden Jokowi itu. Tentu menyematkan gelar itu melalui pengamatan yang matang, dan itu tentang janji-janji Presiden Jokowi yang tidak ditepati. Dan lalu disodorkan data akan janji, misal kangen didemo, tapi saat ada demonstrasi Presiden Jokowi tidak pernah ada di istana, atau mengundang perwakilan pendemo untuk mendiskusikan tuntutan para pendemo.
Juga masalah Revisi UU ITE, Penguatan KPK tapi yang terjadi adalah pelemahan, itulah rentetan janji lainnya, Katanya begini, faktanya begitu. Hentikan membual yang bikin rakyat mual, begitu pesan yang disampaikan BEM-UI lewat unggahannya.
Kata “bual” dan “mual” dari BEM-UI itu adalah dua kata yang menyengat dan menyentak kesadaran. Dua kata bual atau membual dan mual, itu suara protes mahasiswa. Gerakan mahasiswa selalu menyuarakan suara rakyat kebanyakan, lalu di take over menjadi gerakan mahasiswa. Maka muncul pernyataan itu, bahwa “kami sudah bosan dengan bualan, dan kami sudah mual dengan itu”. Tentu dua kata yang dipakai mahasiswa itu, yang lalu melatarbelakangi pemberian gelar pada Presiden Jokowi.
Pihak Rektorat UI memanggil BEM-UI, lalu keluar pernyataan bahwa mereka tidak akan mencabut poster Presiden Jokowi dengan memakai mahkota. Itu artinya, gelar yang diberikan itu tidak akan dicabut. Para mahasiswa itu tentu punya perhitungannya sendiri. Sikap nekad, tapi itu pastinya sudah diperhitungkan matang.
Maka dukungan dari banyak pihak, khususnya kalangan yang selama ini menyuarakan keprihatinan atas arah pembangunan negeri ini tidak sedikit, diantaranya Faisal Basri, ekonom yang juga mantan staf pengajar UI.
Tapi yang keberatan pun ada, dan itu diwakili Ade Armando, yang mengecilkan aksi mahasiswa itu dengan pernyataan tidak sewajarnya. Ade katakan, bahwa ketua umum BEM-UI itu aktivis HMI, pernyataan provokatif, memangnya kenapa? Juga mengatakan, bahwa mahasiswa yang ada di BEM-UI, itu jangan-jangan mahasiswa yang masuk ke UI karena nyogok. Ini sih pernyataan keterlaluan dan menghina UI, di mana ia juga mengajar sebagai dosen di sana. Aneh sikapnya.
Bual dan Mual yang Menohok
“Kami sudah bosan dengan bualan, dan kami sudah mual dengan itu”. Dua kata bual dan mual menjadi kekuatan menohok. Dan itu tentang ketidakpercayaan kaum intelektual mahasiswa, yang menyerap suara rakyat yang tersekat ditenggorokkan. Atau bahkan suara rakyat yang tak mampu mendefinisikan sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Seolah dua kata tadi mewakili informasi lain yang tidak searah dengan informasi yang dibangun istana selama ini untuk menutup kelemahan memenej negeri hampir di seluruh aspek. Dua kata tadi lalu menjadi semacam petunjuk agar suara yg tersekat ditenggorokan, dan lalu menginformasikan hal sebaliknya.
Dua kata tadi adalah bentuk protes, bahwa bual atau membual itu mestinya tabu keluar dari mulut pemimpin negeri. Apalagi dilakukan tidak cuma sekali. Bual itu tidak sekadar bermakna omong kosong, tapi itu menyangkut trust, kepercayaan. Jika itu dilakukan berulang, maka rasa “mual” akan muncul dengan sendirinya.
Pesan dua kata itu bentuk kritik atau protes, dan itu lewat tulisan. Tapi mampu menggerakkan kesadaran awal, setidaknya melawan informasi searah yang terus diperdengarkan bagai suara penyanyi merdu. Maka suara protes itu, yang dimulai dari UI, tidak mustahil akan diikuti oleh gerakan mahasiswa di Perguruan Tinggi lainnya dengan tingkat kreativitas yang lain. Bisa jadi itu isyarat perlawanan mahasiswa dimulai.
Maka upaya membungkam ikhtiar mahasiswa yang melakukan protes dengan memberikan gelar tidak mengenakkan pada Presiden Jokowi, itu coba diredam dengan segala upaya. Itu agar api kecil tidak menyambar ke mana-mana. Muncullah Ade Armando, yang bangga menyebut diri sebagai buzzer menyerang aksi BEM-UI itu.
Api kecil yang coba dipadamkan itu, jika cara memadamkannya salah, maka tidak mustahil api itu justru akan membesar dan menjadi gerakan massa yang sulit diperhitungkan. Sejarah terus berulang, dan biasanya tanpa disadari oleh penguasa. Orde Lama dan Orde Baru pun tumbang, meski tanpa dimulai dengan kata “bual”, tapi itu pun sudah cukup menjadikan civil society mual, seluruh komponen bangsa bergerak menggulingkannya. Sejarah acap tidak menjadi guru yang baik bagi mereka yang sedang berkuasa, dan itu bagai bandul yang bergerak pada tutik yang sama. (*)
Kolumnis, tinggal di Surabaya
Baca: artikel lain Ady Amar