oleh: Arif Wibowo
Hidayatullah.com | BAGI yang sudah terbiasa keluyuran ke lapangan, ke desa-desa rawan konversi keagamaan dari Islam ke Kristen, Katolik atau Buddha (di seputaran Merapi-Merbabu), saya yakin akan paham bahwa pemurtadan itu lebih dikarenakan oleh proses politis, ekonomis dan sosiologis, bukan teologis. Paling banyak trauma politik pasca konflik tahun 1965 antara santri dengan PKI.
Kemudian melalui pendampingan ekonomi, bantuan pendidikan dan yang paling banyak faktor perkawinan. Oleh karena itu, sebenarnya agak salah alamat bila kemudian titik tekan pemberontak terhadap gerakan kristenisasi itu adalah kristologi.
Titik tekan pada kristologi ini menjadikan gerakan pemberontak terhadap kristenisasi itu ditumpukan kepada para mualaf mantan Kristen. Hal ini memang tidak sepenuhnya bisa disalahkan, karena memang ada sebagian denom Kristen, yang kerjaannya mendistorsi ajaran Islam dan menjajakannya ke komunitas muslim mirip orang jualan gorengan keliling.
Mengapa menjadikan ujung tombak dakwah pemberontak kristenisasi dengan Kristologi ala mualaf ini beresiko? Karena Kristen adalah organized religion dalam pengertian sebenarnya.
Seorang Kristen itu hanya bernaung dalam sebuah gereja, akibatnya ketika ia masuk Islam, dan langsung dipanggungkan, ia akan menyerang teologi Kristen sebagaimana yang dipahaminya dulu. Padahal, untuk Protestan misalnya, kata pendeta Jan Aritonang, lebih kurang ada 400 aliran gereja dan 800 organisasi non-gereja, yang varian pemahamannya pada banyak hal berbeda satu sama lain.
Dalam bidang penginjilan, kata Dr Alwi Shihab setidaknya ada dua pandangan, evangelis dan ekumenis. Gereja evangelis ini pandangannya eksklusivis.
Penginjilan, baginya ditujukan untuk memperbesar gerejanya, mengkonversi orang supaya bergabung ke gerejanya. Baik itu orang dari agama lain (Islam, Hindu, Budha, Kong Hu Cu) ataupun orang Kristen yang beda gerejanya.
Jadi fenomena Yusuf Roni, M. Kace bahkan rebutan umat di internal Kristen, pelakunya ya gereja-gereja evangelis ini. Ada gereja yang punya sales jalanan bahkan ada gereja yang mendidik setiap umatnya untuk jadi sales.
Teman Kristen saya yang selama ini menjalin relasi baik dengan rekan beragama lain, mengeluh karena mendapat label Kristen liberal. Ada juga rekan Katolik saya yang ta’at tapi dikenal ramah ke semua orang mengeluhkan hal serupa.
“Saya ini kalau ke teman muslim malah nggak pernah ada masalah, yang sering bikin masalah itu malah tetangganya yang dari gereja “A”, kalau ketemu hobinya bicara keburukan sejarah Katolik, kesalahan teologi dan hal serupa,” katanya.
Mungkin nggak jauh beda ketika ada orang salafi atau MTA ketemu orang NU yang mau berangkat tahlilan.
Selain evangelis, menurut Alwi sihab, ada juga kelompok Oikumenis. Sebenarnya gerakan ini awalnya ditujukan untuk mengatasi kepelbgaian aliran gereja dalam Kristen. Meski kata Iswara Rintis, ada beberapa aliran dalam gerakan ini.
Yaitu aliran yang menginginkan kembali unifikasi gereja, yang menginginkan gerekan ini hanya untuk internal Protestan saja dan ada juga yang sudah liberal dan berpaham pluralisme agama. Setidaknya, penginjilan langsung ala Kristen evangelis tidak dilakukan oleh kelompok ini. Relasi keluar kristen lebih banyak berupa pelayanan atau diakonia.
Nah, dari pengamatan saya juga (yang punya pengalaman lain silakan cerita), kebanyakan mantan Kristen yang galak itu banyak yang berasal dari kelompok evangelis ini. Kelompok ini dianggap hobi jualan teologi dan mu’jizat.
Akibatnya, ketika sudah masuk ke agama Islam, ketika bicara dakwah, ia bicara sebagaimana penginjilan yang dilakukan gerejanya. Dakwah Islam itu sebangun dengan misionarisme Kristen evangelis. Di sinilah distorsi pandangan terjadi dan tak jarang mengakibatkan ketegangan di tengah masyarakat.
Distorsi itu kadang malah mengkerdilkan psikologi umat Islam sendiri, sebab tema kajiannya saja sudah bikin serem, “Waspada Kristenisasi”, “Bahaya Pemurtadan” dan sejenisnya. Pilihan katanya lebih mencerminkan paranioa bukan optimisme dakwah.
Hal yang berbeda, saya jumpai setelah blusukan di banyak kampung, kesimpulan saya, dakwah berkembang di wilayah yang titik tekan gerak ada pada pendampingan umat Islam. Baik secara kegiatan keagamaan, ekonomi dan sosial.
Pelakunya beragam kalangan, mulai dari para profesional, seperti MCKS Semarang yang dimotori para dokter dan teman-teman dari Muhammadiyah. Ada sarjana yang balik kampung seperti mas Ihsan di Selo.
Ada juga yang lulusan SMP seperti Mas Bro yang pernah saya tulis. Mereka bahkan awam di bidang Kristologi. Mereka berhasil karena mereka aktif bergerak di dunia riel, mendampingi masyarakat.
Lalu apakah kristologi tidak perlu? Tentu masih diperlukan.
Saya masih ingat kisah yang dituturkan Ahmad Deedat, mengapa ia menulis buku The Choice. Buku itu disusun untuk menghadapi para penginjil jalanan yang setiap hari nyales agama ke rumahnya.
Namun, The Choice itu hanya permulaan. Kajian Islamologi di kalangan penginjil sudah makin canggih, sehingga umat butuh kajian Kristologi yang lebih akademik.
Perbandingkan kajian teks agama lain yang lebih serius. Dan alhamdulillah, kajian ini sudah banyak dilakukan. Karena kristologi akademik, maka debat yang terjadi lebih elegan, tidak dengan bahasa kebencian.
Selain itu, saya juga ketemu model dakwah oleh mualaf dalam bentuk yang berbeda, yakni mantan penginjil yang aktif membina umat di daerah-daerah marginal. Bukan mengajar kristologi, tapi mengajar ngaji dan melakukan pemberdayaan sumber daya manusia.
Mereka bergerak senyap, tanpa panggung di kampung-kampung rawan konversi keagamaan. Oleh karena itu, wajah para mualaf ini tidak bisa digebyah uyah atau dipukul rata. Ada yang galak, ada yang ramah, yang cantik juga ada .. #eh.*
Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam, Solo. Artikel diambil dari Facebook yang bersangkutan