Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Oligarki Sempurna

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Juni 2022 21:32 9:32 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Juni 2022 21:55
Bagikan
Bagikan

Dalam terminologi kekuasaan,  ada sebuah persekongkolan yang menjadi contoh bagi oligarki sempurna, dimana masing-masing aktor bahu-membahu

Oleh: Asih Subagyo |

Hidayatullah.com | DALAM Surah Al-Hijr Ayat 1, Allah ta’ala menegaskan bahwa Al-Quran adalah kitab yang sempurna. Di mana dalam berbagai tafsir secara implisit menjelaskan bahwa Al-Quran adalah kitab yang paling lengkap isinya dan membenarkan serta menyempurnakan kitab-kitab lain yang pernah diturunkan kepada para Rasul. Sehingga, sebagai salah satu mukjizat yang diberikan Allah SWT, kepada Nabi Muhammad ﷺ, al-Qur’an merupakan kitab suci yang memiliki banyak keistimewaan dan keutamaan. Salah satunya adalah tuntunan sejarah masa lalu dan menjadi ikutan sampai dengan akhir zaman kelak.

Berbicara tentang sejarah, maka membicarakan tentang sejarah kekuasaan menjadi sesuatu yang menarik. Dan sejarah kekuasaan yang menonjol, diantara berbagai sejarah lainnya, adalah beekenaan dengan kekuasaan dari Fir’aun.

Sebab saat Fir’aun berkuasa, dia tidak sendirian. Ternyata ada tokoh, yang kemudian dapat dipersonifikasikan sebagai entitas/kelompok pendukung, yang kemudian menjadi penopang kekuasaannya itu.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Aktor-aktor tersebut, bekerja secara bersama-sama, bersekongkol, kong-kalikong, untuk membangun sekalis menunjukkan eksistensi kekuasaannya, hingga mempertahankan kekuasaanya dengan menghalalkan berbagai cara. Bahkan tak segan mengintimidasi rakyat, menindas, mengancam, menekan, mempersekusi dan sejumlah diksi sejenis lainnya.

Demikian halnya termasuk memenjarakan dan menghilangkan nyawanya, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cara-cara kejam dan licik dilakukan. Tidak segan meeka berbohong, menipu, culas, untuk menarik hati rakyat, pada saat yang bersamaan berperilaku dzalim hanya untuk memenuhi hasrat dirinya dan kelompoknya yang tamak dan rakus. Rakus harta dan gila kekuasaan.

Al-Qur’an sebagai referensi utama umat Islam, dan juga petunjuk bagi manusia (hudan linnas), dengan sangat cermat dan teliti serta runut mencatat sekaligus menginformasukan realitas itu semua. Bukan untuk dicontoh. Akan tetapi hal tersebut sepatutnya menjadi ibrah, menjadi pelajaran bahwa kekuasaan yang dzalim dan absolut, beserta para pendukungnya itu, pada saatnya pasti hancur.

Keruntuhan dan kehancurannya itu, bisa berasal dari luar lingkaran kekuasaannya. Dan tidak jarang juga berasal dari dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri.

Empat aktor sentral

Dalam terminologi kekuasaan, maka ada sebuah persekongkolan yang menjadi contoh bagi oligarki sempurna itu. Di mana masing-masing aktor yang ada, bahu-membahu, bekerjasama yang menurut mereka demi kebaikan, akan tetapi senyatanya itu merupakan model dari keburukan dan kejahatan yang sangat nyata. Sejarah mencatatnya hingga kini.

Fir’aun sebagai pemimpin politik militer pada zamannya tidaklah berdiri sendiri. Untuk menopang kekuasaannya, penguasa yang tercatat hitam dalam sejarah Al Qur’an ini berkoalisi dengan Qarun yang menguasai sektor ekonomi.

Fir’aun juga didukung oleh seorang teknokrat handal bernama Haman. Selain sebagai penasehat, berbagai urusan pemerintahan Fir’aun diurus oleh Haman ini. Bahkan Fir’aunpun berkoalisi dengan elit spiritual bernama Bal’am agar kekuasaannya tetap bertahan. Dan mereka berkomplot untuk menentang Nabi Musa a.s.

Aktor-aktor tersebut mengambil peran dan merupakan simbol dari kepentingan yang dibawanya. Dalam konteks ini, aktor yang dimaksud adalah :

Pertama, Fir’aun sebagai simbol kekuasaan, militer dan kesombongan. Selain itu dia merupakan simbol kezaliman penguasa sepanjang masa. Dalam dirinya terkumpul kesombongan dan keengganan menerima kebenaran, kesesatan dalam akidah, dan kezaliman yang paling tinggi. Kebejatan yang kumplit.

Untuk itu tak segan Fir’aun mengeluarkan kebijakan yang kontroversial: (1) mengangkat dirinya sebadai pengusaha tertinggi setingkat tuhan, (2) menghabisi semua bayi laki-laki Bani Israil, (3) kebijakan menentang kebenaran yaitu Syariat Allah, (4) kebijakan pembawa kebenaran yaitu Nabi Musa a.s, (5) mengumpulkan kekuatan dengan berbagai cara untuk mempertahankan kekuasaannya.

Ketika Allah dirasa terus memberi dunia kepada orang-orang yang dzalim, sesungguhnya Allah hendak menyesatkannya sampai jauh, hingga ia sampai pada titik tidak bisa lagi kembali untuk mendapat petunjuk. Allah mencabut nyawa Fir’aun saat tobatnya sudah tak lagi diterima, sesaat sebelum ditenggelamkan Allah di laut Merah.

Kisah Musa Vs Fir’aun yang bertebaran diberbagai surah Al Qur’an, hal ini menunjukkan bahwa kebenaran dan kebatilan terus ada hingga kiamat. Musa disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 136 kali, sedang Fir’aun disebut 74 kali.

Kedua, Haman sebagai simbol teknokrat dan kecurangan. Ia sosok politisi dan pejabat yang melacurkan iman dan ilmunya untuk jabatan dan materi.

Sebagai teknokrat, Fir’aun memberinya posisi penting sebagai menteri segala urusan, dengan kelicikan dan kecurangan yang kasat mata. Yang paling monumental adalah sebagai pelaksana proyek pembangunan menara langit yang akan digunakan Fir’aun untuk melihat Tuhannya Musa.

Unjuk eksistensi bahwa Fir’aun memang layak jadi tuhan. Pembuatan menara itu melibatkan 50.000 pekerja. Di atas menara itu, Fir’aun menembakkan panah dari puncak menara untuk mengalahkan Tuhannya Musa.

Tidak hanya sebatas soal urusan infrastruktur, Haman jugalah yang membisiki Fir’aun untuk menolak misi dakwah Islam yang dibawa nabi Musa. Musa adalah seorang nabi yang membawa agama Allah dan mengajak Fir’aun agar kembali ke jalan yang lurus, namun oleh Haman dibisiki agar ditolak dengan berbagai fitnah dan framing jahat.

Fir’aun mencoba membohongi Musa bahwa Tuhannya telah mati dengan menunjukkan anak panahnya yang telah dilumuri darah. Hamanlah yang membuat Fir’aun menolak misi risalah Musa. Haman pun berakhir hidupnya mengenaskan bersama kesetiaannya kepada Fir’aun, tenggelam bareng di laut Merah.

Haman di catat dalam al-Qur’an, masing-masing terdapat pada Al Qashash (28) ayat 6, 8, dan 38; surah Al-Ankabut (29) ayat 39; dan surah Al Mu’min (40) ayat 24 dan 36.

Ketiga, Qorun sebagai simbol kekayaaan dan keserakahan, Qarun adalah gambaran sosok kapitalis rakus dan konglomerat jahat yang hidupnya hanya untuk menumpuk-numpuk harta, bahkan dari jalan yang haram sekalipun. Qarun sering mengambil harta dari Bani Israel dan dia memiliki ribuan gudang harta melimpah ruah, penuh berisikan emas dan perak.

Begitu kayanya Qarun, sehingga kunci-kunci harta bendanya harus dipikul oleh beberapa orang yang kekar, terlalu berat untuk dibawa oleh satu orang.

Namun sayang, setelah kaya raya, Qorun menjadi sombong dan menggunakan hartanya dalam kesesatan dan mendukung kezaliman. Tak hanya durhaka pada Allah, dia pun mengkhianati Nabi Musa, membela Fir’aun.

Qorun pun mati tertimbun ke dalam tanah beserta seluruh hartanya. Kisah Qarun dalam Al-Quran dapat ditemukan pada surah al-Qashash [28] ayat 67-83.

Keempat, Bal’am sebagai simbol ulama penjilat dan kekerasan, Bal’am merupakan ahli hikmah dan spiritual yang terpaksa mencegah Nabi Musa datang ke kotanya atas perintah sang raja. Sebagai Ahli agama dia melacurkan iman dan ilmunya untuk dunianya dan dunia orang lain (penguasa).

Semula ia adalah pengikut Nabi Musa yang ditugaskan untuk mendakwahi penduduk Madyan dan membuka jalan bagi masuknya risalah. Namun kemewahan dunia yang ditawarkan penguasa Madyan membuatnya gelap.

Ketika doanya tak lagi dikabulkan Allah Swt, akhirnya, ia  pun mencegah kedatangan Nabi Musa dengan memprovokasi penduduk Madyan untuk memberi sambutan kemewahan dunia bagi rombongan Nabi Musa. Sambutan ini ternyata membuat banyak pengikut Nabi yang terlena. Kehidupan di Madyan pun menjadi liar.

Sejarah mencatat, Bal’am mati bersama wabah thoun yang melanda Madyan. Bal’am dicatat dalam Al-Qur’an sebagai manusia sesat dan menggonggong seperti anjing sebagaimana dalam surat al-A’raf 174-177.

Akhir sebuah cerita

Maka, sempurnalah kekuasaan Fir’aun yang ditopang oleh para budak politik, teknorat, ekonom, konglomerat dan tokoh spiritual yang dipersonifikasikan oleh Qorun, Haman dan Bal’am. Keempat aktor itu adalah gambaran koalisi kejahatan yang melahirkan oligarki sempurna dan merusak peradaban manusia pada zamannya.

Bukan hanya kezaliman yang dimurkai Allah, bahkan Fir’aun mengaku dirinya tuhan seraya menolak ajakan dakwah nabi Musa.

Namun, pada akhir cerita, peradaban kerajaan Fir’aun toh runtuh juga karena bencana alam, yakni ditelan gelombang laut yang telah dikehendaki oleh Allah sebagai balasan atas kezaliman dan kesombongannya. Sebelumnya, kerajaan Fir’aun juga diserang oleh wabah jutaan kodok yang meliputi seluruh sudut kerajaan Fir’aun.

Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa sejarah telah mencatat, sekuat apapun kekuasaan sebuah, sesempurna apapun sebuah oligarki, yang dalam kalkulasi manusia seolah tidak mungkin akan jatuh, jika berlawanan dengan kodrat dan fitrah kemanusiaan apalagi melanggar syariat Allah ta’ala, pasti akan hancur dan binasa. Cepat atau lambat. Dan itu mewakili siapapun juga yang memiliki sifat, karakter dan tabiat sebagaimana empat aktor di atas.

Banyak cara sebagai pemicunya. Bisa berupa bencana alam, dan berbagai  faktor eksternal lainnya. Dan tidak menutup kemungkinan adalah disebabkan oleh pertikaian mereka dari dalam sendiri, bersebab dari berebut pengaruh, kekuasaan, harta dan lain sebagainya. Wallahu a’lam.*

Peneliti di Hidayatullah Institute

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kekuasaanKekuasaan Fir’aunoligarki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Massa Membakar Spanduk Gambar Khomeini di Iran
Tulisan selanjutnya Asadullah Haroon Dibebaskan dari Guantanamo setelah 15 Tahun Ditahan di Luar Proses Hukum

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

DPR RI Komisi IV
Berita

DPR Kecam Dugaan Promosi Miras Pakai Ayat Alquran, Belajar dari Kasus Holywings

Berita
13 Agustus 2026 16:00
Ratusan Pemukim ‘Israel’ Nodai Masjidil Aqsha, Lakukan Ritual Yahudi
Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
Sembilan Tokoh Bersatu, Majelis Arah Indonesia Gelar Pleno Perdana di Al Azhar
‘Israel’ Masih Tahan Ratusan Syuhada Palestina untuk Dijadikan “Alat Tawar”

Terbaru

  • Mantan Profesor Cambridge di Pusaran Tuduhan Plagiarisme Ditemukan Tak Bernyawa
  • Prancis Desak Israel Tangkap Pemukim Yahudi yang Memblokade Rumah Warga Palestina di Qusra
  • PDRM Buru Sindikat Narkoba Terkait Pilot Malaysia yang Ditangkap di Bandara Soetta
  • Mahkamah Konstitusi Prancis Tidak Meloloskan Larangan Media Sosial Bagi Anak
  • Kibarkan Bendera Palestina, Ratusan Warga Yunani Hadang Kapal Pesiar Wisatawan ‘Israel’
  • 70 Ribu Warga Palestina Hadiri Shalat Jumat di Masjidil Aqsha, Ribuan Datang Sejak Subuh
  • Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
  • Ratusan Pemukim ‘Israel’ Nodai Masjidil Aqsha, Lakukan Ritual Yahudi
  • ‘Israel’ Kembali Langgar Gencatan Senjata, Bunuh Kepala Polisi Gaza
  • Lima Strategi PBNU untuk Wujudkan Pesantren Aman

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?