Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pendidikan Berkarakter atau Berakhlak? [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Maret 2015 13:01 1:01 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Maret 2015 12:46
Bagikan
Foto sekelompok anak SD yang sedang berjalan di atas trotoar melewati seorang pengemis. Salah satu anak mengacungkan jari tengah ke arah pengemis. Inilah contoh kegagalan pendidikan. Foto ini sempat menjadi pembicaraan netizen di Barat (ilustrasi)
Bagikan

Oleh: Syahrullah Asyari

BELAKANGAN ini, hangat dibicarakan tentang karakter. Sebenarnya ada apa dengan karakter? Apakah karena karakter dan akhlak itu sama saja?

Dalam tulisan ini, saya membedakan istilah ‘karakter’ dan ‘akhlak’. Tidak banyak yang menelusuri apa sebenarnya makna kedua kata tersebut.

Banyak yang hanya sekilas memandangnya, lalu berkesimpulan bahwa kedua kata itu bermakna sama. Saya sendiri tidak setuju dengan penggunaan istilah karakter, apalagi dimasukkan dalam konteks pendidikan, lalu disebut pendidikan karakter. Mengapa? Alasannya adalah sebagai berikut.

Pemikir dan pengusung terminologi pendidikan karakter kontemporer, Thomas Lickona, adalah seorang sekuler–liberal. Sejak tahun 1990-an terminologi ini mulai ramai dibicarakan. Melalui karyanya yang berjudul, ‘The Return of Character Education’, Thomas Lickona menyadarkan dunia Barat secara khusus di mana tempat Lickona hidup, dan seluruh dunia pendidikan secara umum bahwa pendidikan karakter adalah sebuah keharusan. Inilah awal kebangkitan ‘pendidikan karakter’. Namun demikian, pemikirannya tentang pendidikan karakter sangat keliru.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Thomas Lickona membedakan secara tegas antara pendidikan agama dan pendidikan karakter. Menurutnya, pendidikan karakter dan pendidikan agama mestinya dipisahkan dan tidak dicampuradukkan.

Tuturnya lagi, agama bukanlah urusan sekolah negeri, sementara pendidikan karakter tidak ada urusan dengan ibadah dan do’a-do’a yang dilakukan di dalam lingkungan sekolah, atau tidak ada urusan dengan promosi anti-aborsi oleh kalangan agama tertentu, atau tidak ada urusan dengan penerapan ajaran-ajaran liberal dalam diri anak didik.

Baginya, agama memiliki pola hubungan vertikal antara seorang pribadi dengan keilahian (individu dengan ilahi), sedangkan pola hubungan pendidikan karakter adalah horizontal antarmanusia di dalam masyarakat (individu dengan individu lain).

Karenanya, menurut Lickona, jika sebuah masyarakat mau hidup dan bekerja secara damai, maka nilai yang berkaitan dengan pendidikan karakter merupakan nilai-nilai dasar yang harus dihayati. Lebih lanjut tuturnya, bahwa nilai-nilai seperti kebijaksanaan, penghormatan terhadap yang lain, tanggung jawab pribadi, perasaan senasib sependeritaan, pemecah konflik secara damai, merupakan nilai-nilai yang mestinya diutamakan dalam pendidikan karakter.

Pandangan Lickona ini didasarkan pada pendapat filsuf Yunani, Aristoteles, yang menyatakan bahwa “… good character as the life of right conduct – right conduct in relation to other persons and in relation to oneself.”

Padahal dalam konteks ajaran Islam, pemisahan pendidikan agama (Islam) dan pendidikan karakter (baca: pendidikan akhlak) dalam lembaga pendidikan patut dipertanyakan keshahihannya. Sebab, jika pemisahan itu terjadi, maka pendidikan karakter yang dijalankan itu ‘memungkinkan’ terjadinya pertentangan dengan prinsip pendidikan Islam, yaitu tauhid. Berdasarkan konsep tauhid uluhiyyah, seorang muslim tidak boleh mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman.

Maksudnya, mereka tidak boleh mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan. Dengan pemaknaan pendidikan karakter seperti yang dikemukakan Thomas Lickona, maka dengan alasan kebijaksanaan, penghormatan terhadap yang lain, toleransi dan tanggung jawab pribadi, maka seorang Muslim bisa saja mengadakan kemusyrikan umum melalui upacara tolak bala seperti larung laut, larung sesaji untuk setan laut. Mungkin juga, seorang muslim turut serta merayakan natal dan tahun baru dan sebagainya. Intinya, dengan pandangan Lickona ini, seorang muslim bisa saja dianggap berkarakter baik, sekalipun ia seorang yang melakukan perbuatan syirik. Ini jelas bertentangan dengan prinsip pendidikan Islam. Ini adalah bentuk akhlak paling tercela, kezhaliman terbesar karena melanggar hak Allah ‘azza wajalla sebagai satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi secara benar.

Sebenarnya, kalau pemerintah ingin konsisten mengikuti undang-undang, mestinya tidak perlu ikut-ikutan menggunakan istilah Thomas Lickona, ‘character education’ yang kemudian populer disebut ‘pendidikan karakter’ di Indonesia. Hal ini karena dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah agar peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.”

Jelas, salah satu tujuan pendidikan nasional kita adalah berakhlak mulia. Mengapa kita tidak konsisten saja terhadap penggunaan frase ini dalam proses pendidikan, lalu menyebutnya sebagai ‘pendidikan akhlak’ yang tentu berangkat dari ajaran agama. Mengapa justru cenderung pada penggunaan istilah ‘pendidikan karakter’ oleh Thomas Lickona yang sebenarnya hanya didasarkan pada pendapat filsuf Yunani, Aristoteles. Seorang yang tidak beragama (ateis) yang tidak dibimbing melalui wahyu.

Kalau kita telusuri asal kata, ‘karakter’ dan ‘akhlak’, memang sangatlah berbeda. Sehingga maknanya pun berbeda. Kalau ada yang mengatakan sama, itu karena dipaksakan sama. Ditinjau dari sisi ajaran Islam, kata ‘akhlak’ ini adalah sebuah kata yang agung. Bila ditelusuri asal kata ‘karakter’, kata ini berasal dari bahasa Latin: ‘kharakter’, ‘kharassein’, ‘kharax’, dalam bahasa Inggris: ‘character’, dan Indonesia ‘karakter’, Yunani: ‘character’ dari ‘charassein’ yang berarti membuat tajam, membuat dalam.*  (bersambung)

Penulis adalah Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar, [email protected]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akhlakPendidikanpendidikan anakpendidikan berkarakterpendidikan islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dubes Amerika untuk Korsel Terluka Kena Sabetan Pisau Nasionalis Korea
Tulisan selanjutnya Memperbaiki Semampu Yang Kita Bisa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?