Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Wibawa Dakwah Buya Hamka

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Februari 2017 10:05 10:05 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Februari 2017 10:05
Bagikan
BUYA HAMKA
Bagikan

Oleh: Andi Ryansyah

 

DI SAAT hubungan penguasa dan ulama memanas, di saat fatwa ulama diragukan dan dianggap fitnah, di saat ulama dicurigai, digertak, diancam, dan dikriminalisasi, di saat kesaksian ulama di pengadilan dianggap dusta, di saat ulama didata layaknya buronan, di saat rumah ulama digeledah bak pengedar narkoba, di saat gerak khatib mau dipersempit dengan standardisasi, dan di saat politik Islam diadu dengan konstitusi, maka membicarakan kiprah dakwah seorang ulama-pujangga legendaris Buya Hamka, bukan hanya relevan, melainkan juga sangat penting untuk dijadikan rujukan utama dalam sikap keagamaan kita.

Tepat hari ini, 109 tahun silam, Hamka dilahirkan. Ia seakan hadir ditakdirkan untuk menjadi sosok berwibawa di hadapan penguasa. Bahwa berdakwah yang benar bukan menuruti selera penguasa sebagaimana bunyi gendang begitu gerak tari, dan bukan pula didasarkan pada keterampilan merias kata-kata, kecermatan menjual agama, dan seni memperkosa ayat suci dan sabda Nabi, bukan! melainkan justru meneguhkan prinsip, menyuarakan kebenaran dan keadilan secara merdeka, serta berakhlak mulia.

Baca: Kisah 15 Hari Buya Hamka ‘Disiksa’ Penguasa

Hamka telah membuktikan itu. Kala ia menjadi politisi partai Islam Masyumi, ia menyaksikan rezim Soekarno inkonstitusional dan tidak demokratis. Sebab kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif berada dalam satu genggamannya. Dan Front Nasional menjadi alat pelaksanaanya. Maka pada sidang Konstituante 1959, ia mengkritiknya dengan lantang, “Trias politica sudah kabur di Indonesia. Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme. Front Nasional adalah partai negara.”

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Beberapa tahun setelah Konstituante dibubarkan oleh Soekarno, Hamka tak lepas dari akibat kritikannya itu. Dengan tuduhan macam-macam, termasuk tuduhan makar, ia dipenjara oleh aparat rezim  tanpa proses pengadilan.

Namun apakah itu membuat ia dendam kesumat pada  Soekarno? Ternyata  tidak!

Ia tetap menerima permintaan Soekarno yang menginginkan ia mengimami shalat jenazahnya kelak (Irfan Hamka, Ayah: Kisah Buya Hamka, 2013).

Meski berstatus mantan tahanan, wibawa Hamka tak roboh di mata Soekarno.  Subhanallah! Air tuba dibalas air susu. Lapang sekali dada Hamka! Orang-orang besar memang selalu menyediakan ruang di hatinya untuk dibenci.

Baca: BUYA HAMKA Bukan “Politisi Busuk”

Jiwa Hamka juga independen sekali. Sebab saat itu, menurut Nurcholish Madjid, dalam buku “Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka” terbitan 1978, Soekarno sedang gencar-gencarnya dinilai pengkhianat bangsa oleh penguasa orde baru dan umat Islam, karena kaitannya dengan Gestapu dan persekongkolannya dengan PKI. Menyalati jenazah Soekarno, kata Nurcholish, “berarti Buya Hamka berhadapan dengan opini sebagian besar penguasa, dan lebih penting lagi, melawan arus opini umat.”  Dan Hamka berani melawan itu.

Naiknya Soeharto memimpin Orde Baru, kembali menguji keteguhan Hamka. Kali ini jauh lebih ngeri. Sebab ia dilantik oleh penguasa sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama. Posisi yang membuatnya sangat dekat dengan penguasa. Dan ia sadar betul akan itu.

Dalam pidato pengarahannya di hari pembukaan Musyawarah Nasional MUI, ia katakan, “Kadang-kadang benar-benar ulama-ulama terletak di tengah-tengah laksana kue bika yang sedang dimasak dalam periuk belanga. Dari bawah dinyalakan api; api yang dari bawah itu ialah berbagai ragam keluhan rakyat.  Dari atas dihimpit dengan api; api yang dari atas itu ialah harapan-harapan dari pemerintah supaya rakyat diinsafkan dengan bahasa rakyat itu sendiri. ” (Panji Masyarakat, 15/8/1975).  Dalam perjalanannya memimpin MUI, ia justru tampak “galak” dan kritis terhadap penguasa.

Sewaktu penguasa mengatur-atur, melarang-larang, dan menghukum-hukum khatib yang tak menuruti seleranya, Hamka marah. Tiga kali meja Departemen Agama dipukulnya. Menteri Agama kala itu, Alamsyah, yang duduk di sampingnya, sampai kaget. “Saya tak setuju kesempatan berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha dijadikan medan politik. Sayang masih ada rekan-rekan yang mempergunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan ketidakpuasan politiknya,” tegas Hamka. Hamka juga menolak intervensi penguasa terhadap isi khutbah. “Kalau  semua khatib, khutbahnya harus diperiksa dulu, saya berhenti saja jadi khatib.” (Tempo, 23/8/1980).

Baca: Kriminalisasi Ulama Salaf

Kemudian, saat penguasa mewacanakan perayaan natal bersama dengan kedok toleransi, Hamka meresponnya dengan mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam mengikuti natal. Sebabnya tiada lain karena dalam natal ada ritual-ritual ibadah agama Kristen. Dan menghadiri peribadatan agama lain terlarang bagi seorang muslim. MUI merasa berkewajiban mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak menyerahkan aqidahnya hanya karena takut dianggap intoleran.

Dalam sebuah khutbah Jum’at di Masjid Agung Al-Azhar, Hamka menegaskan, ”Haram hukumnya bahkan kafir bila ada orang Islam menghadiri upacara natal. Natal adalah kepercayaan orang Kristen yang memperingati hari lahir anak Tuhan. Itu adalah aqidah mereka. Kalau ada orang Islam yang turut menghadirinya, berarti dia melakukan perbuatan yang tergolong musyrik. Ingat, dan katakan pada kawan-kawan yang tidak hadir di sini. Itulah aqidah tauhid kita ” (Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof.Dr. Hamka, 1981).

Fatwa itu sampai ke telinga penguasa dan membuatnya gerah. Mereka lalu meminta fatwa itu dicabut.  Namun Hamka menolaknya dan lebih memilih mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI. Terlalu berharga aqidah umat baginya ketimbang hanya menjadi stempel penguasa. Posisinya boleh lengser, tapi pendiriannya tak mampu digeser oleh tekanan penguasa. Fatwa itu tetap ada hingga kini, melindungi dan menjaga aqidah umat.

Kita amat sangat membutuhkan banyak sosok seperti Hamka hadir saat ini. Sosok yang berwawasan luas, merdeka dan tegas menyatakan kebenaran di hadapan penguasa, teguh  memegang prinsip, berakhlak mulia, dan berwibawa. Semoga segera muncul Hamka-Hamka baru!

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)/jejakislam.net

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya HamkaBuya Hamka dipenjaraBuya Hamka Disiksa PenguasadakwahHaji Abdul Malik Karim Amrullahkriminalisasi ulamamenjual Negarapengkhianat Bangsarezim SoekarnoTasawuf Modernujian dakwah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya sanksi myanmar Militer Myanmar Hentikan Operasi di Utara Rakhine
Tulisan selanjutnya Terkait Kasus Ahok, Umat dan Parpol Islam Diharapkan Bersatu di Pilkada DKI

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?