Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Jejak Digital dan Inkonsistensi Sikap

Bambang S
Terakhir diupdate: 24 Maret 2021 16:02 4:02 pm
Bambang S
Dipublikasikan 24 Maret 2021 15:20
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | JEJAK digital seperti mengiringi perjalanan siapa saja yang menorehkannya. Jejak digital itu tidak bisa dihapus. Jejak digital bisa memperlihatkan sikap seseorang itu teguh pada pendirian, atau sebaliknya.

Jejak digital seperti menggambarkan potret seseorang dari masa ke masa. Dan itu tentang apa yang pernah diucapkannya pada masa lalu, dan jika dibaca ulang pada masa kini masih tetap ada kesesuaian, atau justru malah ketidaksesuaian dengan apa yang pernah dinyatakannya.

Kesesuaian sikap seseorang bisa dilihat dari jejak digitalnya. Dan jika ia intelektual yang aktif menuliskan pemikirannya, itu semata karena ia sadar pada apa yang disampaikan itu bernilai kebenaran.

Kita bisa lihat jejak digital seseorang yang ajek tidak berubah, meski ia sedang menjabat di pemerintahan dan punya jabatan tinggi, dengan saat ia masih sebagai “gelandangan” intelektual yang ngamen ke sana kemari.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Jejak digital terasa kejam bagi yang bersangkutan, jika pada saat tertentu ada perubahan sikap, dan itu sejalan dengan jabatan prestisius yang diembannya. Jika jejak digital itu lalu ada yang menampilkan ke ruang publik, entah untuk pengingat atau digunakan sebagai penampar, disebabkan sikap yang berubah 180 derajat.

Perubahan sikap itu bagai menempelkan foto pada dinding yang tidak berkesesuaian gambar. Maka yang muncul potongan foto yang satu dengan yang lain tidak saling menguatkan, tidak muncul harmoni indah yang sedap dipandang mata.

Dalam bahasa lain perubahan sikap yang muncul dan tampak dari  jejak digital, itu biasa disebut inkonsistensi sikap. Tentu perubahan sikap itu tidak bisa diserupakan dengan filosofi Jawa yang dikenal sebagai isuk dele, sore tempe.

Dalam filosofi itu, kedelai menjadi tempe itu memang satu kesatuan, ada harmoni di dalamnya. Memang ada unsur kesengajaan yang bermain di situ. Tapi tetap saja itu disebut sebagai ungkapan inkonsistensi sikap, walau tidak benar-benar tepat.

Prof. Mahfud MD, dan Kerancuan Berpikir Bukan Definisi Al-Ghazali

Jejak Digital Itu Kejam

Jejak digital bisa dibaca berulang-ulang, kapan saja dan tidak dibatasi waktu. Itu jika lewat tulisan. Jika itu diungkap lewat lisan, maka jejak digital itu bisa ditonton kapan saja, dan juga tidak terbatas waktu.

Menjadi olok-olok jika jejak digital itu durasi masa perubahan sikapnya terlalu pendek. Saat itu diungkap ada perubahan sikap signifikan di situ. Baik yang tertulis, atau yang bisa dilihat dengan video, ungkapan yang tidak berkesesuaian dengan sikapnya saat ini.

Saat jejak digital itu ditulis atau disampaikan, saat itu ia masih “ngamen” ke sana ke mari, sebagai pribadi yang tampak lurus. Bicaranya bak malaikat suci, yang terbebas dari salah.

Ada ungkapannya yang menarik, saat ia menyampaikan kritik pada mereka yang masuk dalam kekuasaan, dengan ungkapannya, “… Malaikat masuk ke dalam sistem Indonesia pun bisa jadi iblis juga.”

Ia sampaikan itu di hadapan acara talk show ILC, sebuah acara berkelas yang lalu harus dibubarkan. ILC bagaimanapun ada andil turut membesarkannya. Ia dapat panggung kehormatan di acara itu, yang menjadikan namanya makin moncer. Lalu ia masuk pemerintahan. Tapi sayang justru ia tidak mampu mencegah saat acara itu harus bubar, padahal ia punya jabatan di pemerintahan yang bisa dipakai membelanya.

Adalah Prof Mahfud MD, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, yang menorehkan jejak digital, sebagaimana ungkapannya di atas, yang akhir-akhir ini diungkap netizen dengan gencarnya, sebagaimana ungkapannya tadi di atas. Bahkan ada netizen “nakal”, yang mempertanyakan, “Apakah Pak Mahfud saat ini menjelma jadi iblis juga…?”

Baca: Prof Mahfud MD Jadi Tembok Istana

Meski demikian, ia tetap saja membuat komen-komen baru, baik pernyataan sikap verbal maupun lewat Twitter. Dan apa yang diungkap saat ini, bisa jadi jejak digital untuk diungkap di masa akan datang. Tentunya pada saat ia sudah tidak lagi duduk di pemerintahan.

Hari-hari ini Prof Mahfud sedang “dikuliti” Ustad Tengku Zulkarnain, dan itu tentang cuitannya di Twitter, tentunya sebelum ia duduk di pemerintahan.

“Setiap kasus bisa dicari pasal benar atau salahnya menurut hukum. Tinggal siapa yang lihai mencari atau membeli. Intelektual tukang bisa mencarikan pasal-pasal sesuai dengan pesanan dan bayarannya,” demikian bunyi jejak digital twit Mahfud (9 November 2017).

Ustad Tengku Zul, lewat Twitter-nya, mengatakan, “Ngeri saya jika membayangkan isi twit yang ini.”

“Apa betul twit ini pak @mohmahfudmd yang nulisnya…?” tanyanya, sambil menampilkan screenshot twit Mahfud MD.

“Saya tanya dan minta jawabannya,” tegasnya.

“Kalau jawabnya “iya”, biar saya sedikit bisa menyelami keadaan sekarang ini jika terlihat timpang di mata. Terima kasih.”

Pak Mahfud belum membalas twit Ustad Tengku Zul. Yakin pastilah ia akan menjawab pada waktunya.

Saat ini, bisa jadi, menteri di jajaran kabinet yang paling banyak mengumbar komen adalah Pak Mahfud. Padahal ia sebagai menteri koordinator pada  kementerian, yang harusnya tidak langsung selalu ada di depan lalu berkomentar.

Komen-komen Pak Mahfud akhir-akhir ini memang terkesan kontroversial, tampak ia menikmati komennya jika lalu ada yang berkeberatan. Saat ia bicara, “Jika ingin menyelamatkan rakyat, konstitusi boleh dilanggar,” ujarnya, Rabu (17/3).

Maka bermunculanlah respons yang berkeberatan, misal Prof Jimly Ashidiqi, dan pakar Hukum Tatanegara lainnya. Mereka berkebaratan dengan ungkapannya. Meski buru-buru lalu Prof Mahfud menyatakan bahwa yang disampaikannya itu sebagai teori, dan ada dimuat di buku karya Prof Ismail Suny.

Tidak persis tahu, apa faedahnya Prof Mahfud lempar hal kontroversial itu, hanya ia sendiri yang tahu, dan publik hanya menduga-duga sesukanya.

Tapi setidaknya apa yang disampaikan hari ini, itu jejak digital manusia Mahfud MD, yang sedang berada dalam pemerintahan, dan itu bisa jadi “pengingat” untuknya, saat ia sudah tidak di pemerintahan lagi, dan memilih kembali “ngamen” menjajakan pikiran-pikiran kritisnya, khas oposan. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

 

 

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:jejak digitalMahfud MD
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga Belanda Diminta Tidak ke Luar Negeri Sampai Mei
Tulisan selanjutnya Rasulullah ﷺ Suka Cuka Buah, Ini Manfaatnya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Berita
13 Juli 2026 15:40
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?