Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Bom Meledak, Pak Moel Bak Robin Hood, dan Ending Partai Demokrat Tidak Menentu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Maret 2021 10:27 10:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Maret 2021 09:45
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | PUNYA “tugas” untuk menulis kejadian paling menonjol dalam hari-hari ini, atau pekan ini, menjadi repot jika pada waktu hampir bersamaan muncul tidak hanya satu peristiwa besar, setidaknya sama-sama layak jual jika harus ditulis.

Menjadi bingung mau angkat peristiwa mana yang mesti diangkat, ini jadi kesulitan tersendiri. Mengingatkan pada Pak Karni Ilyas, saat menggawangi mendiang ILC, dimana ia yang sudah mempersiapkan materi dan menghubungi nara sumber untuk satu peristiwa yang dianggapnya paling seksi didiskusikan pekan itu.

Tapi tiba-tiba pada hari H muncul peristiwa yang lebih dahsyat lagi, dan persiapan untuk mengambil peristiwa dahsyat itu menjadi tidak memungkinkan. Itu jadi kekecewaan tersendiri buatnya.

Dalam pekan kemarin, khususnya pada Ahad (28 Maret), ada dua peristiwa besar. Tentu yang pertama, adalah guncangan bom meledak di pintu masuk Gereja Katedral Makassar. Seharian kemarin berita itu cukup menyita pemberitaan. Dan akan terus diberitakan dalam beberapa hari kedepan.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Baca: Hambalang dan Cacing Kepanasan

Sedang peristiwa kedua, masih masalah berkenaan dengan “perebutan” Partai Demokrat (PD) lewat KLB. Dimana menarik dan seksinya berita kedua itu, seberapa menjualnya? Menariknya, adalah tampilnya Ketua Umumnya, Pak Moeldoko, yang sekian lama tidak tampil dihadapan publik. Pernyataan seksi Pak Moel itu diunggah dalam video dalam Instagram pribadinya.

[Ilustrasi]
Memilih tidak membahas meledaknya bom, bukannya tidak menarik. Tapi lebih pada untuk menghindarkan subyektifitas pembahasan. Menjadi tidak faham meski ingin difaham-fahamkan, kenapa mesti gereja yang jadi sasaran, dan peristiwa demikian bukan yang pertama. Kasus bom Surabaya beberapa tahun lalu, yang meledak hampir bersamaan waktunya, setidaknya di dua gereja sekaligus.

Muncul spekulasi mengatakan, itu cuma upaya pengalihan isu, dan itu berkenaan dengan banyak kasus yang saat ini menjadi perhatian publik. Bisa pengalihan isu atas korupsi dana bansos, kasus sidang Habib Rizieq Shihab, atau kasus terbunuhnya 6 laskar FPI Km 50 tol Cikampek-Jakarta, dan seterusnya.

Lalu kenapa mesti gereja yang disasar? Maka spekukasi lanjutannya pastilah akan muncul. Menghasilkan analisa-analisa, yang itu bisa jadi akan bertolak belakang dengan temuan atau analisa dari pihak berwajib. Biarlah jika ditemukan kejanggalan atau keganjilan dalam peristiwa itu, peristiwa yang terus terang belum bisa nyambung di pikiran, akan terungkap pada waktunya.

Maka, pilihan pada kasus pengambilalihan PD jadi pilihan untuk diberitakan. Lebih jelas kasusnya, dan apalagi setelah muncul pengakuan Pak Moeldoko lewat Instagram nya. Ini lebih jelas ketimbang kasus bom meledak di pintu masuk gereja tadi.

Baca: Pak Moel, Merenung Itu Perlu

Pak Moeldoko Akhirnya Berbicara

Saat membaca sepintas pemberitaan yang mengabarkan pengakuan Pak Moeldoko dalam Instagram nya, yang mengatakan bahwa beliau khilaf. Maka muncul di benak pikiran ini, bahwa itu pengakuan tulus darinya, bahwa tindakan mengambil paksa Partai Demokrat (PD), lewat Kongres Luar Biasa (KLB), di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, (5 Maret), itu semata kekhilafannya.

Lalu pikiran berkembang, pastinya setelah pengakuan khilaf darinya itu, muncul kesadaran bahwa tindakannya itu salah. Karenanya, setelah sadar akan kekhilafannya, maka pernyataan khilaf yang muncul itu akan buat selesai perseteruan di tubuh PD.

Ternyata khilaf Pak Moeldoko, itu khilaf tidak sebagaimana yang ada di pikiran. Ia katakan khilaf itu, karena saat mengikuti KLB tidak memberitahu istri dan keluarganya, juga Pak Jokowi. Katanya, ia tidak ingin membebani Presiden.

Khilaf tidak lapor istri dan keluarga, bukan khilaf mengambil alih PD dengan cara inkonstitusional. Artinya, mengambil alih PD itu bukan  kekhilafannya, tapi memang seharusnya ia lakukan. Lalu, ia sampaikan alasannya kenapa ia mengambil alih PD itu.

Dengan pembawaan yang lebih tenang dan suara nyaring, Pak Moeldoko menyatakan dirinya didaulat memimpin Partai Demokrat.

“Saya orang yang didaulat untuk mimpin Partai Demokrat.”

Tambahnya, “Kekisruhan sudah terjadi, arah demokrasi sudah bergeser di dalam tubuh Partai Demokrat.”

Lanjutnya, “Terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Pertarungan ini terstruktur dan gampang dikenal, ini menjadi ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Pak Moeldoko juga mengaku, bahwa dirinya bukan cuma menyelamatkan Partai Demokrat, melainkan ingin menyelamatkan bangsa dengan cara memimpin Partai Demokrat.

Baca: Begal Itu pun Bak Brutus

Keinginan Luhur dengan Cara yang Buruk

Apa yang disampaikan Pak Moeldoko dalam Instagram miliknya, itu sukar dipercaya keluar dari mulut mantan Panglima TNI. Tentu itu tidak sekadar keluar dari mulut, tapi itu keluar dari pikirannya.

Apa yang disampaikan, bahwa ia didaulat untuk mimpin Partai Demokrat, memangnya siapa yang mendaulatnya. Jika yang memintanya mereka yang tidak punya hak memilih, dan persyaratan untuk KLB itu melanggar AD/ART, apakah itu bisa disebut ia terpilih secara benar (konstitusional).

Lalu ungkapan bahwa kekisruhan sudah terjadi di Partai Demokrat, dan demokrasi sudah bergeser di dalam tubuh Partai Demokrat. Itu pernyataan absurd dan mengada-ada. Penilaian semacam itu pantas jika keluar dari mayoritas pemilik suara pada partai itu. Sedang Pak Moel itu orang luar partai yang tidak berhak melakukan penilaian subyektif demikian.

Apalagi penilaiannya itu, lantas membenarkan langkahnya mengambil alih PD. Kok enak banget. Gaya yang dipakai Pak Moeldoko ini seperti Robin Hood, yang mencuri menjadi halal, jika yang dicuri itu harta orang kaya, dan hasil curian itu tidak dinikmati sendiri, tapi dibagi-bagikan pada orang miskin. Pencuri tetap pencuri. Tidak ada pencuri baik, meski itu Robin Hood.

Lalu, lanjutan alasan yang dikemukakan Pak Moel, terus terang jadi bingung bahasnya, bahwa terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Pertarungan yang terstruktur dan gampang mengenalinya, dan karenanya akan jadi ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045.

Pertarungan ideologis 2024, mungkin yang dimaksudkannya, itu munculnya pemimpin yang akan bertarung dalam Pilpres, dan itu tidak diinginkan. Boleh dong setiap orang menganalisa ucapan yang disampaikan, yang tidak terbuka diungkapnya itu. Ideologis dalam maknanya, atau makna kelompok tertentu, itu berbahaya jika ideologis itu melanggar asas demokrasi, yang dimaknai sempit untuk kepentingannya, dan kepentingan kelompoknya.

Sedang tambahan pernyataan, adanya ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045, terus terang soal ini sulit bisa dijabarkan dengan lalu harus mengambil paksa Partai Demokrat semaunya. Argumen yang dibangunnya itu terlalu sulit untuk bisa dijelaskan. Maka, biar saja itu jadi wacana, meski tetap sulit bisa difahami.

Tampaknya pertarungan perebutan kuasa di Partai Demokrat, akan terus bergulir. Endingnya tidak ada yang tahu, apakah pemerintah (Menkumham) akan bertindak adil, itu pun tidak ada yang tahu.

Semua kemungkinan bisa terjadi, seperti juga kehadiran Robin Hood yang dielu-elukan sebagai pahlawan wong cilik, meski tindakan mencuri yang dilakukannya tidak layak ditiru. Sejarah kadang berpihak pada yang batil… Wallahu a’lam. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bom MakassarMoeldokoPartai Demokrat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPR Imbau Masyarakat Tidak Menyebar Gambar dan Video Insiden Bom Katedral Makassar di Medsos
Tulisan selanjutnya protes anti-modi ‘Lima Meninggal, Puluhan Terluka’ dalam Protes Anti-Modi di Bangladesh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?