Hidayatullah.com | DALAM sejarah kaum Yahudi, Belanda adalah Negara di benua Eropa yang banyak dijadikan tempat berdiaspora orang-orang Yahudi dan tempat berkumpulnya jaringan Yahudi se-Eropa, selain di Belgia. Jika di Negara-negara lain di Eropa, Yahudi tak medapat tempat dan perlindungan, maka di Kota Amsterdam, Belanda, Yahudi mendapat perlakuan yang istimewa. Amsterdam menjadi kota dengan penduduk Yahudi terbanyak, ketimbang kota-kota lain di Belanda.
Kerajaan Belanda pun disebut sebagai dinasti Oranye, sebuah warna yang menjadi kepercayaan dalam mitologi Yahudi. Tim kesebelasan sepak bola Belanda disebut “Tim Oranye”. Bintang kehormatan tertinggi dari Kerajaan Belanda yang diberikan kepada mereka yang dianggap berjasa disebut sebagai Oranje van Nassau. Warna Oranyae dalam mitologi Yahudi adalah pelambang api neraka. Dengan menjadikan warna oranye sebagai yang paling disukai, maka dengan demikian orang Yahudi ingin berkata bahwa mereka tidak takut dengan neraka. Mereka juga menentang kosep Hari Pembalasan.
Di Belanda kaum Yahudi menjalankan program-programnya dengan jubah “Sosial-Demokrat”. Kebanyakan dari mereka adalah para Yahudi yang aktif dalam jaringan Illuminati-Freemason. Jaringan Yahudi tersebut kemudian ikut dalam berbagai misi penaklukan ke berbagai wilayah di Asia, dari Ceylon (Srilanka) sampai ke Hindia Timur (Indonesia).
Dalam buku Kenang-kenangan Freemason di Hindia Belanda 1767-1917 yang merupakan dokumen resmi yang memuat secara lengkap operasional, para tokoh, dokumentasi foto, dan aktivitas loge-loge yang berada langsung di bawah pengawasan Freemason di Belanda. Buku setebal 700 halaman yang ditulis oleh Tim Komite Sejarah Freemason ini adalah bukti tak terbantahkan tentang keberadaan jaringan mereka, yang tak hanya beroperasi di Pulau Jawa, tapi di sebagian wilayah Sumatera seperti Aceh, Medan, Palembang, dan Padang, serta Makassar di Sulawesi Selatan. Keberadaan mereka di wilayah-wilayah tersebut, mengikuti gerak kolonialisasi, karena banyak dari anggota Freemason ketika itu adalah pegawai kolonial.

Jika melihat kurun waktu tentang keberadaan jaringan Freemason seperti tertulis dalam Buku Kenang-kenangan Freemason di Hindia Belanda 1767-1917 (150 tahun) atau sejak masuknya pertama kali jaringan Freemason di Batavia pada tahun 1762 sampai dibubarkan pemerintah Soekarno pada tahun 1961 (199 tahun), maka dalam rentang waktu ratusan tahun itu, sangat tidak mungkin jika Freemason tak memberikan pengaruh yang kuat di negeri ini. Dan cukup mengherankan pula, jika banyak sejarawan yang menulis tentang sejarah nasional negeri ini, tak memasukkan pembahasan tentang keberadaan jaringan Freemason. Padahal, seperti ditulis dalam literatur sejarah di atas, tak sedikit dari elite-elite nasional di Indonesia pada masa lalu yang berhubungan dengan Freemason dan tak sedikit pula jaringan Freemason memainkan peranannya dalam pergerakan nasional di negeri ini.
Sementara elite di Kadipaten Pakualaman, dari Paku Alam V sampai VII, yang fotonya terpampang dalam buku kenang-kenangan tersebut, adalah anggota Freemason yang cukup disegani di kalangan Mason Eropa karena pengaruh dan perannya sebagai elite kekuasaan dan anggota Freemason di Jawa. Bahkan, ketika Paku Alam VII meninggal dunia pada tahun 1937, pemakamannya dihadiri oleh tokoh-tokoh Freemason dan Rotary Club Hindia Belanda. Media massa yang menulis berita kematiannya pun menyebut Paku Alam VII sebagai tokoh Ordo Vrijmetselarij (Freemason) yang cukup berjasa dan disegani dikalangan Vrijmetselaar (Mason).
Keterkaitan antara jaringan Freemason, Boedi Oetomo, dan elite keraton Pakualaman juga banyak diungkap oleh peneliti dan sejarawan dalam buku-buku yang membahas tentang Boedi Oetomo dan Paku Alam tersebut. Namun sayang, data-data sejarah itu tak pernah dimuat dalam buku-buku sejarah nasional yang dipelajari di sekolah-sekolah. Padahal, gerakan Freemason tak sedikit pengaruhnya bagi para pengusung paham kebangsaan dan munculnya elite modern di Indonesia. Sekali lagi, ini menjadi tanda tanya kita semua, mengapa hal ini luput dalam pembahasan sejarah?
Merujuk pada dokumen-dokumen sejarah yang ada, jaringan Freemason yang beroperasi di Indonesia digerakkan oleh para Yahudi yang menjalankan misi keagamaan dan politik sekaligus. Mereka yang membawa misi keagamaan adalah orang-orang yang mengamalkan kebatinan Yahudi dan berselubung dalam organisasi Teosofi, sedangkan mereka yang menjalankan operasi politik aktif dalam organisasi Freemason dan Illuminati (Kelompok Cahaya). Keduanya, baik Teosofi ataupun Freemason, adalah persekongkolan “Judeo-Masonik” yang bertujuan untuk menjadikan dunia dalam satu pemerintahan tunggal, Novus Ordo Seclorum.
Buku ini berhasil membawa wacana tentang Freemason dan Teosofi dari ranah spekulasi dan dugaan berbungkus teori konspirasi ke ranah ilmiah. Dan mengungkap apa-apa yang mungkin tersembunyi dan disembunyikan dari rekam jejak sejarah bangsa ini.
Sebagai sebuah buku yang mengulas tentang sejarah, buku ini berusaha menyajikan data-data dari referensi-referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Buku ini fokus mengungkapkan fakta sejarah tentag Freemason dan Teosofi dan pengaruhnya pada elit modern bangsa ini pada masa lalu, dan mengulas dampaknya pada masa kini.*/Rofi Munawwar
Judul Buku : Freemason & Teosofi
Penulis : Artawijaya
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar
Cetakan : Pertama, Agustus 2019
Tebal : 421 halaman