Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Meneguhkan Kembali Budaya Ilmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Desember 2011 10:25 10:25 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Desember 2011 10:25
Bagikan
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

UNTUK membangun peradaban mulia, ada dua tugas besar yang harus diemban ilmuan muslim. Yaitu, mempelajari konsep-konsep kunci dalam Islam dan mempelajari peradaban lain di luar Islam. Seperti disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil dalam orasi akhir tahun pada acara Musyawarah INSISTS Network di Trawas 18 Desember 2011 bahwa Ilmuan muslim harus memiliki dua ilmu; ilmu Islam dan ilmu tentang Barat. Ilmu tentang peradaban Barat perlu dipelajari, sebab tantang terbesar di abad ini adalah hegemoni ilmu Barat.

Musyawarah yang dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai jaringan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini membahas langkah-langkah penting yang perlu dilakukan ke depan dalam rangka membangun peradaban Islam di Indonesia. Menurut Hamid Fahmy, untuk menuju cita-cita membangun peradaban mulia itu perlu diciptakan terlebih dahulu komunitas-komunitas yang mengkaji ilmu pengetahuan.

“Komunitas-komunitas itu semuanya akan mensuport ilmu pengetahuan. Sehingga para ulama’ dan ummat mengetahui apa yandg harus dilakukan untuk Islam. Oleh sebab itu, INSITS harus tetap komit pada keilmuan”, tegas Hamid dalam pidato pembukaan musyawarah INSISTS pada malam Jum’at (16/12/2011) lalu.

Keberadaan komunitas pengkaji ilmu pengetahuan itu penting, sebab komunitas ilmuan itulah yang bertugas mengisi lini-lini kedidupan dengan ilmu pengetahuan. Jika segala lini terisi oleh ilmu, maka terciptalah sebuah komunitas yang berbudaya ilmu. Jadi budaya ilmu itu dibangun dari komunitas-komunitas pengkaji ilmu pengetahuan Islam.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Seperti dikatakan oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, kemajuan bidang ekonomi, politik, teknologi, sosial dan kesejahteraan rakyat itu memerlukan budaya ilmu yang segar (Budaya Ilmu dan Gagasan 1Malaysia Membina Negara Maju dan Bahagia, 26). Budaya ilmu yang segar itu adalah dengan memahami konsep-konsep kunci dalam Islam. Inilah prasyarat utama membangun peradaban mulia.

Terjadinya krisis multidimensi yang menimpa umat Islam itu pada hakikatnya bermuara pada satu masalah, yaitu problem kerusakan ilmu. Kerusakan ini disebabkan oleh; masuknya konsep-konsep dan ide-ide asing yang menyusup ke dalam pemikiran cendekiawan muslim. Penyusupan ilmu ini biasanya disebabkan oleh lemahnya tradisi pengkajian ilmu-ilmu pengetahuan doctrinal maupun pengetahuan spekulatif (Hamid Fahmy Zarkasyi dalam On Islamic Civilization Menyalakan kembali Lenter Peradaban Islam yang Sempat Padam, 56).

Dr. Hamid mengatakan, untuk membangun peradaban Islam bermartabat, diperlukan beberapa prasyarat konseptual. Pertama, memahami sejarah jatuh bangunnya peradaban Islam di masa lalu. Kedua, memahami kondisi umat Islam masa kini dan mengidentifikasi masalah atau problematika yang sedang dihadapi umat Islam masa kini. Dan ketiga, memahami kembali konsep-konsep kunci dalam Islam. Tugas penting dari komunitas-komunitas pengkaji ilmu itu adalah menggali konsep-konsep kunci dalam Islam. Sebab konsep-konsep kunci itu nantinya yang menjadi pedoman umat Islam dalam mengisi lini kehidupan.

Peradaban yang mulia itu adalah peradaban yang manusianya mengamati segala aspek kehidupan dengan ilmu. Manusia-manusia yang berilmu itu dinamakan manusia beradab. Seperti kata Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, budaya ilmu itu mesti memproduk manusia beradab yang akan membetuk warga Negara yang beradab. Yang dimaksud manusia beradab adalah manusia yang berpendidikan yang memahami batas-batas kebenaran dan kemanfaatan (limits of truth and usefulness) terhadap sesuatu dan bertindak sesuai yang sepatutnya. Ciri manusia yang beradab adalah ia beradab kepada Allah SWT, kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam, kepada pemimpin, beradab kepada rakyat, beradaba kepada alam semesta, beradab kepada bangsa, beradab kepada ilmu pengetahuan dan beradab kepada ilmuan.

Beradab kepada ilmu adalah menggunakan ilmu sesuai dengan petunjuknya dan memperoleh dengan cara yang benar. Tidak dikatakan beradab jika menerapkan ilmu hermeneutika dalam studi Tafsir. Sebab ilmu hermenutika adalah produk pandangan hidup Barat yang digunakan dalam penafsiran injil. Ilmuan yang menerapakan itu tidak beradab. Inilah yang disebut kedzaliman ilmu. Tugas komunitas pengkaji ilmu adalah mengawasi dan memebetulkan jika terjadi kedzaliman ilmu. Seperti yang ditegaskan oleh Dr. Hamid, komunitas ilmuan itu merupakan agen atau pelaku perubahan pemikiran umat.

Ilmu dan Iman

Syeikh Yusuf al-Qaradhawi memberi petunjuk bahwa ilmu yang diaplikasikan dan peradaban Islam adalah harus ilmu yang berdimensi iman. Sebagai bukti, ayat pertama dalam al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5 berisi anjuran untuk berilmu (iqra’) sekaligus mengingat Allah (bis mirabbikaladzi khalaq). Sehingga peradaban Islam tidak sekedar peradaban yang mengandalkan rasio belaka, akan tetapi mempertimbangkan aspek-aspek metafisik sebagai parameternya.

Dengan begitu, seperti dikatakan oleh Syekh al-Qaradhawi, bahwa karakteristik peradaban Islam ada dua; yaitu peradaban yang rabbaniyyah dan peradaban yang akhlakiyyah. Peradaban rabbaniyyah maksudnya peradaban yang segala sesuatu yang ada dalam peradaban berkait dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

Ilmu harus dihubungkan dengan ingat pada-Nya. Jika tidak, maka peradaban itu kata Syekh al-Qaradhawi menjadi peradaban yang pincang. Bersifat akhlakiyyah maksudnya, ilmu yang mengisi lini kehidupan tidak terpisah secara dikotomik dengan akhlak (adab). Ilmu ekonomi, politik dan lain-lain harus berkait dengan adab (Al-Islam Hadharatu al-Ghad, 157). Maka, ilmu yang tidak berdimensi iman tidak mendapat tempat dalam peradaban Islam.

Dimensi iman menjadi faktor terpenting. Sebab, anjuran Islam terhadap pentingnya ilmu pengetahuan bukan sekedar memenuhi komoditas ekonomi. Akan tetapi, ilmu pengetahuan dalam Islam itu digali dalam rangka untuk memenuhi keperluan spiritual, meraih kemakmuran kebahagiaan (al-sa’adah) di akhirat. Kebahgaiaan dan kemakmuran dalam Islam bukan sekedar kesenganan fisik yang bersifat sementara. Lebih dari itu, yaitu hakikat spiritual yang kekal. Makanya, kebahagiaan itu diperoleh ketika ilmuan meyakini terhadap hal-hal yang mutlak tentang alam, diri dan tujuan hidupnya ke depan.

Berkenaan dengan pengembangan budaya ilmu dalam komunitas-komunitas pengkaji ilmu, integrasi ilmu dan akidah merupakan pandangan yang asasi dalam memulai penggalian konsep-konsep kunci dalam ilmu pengetahuan. dalam istilah Dr. Hamid, konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan Islam itu harusnya memberi amunisi kepada seluruh pihak, penguasa, pengusaha, pedagang, politisi, militer dan sebagainya sebagaimana telah terjadi pada masa keemasan Abbasiyah.

Tentu era emas Abbasiyah itu bukan sekedar menjadi romantisme peradaban belaka, akan tetapi harus menjadi inspirasi terhadap ilmuan-ilmuan Muslim. Lebih dari itu, memotivasi untuk segera membangun budaya ilmu di setiap lini kehidupan dengan terus melakukan kajian ilmu di setiap komunitas.

Penulis adalah peneliti InPAS Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lacoste Mendiskriminasi Palestina
Tulisan selanjutnya Salafy Persilahkan Turis Zionis ke Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?