Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

‘Transmigrasi Ilmu’: Dari Dunia Islam ke Eropa (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 September 2014 14:32 2:32 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 September 2014 08:00
Bagikan
Kota Cordoba, pusat kekuatan ilmu dan budaya dari kekaisaran Islam di Barat
Bagikan

Oleh: Dr Syamsuddin Arif

– Sir Isaac Newton

HAMPIR setiap orang kenal –meski hanya lewat buku pelajaran di sekolah- siapa Robert Boyle (1691), Isaac Newton (1727) atau Charles Darwin (1882). Mereka adalah saintis-saintis asal England yang namanya cukup akrab di telinga kita. Tetapi coba kita perhatikan angka-angka yang menunjuk tahun kematian mereka, niscaya timbul pertanyaan: Apakah yang dikerjakan oleh orang-orang Inggris sebelum tahun 1600?

Apakah penduduk Britania sebelum abad itu tahunya cuma berburu dan berkelahi seperti halnya bangsa-bangsa barbarik lain di Eropa?

Dalam sepucuk surat yang ditulisnya untuk Robert Hooke sahabat karibnya, Newton sempat menyadari bahwa jika ia pandangannya menjangkau lebih jauh maka hal itu lantaran ia berdiri di atas pundak para raksasa (“If I have seen further, it is by standing on the shoulders of giants”).

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan

Pernyataan ini patut mengingatkan kita bahwa saintis tidak muncul sekonyong-konyong dari langit biru. Para saintis belajar dari apa yang diwariskan oleh para pendahulunya. Mereka mewarisi para ilmuwan terdahulu. Kalau sebelum Newton ada yang namanya Galileo Galilei (1642) dari Itali dan Nicolas Copernicus (1543) asal Polandia, dua tokoh yang kerap disebut sebagai pelopor sains modern, maka patut ditanya siapakah saintis-saintis yang giat menggarap penelitian, melakukan temuan-temuan dan terobosan kreatif-inovatif pada abad-abad sebelumnya? Sedikit sekali diantara kita yang tahu ternyata Kepler dan Copernicus itu terinspirasi oleh al-Battani yang kitabnya diterjemahkan ke bahasa Latin dengan judul De scientia stellarum.

Jawaban yang kerap kita dengar umumnya terkesan naïf dan distortif: bangsa Eropa memang sudah hebat ‘dari sononya’ –bermula sejak zaman Yunani kuno hingga runtuhnya imperium Romawi pada abad ke-5 Masehi diteruskan dengan ‘tidur panjang’ ratusan tahun lamanya sampai terbitnya cahaya Islam mengakhiri apa yang mereka sebut sebagai Zaman Kegelapan. Soal adanya ‘mata-rantai yang hilang’ dalam rentetan sejarah keilmuan yang mencakup filsafat, sains, dan teknologi ini belakangan mulai banyak disadari. Hal ini telah ditegaskan antara lain oleh Michael H. Morgan: “Most Westerners have been taught that the greatness of the West has its intellectual roots in Greece and Rome, and that after the thousand-year sleep of the Dark Ages, Europe miraculously reawakened to its Greco-Roman roots” (lihat: Lost History: The Enduring Legacy of Muslim Scientists, Thinkers, and Artists (Washington D.C., 2007, hlm. Xv. Tetapi pada saat yang sama terdapat upaya untuk menenggelamkan fakta sejarah ini oleh segelintir orang seperti Sylvain Gouguenheim yang sempat membuat heboh beberapa waktu lalu.

Dari Alexandria ke Baghdad

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa warisan intelektual Yunani kuno dalam berbagai cabang ilmu telah dipelihara dan dikembangkan oleh orang-orang Islam. Seiring dengan sukses mereka menyebarkan Islam ke seluruh jazirah Arabia, Afrika Utara (Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko), Syria, Palestina, Mesopotamia (Iraq), Persia (Iran), Transoxiana (Asia Tengah), semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) dan terakhir India, kaum Muslim terdorong mempelajari dan memahami tradisi intelektual negeri-negeri yang ditaklukkannya. Mulailah diterjemahkan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani (Greek) dan Suryani (Syriac) ke dalam bahasa Arab pada zaman pemerintahan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah.

Akselerasi terjadi setelah tahun 750 M, menyusul berdirinya Daulat ‘Abbāsiyyah di Baghdad. Seperti dinasti sebelumnya, penguasa ‘Abbasiyah banyak merekrut kaum terpelajar setempat sebagai pegawai dan staf ahli. Sebutlah, misalnya, Ibn al-Muqaffa‘ (w.ca. 759 M) dan Yahyā ibn Khālid ibn Barmak (w. ca. 803 M), cendekiawan dan politisi keturunan Persia yang diangkat jadi menteri pada masa itu. Lalu pada zaman pemerintahan Khalifah al-Ma’mūn (w. 833 M) digaraplah proyek penerjemahan, riset dan pengembangan secara masif. Ia mendirikan sebuah research centre dan perpustakaan yang dinamakan Bayt al-Hikmah.

Di antara mereka yang aktif sebagai penerjemah dan peneliti tersebutlah nama-nama semisal Hunayn ibn Ishāq dan anaknya Ishāq ibn Hunayn, Abu Bishr Mattā ibn Yūnus, dan Yahyā ibn ‘Adī. Di akhir abad ke-9 M, hampir seluruh korpus saintifik Yunani telah berhasil dialih-bahasakan ke Arab, meliputi berbagai bidang ilmu, dari kedokteran, matematika, astronomi, fisika, hingga filsafat, astrologi dan alchemy (Lihat: Ibn an-Nadīm, Kitāb al-Fihrist, ed. G. Flügel, 2 jilid (Leipzig, 1871), 1: 248-51; Franz Rosenthal, The Classical Heritage in Islam (London, 1965); F.E. Peters, Aristoteles Arabus (Leiden, 1968); dan Max Meyerhoff, “Von Alexandrien nach Baghdad. Ein Beitrag zur Geschichte des philosophischen und medizinischen Unterrichts bei den Arabern,” Sitzungs- berichte der Preussischen Akademie der Wissenschaften. Philosophisch-historische Klasse (1930): 389-429.

Maka tak lama kemudian muncullah Jābir ibn Hayyān (w.ca. 815 M), pakar kimia terkenal, al-Kindī (w. 873), ahli filsafat dan matematika, Abu Ma‘syar (w. 886 M), ilmuwan astronomi, al-Khwārizmī (w.ca. 863 M), pelopor matematika modern, Ibn Sīna (w. 1037 M) begawan metafisika dan kedokteran, Ibn al-Haytsam (w. 1040 M) ahli fisika, al-Bīrūnī (w. 1048 M), pengasas anthropologi modern, al-Idrīsī (ca. 1150 M) pakar geografi, dan masih banyak sejumlah nama besar lainnya. Rincian kontribusi mereka bisa disimak dalam: The Encyclopedy of the History of Arabic Science, ed. Roshdi Rashed, 3 jilid (London, 1996); The Legacy of Islam, ed. Joseph Schacht dan C.E. Bosworth  (Oxford, 1974); Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Cambridge, 1968); Eilhard Wiedemann, Aufsätze zur arabischen Wissenschaftgeschichte, 2 jilid (New York, 1970); Edward S. Kennedy, Studies in the Islamic Exact Sciences (Beirut, 1983); J.L. Berggren, Episodes in the Mathematics of Medieval Islam (New York, 1986)..

Kegemilangan ilmiah ini berlangsung selama beberapa ratus tahun, ditandai dengan produktifitas yang tinggi dan orisinalitas yang luar biasa. Sebagai ilustrasi, al-Battānī (w. 929 M) telah mengoreksi dan memperbaiki sistem astronomi Ptolemeus, mendesain katalog bintang, merancang pembuatan pelbagai instrumen observasi, termasuk desain jam matahari (sundial) dan alat ukur mural quadrant. Kritik terhadap Ptolemeus juga dikemukakan oleh Ibn Rusyd (w. 1198 M) dan al-Bitrūjī (w.ca. 1190). Dalam bidang fisika, Ibn Bājjah (w. 1138) mengantisipasi Galileo dengan kritiknya terhadap teori Aristoteles tentang daya gerak dan percepatan. Demikian pula dalam bidang-bidang saintifik lainnya. Bahkan dalam hal teknologi, pada sekitar tahun 800an M di Andalusia, Ibn Firnas telah merancang pembuatan alat untuk terbang mirip dengan rekayasa yang dibuat oleh Roger Bacon (w. ca. 1292 M) dan belakangan diperkenalkan oleh Leonardo da Vinci (w. 1519 M).*/bersambung Dari Arab ke Latin

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Turki dan Referensi Baru Kekuatan Islam (1)
Tulisan selanjutnya Turki dan Referensi Baru Kekuatan Islam (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap

Berita
3 September 2026 09:53
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Terbaru

  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

5 Januari 2023 14:30
ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?