Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Pandangan HAMKA tentang Usaha Pemisahan Pribumi dengan Islam (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Mei 2016 15:59 3:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Mei 2016 15:59
Bagikan
Madrasah Mu’allimiin Muhammadiyah Yogyakarta pada awalnya didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918
Bagikan

 

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: Bambang Galih Setiawan

 

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

 

PADA jenjang pendidikan tertingginya, HAMKA menjelaskan, kaum pribumi yang telah dikondisikan dan menaruh kepercayaan kuat terhadap Barat. Dengan mudah mengikuti apa yang didiktekan kepada mereka, termasuk dalam materi agama mereka pribadi. Mereka menerima begitu saja, apa yang dinyatakan oleh para professor atau sarjana Barat tentang agama mereka. Mengatakan bahwa agama Islam kolot, fanatik, dan tidak menghargai modernitas.

Akhirnya mereka pun ikut-ikutan latah dalam mencibir orang-orang yang taat dalam agamanya sendiri sebagai “fanatik”,  serta merasa risih mendengar permasalahan agama yang banyak dibicarakan dalam lingkungan Islamnya. Hal ini secara tidak sadar, telah merubah pemikiran dan sikap mereka menjadi sama dengan kaum kolonial dalam memandang agama mereka dan berbagai perihal.

Bahkan dengan bangga, kaum pribumi yang telah terdidik dalam sistem pendidikan kolonial ini, secara lebih bersemangat mencoba menjadi seperti Barat dan lebih dari Barat. Sehingga dikatakan HAMKA, mereka itu adalah orang Belanda yang lebih dari Belanda, orang Prancis yang lebih dari Prancis, dan orang Inggris yang lebih dari Inggris, namun mereka tetap tidak bisa menyembunyikan kulit hitam atau rasnya, yang merupakan keturunan asli dari kaum pribumi, yang merupakan kaum jajahannya.

Kaum pribumi yang tumbuh dalam sistem pendidikan umum kolonial ini, akhirnya mulai terpisah dengan pendidikan Islam dan masyarakatnya. Mereka tidak tahu lagi cara melakukan sholat, puasa, zakat dan rukun-rukun Islam lainnya. Hidup mereka lebih tertutup dan khusus untuk memenuhi kepentingan diri sendiri, sebab telah merasa jemu melihat lingkungan hidupnya yang taat beragama, yang dipandang sebagai orang-orang yang kolot dan tertinggal dari modernitas.

Mereka merasa jijik jika harus sholat jumat dan berdekatan dengan bang Ali tukang becak dan pak Amat tukang sate. Hanya saat upacara kematian saja mereka memanggil orang-orang “fanatik” yang tinggal disekeliling tempat tinggalnya, meminta tolong mengurus mayit itu. Supaya ditolong bagaimana cara memandikan, mengkafani, menyembahyangkan dan menguburkan. Karena mereka sudah tidak tahu lagi.

HAMKA kemudian melanjutkan. Meskipun kaum pribumi ini secara terang tidak memperlihatkan dan menunjukkan identitas agamanya. Namun jika ditanya tentang keyakinannya, terkadang mereka juga masih mengaku “orang Islam”. Sebab ayah bunda mereka adalah orang Islam, nama mereka pun adalah nama Islam. Mirisnya babi tetap di makan juga, minum tuak, khamar dan brendy sudah menjadi kebiasan yang tidak dapat dilepaskan. Apa yang dinamai oleh masyarakat Islam selama ini dengan “zina” dan sangat dibenci atau ditakuti, bagi mereka bukanlah soal. Itu adalah urusan “pribadi”. Apalah lagi kalau “suka sama suka”, siapa yang berhak menghalanginya? Terang HAMKA dengan panjang lebar. HAMKA juga menambahkan bagaimana tabiat atau kebiasaan mereka, serta alasan rapuh pandangannya:

Dengan tangkas dicela caci orang yang beristri lebih dari satu (poligami). Poligami adalah alamat kemunduran dan menyakiti hati kaum wanita. Karena memang banyak wanita yang sakit hatinya kalau suaminya beristri seorang lagi, tetapi tidak sakit hatinya kalau suaminya ngeluyur mencari kepuasan ke luar rumah! Dengan “poligami” yang tidak ada batasnya! (HAMKA, 1982: 9)

Sampai di Jawa Tengah, orang-orang tidak segan memakai istilah yang dibuat oleh penjajah, “mutihan” dan “ngaputih” yang digunakan untuk menunjuk kiai-kiai dan santri yang teguh mengerjakan perintah agama. “Ngabangan” ialah orang yang mengakui diri bahwa mereka masih Islam, tapi tidak mengerjakan perintah-perintah agama. Didikan“netral” khususnya dalam agama, menurut HAMKA kalau diperhatikan dengan seksama, hanya terhadap putera-putera orang Islam kaum pribumi saja. Orang Kristen dengan Misi dan Zendingnya bergiat terus mendirikan sekolah-sekolah berdasar agama dan mereka pun bekerjasama dengan pemerintah kolonial dalam misi melemahkan dan memisahkan pribumi dari agama Islam.

Dilema bagi orang yang terdidik dalam pendidikan Barat, yang bertentangan dengan akidah dan lingkungannya. Memaksa mereka untuk mencintai apa yang bukan miliknya, dan meninggalkan apa yang seharusnya menjadi ibunya. Jiwa dan kepribadiannya akhirnya terbelah, tidak mudah diterima oleh lingkungan diri dan lingkungan orang lain.

Pada lingkungannya ia merasa jauh dan terpisah oleh sebuah jurang antara dirinya dan kepada orang-orang yang teguh dalam beragama. Kepada lingkungan Barat ia belum tentu didengar dan diperhatikan oleh mereka, sebab ia bukanlah orang asli dari kalangan Barat sendiri.

HAMKA menarasikan, bagaimana ironi seorang Muslim yang meninggalkan agamanya dan bangga kepada pendidikan dan kehidupan Barat. Sedangkan orang Barat yang mendidiknya sendiri, belum tentu terlalu bangga dan meninggalkan agamanya:

“Sebab itu kalau kita berjumpa pergaulanyang rapat diantara orang Kristen terpelajar dengan keturunan Islam terpelajar, sama-sama minum tuak, sama-sama berdansa dan lain-lain; nanti kalau datang waktu makan, si terpelajar Kristen menyusun tangannya terlebih dahulu, sembahyang menurut agamanya sebelum sendok dan garpu tercecah ke pinggan makan. Sedang si Islam terpelajar tadi tidaklah tahu apa yang akan dibacanya. “Bismillah” saja, merekapun tidak tahu. Bahkan kalau didengarnya orang membaca “Bismillah”, diapun tertawa penuh ejekan. Dan hari Minggu si Kristen kawannya tadi pergi ke gereja. Sehingga kalau si terpelajar Islam tadi datang ke rumah kawannya itu hari minggu, tidaklah akan berjumpa, sebab dia ke gereja. Sedang si terpelajar orang Islam tadi, meskipun kantornya ditutup lekas pada hari Jum`at, tidaklah dia ke mesjid!” (HAMKA, 1982: 10).*

Penulis mahasantri Ma`had `Aly Imam al Ghazally, Karanganyar, Solo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratBelandakolonialPendidikansekolah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Genap 25 Tahun, Al-Bayan Makassar akan Gelar Reuni Akbar
Tulisan selanjutnya Masjid di Geelong Australia Dibakar Orang Tak Dikenal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?