Oleh: Daru Nurdianna
AKHIR-akhir ini, ada sebuah ‘kegaduhan’ perihal makna dari simbol tertentu yang digunakan seorang designer dan di interpretasi ke ideologi tertentu oleh kalangan masyarakat tertentu. Hal ini sedikit mengusik saya.
Sebagai designer grafis freelance kelas teri, saya akan sharing perihal persoalan simbol-simbol ini. Dengan pendekatan dari sebuah ilmu yang pernah saya coba pelajari, yakni ilmu mendesain sebuah logo, semiotika dan membuat branding.
Sebelumnya saya tegaskan lagi dulu bahwa logo, brand identity dan brand adalah suatu hal yang berbeda lho ya. Logo atau yang biasa disebut juga simbol, adalah identitas yang tampak sebagai salah satu bagian dari konstruksi brand (Brand Identity). Tepatnya sebagai elemen visual.
Surianto Rustam, dalam bukunya yang berjudul ‘Logo’, mengatakan bahwa jika ibarat manusa, logo adalah wajahnya. Lalu, brand identity adalah hierarki yang lebih luas dari simbol, namun masih dalam elemen visual. Ia mencakup logo, warna, typeface, layout, packaging dan aspek visual empiris lain sebagainya. Kalau ibarat manusia, ya jaketnya, seragamnya, potongan rambutnya, outfitnya dan lain semacamnya.
“Brand identity is tangible and appeals to the senses. You can see it touch it, hear it, watch it move; fuels recognition, amplifies differentation, and make big ideas and meaning accessible; takes disparate element and unifies them into whole system“. (Alina Wheeler, Designing Brand Identity, (New Jersey: John Wiley & Sons, Inc, 2013), 4.
Adapun brand, ia adalah semua hal tentang sebuah produk, lembaga, atau kelompok itu. Ibarat manusia tadi, ia mencakup penampilan visualnya tadi, lalu pemikirannya, kecerdasan, akhlak, sikap, integritas dan lain sebagaianya. Atau, sederhananya brand adalah penilaian (citra) yang diberikan dari orang lain terhadap diri kita.
Maka dapat ditarik kesimpulan yang sederhana, bahwa simbol atau logo adalah salah satu tanda visual utama yang sengaja diberikan makna atau nilai tertentu sebagai identitas visual sebuah brand. Ia adalah sesuatu yang empiris. Jadi, bisa dilihat, didengar ataupun disentuh yang membuat kita bisa mengenali sebuah kelompok, produk, organisasi, atau sebuah perusahaan tertentu dari pengalaman interaksi dengannya.
Jadi itu beberapa hal dasar yang perlu kita pahami dulu. Lalu, apa pentingnya identitas itu? Karena bangunan identitas itu sangat penting untuk mengenalkan, menguatkan, menyebarkan sebuah produk atau layanan atau organisasi dan atau ideologi tertentu. Jika kita fokus pada ideologi dan sebuah pengikut tertentu, logo dan simbol-simbol merupakan salah satu elemen identitas yang sudah digunakan sejak zaman dulu dari berbagai peradaban manusia di muka bumi. Dari Timur sampai Barat. Selatan sampai Utara. Nah, salah satunya adalah paham iluminati yang khas dengan segitiga dan mata satu itu. Ada juga zionis bintang david, salib, bulan bintang, simbol nazi, freemason, yin-yang dan lain-lain masih banyak lagi.
Tumpang Tindih dan Rebutan Pemaknaan Identitas Visual
Simbol-simbol sebagai perwakilan brand tertentu ini akan menjadi merepotkan jika ada akuisisi pemaknaan simbol-simbol tertentu yang sama dari berbeda pemikiran. Contoh akhir-akhir ini yang juga marak, adalah gerakan LGBT misal, yang membuat identitas visual mereka dengan warna pelangi.
Visual asli dari alam yang bermakna umum digeser dengan pemaknaan simbol. Disini mereka memakai sesuatu yang sebelumnya ada di alam. Yaitu, pelangi. Gara-gara kaum LGBT ini, kita jadi repot kalau mau membuat desain yang full color ala pelangi, bisa-bisa kena penilaian bahwa mendukung LGBT. Padahal niat designer sama sekali tidak pro LGBT.
Kemudian, secara pribadi, hal-hal seperti ini merepotkan. Sebagai designer yang anti LGBT dan Iluminati, kami biasanya memilih menghindarinya. Hal ini karena gak mau repot ngurusin orang lain yang misinterpretasi dan mengira pro paham-paham itu. Karena zaman sekarang banyak orang yang mudah menilai dan pandai berkomentar di kehidupan media sosial ini. Rasa-rasanya mengurusi orang yang minim analisis dan emosinal serta sembrono itu sangat merepotkan. Serba salah paham. Nambah-nambahin kerjaan dan beban pikiran.
Kemudian, di sisi penting lainnya, simbol pada intinya digunakan juga sebagai pembeda. Ini nih, merepotkan ketika ada sebuah tumpang tindih pemaknaan pada bangun-bangun yang sederhana seperti segitiga, lingkaran, bintang dan lain-lain yang sifatnya ada di alam dan universal. Ia sengaja dicipta agar jadi pembeda dengan yang lain, tapi pemaknaanya tumpang tindih dengan simbol yang sama dari pemikiran yang berbeda. Merepotkan bukan?
Pun, kaidah dasar membuat desain yang baik adalah memiliki ide dan pesan yang jelas yang tidak memiliki unsur ambigu dan interpretasi yang beragam. Kayak nulis. Kalimat yang baik adalah kalimat yang memiliki ide yang jelas, tidak ada ambiguitas, dan tidak memiliki unsur yang membuat beragam interpretasi.
Juga desain yang baik adalah bagaimana desain itu bekerja. Jadi tidak hanya sekedar apakah enak dilihat saja, Lur. Steve Job pernah mengatakan, sebuah quote yang begitu terkenal:
“Most people make the mistake of thinking design is what it looks like. People think it’s this veneer – that the designers are handed this box and told, “Make it look good!” That’s not what we think design is. It’s not just what it looks like and feels like. Design is how it works.”
Maka, menghindari simbol-simbol yang telah dimaknai oleh kelompok tertentu itu adalah pilihan yang kami anggap paling aman. Agar pesan kami melalui desain visual itu tersampaikan dengan baik, bukan malah menjadi rumit.
Empan Papan
Jadi disini sebaiknya kita mengindari terjadinya tumpang tindih dan perebutan pemaknaan terhadap shapes atau bangun-bangun tertentu itu, yang dijadikan simbol bersemayamnya sebuah ideologi. Catatan penting bagi designer. Kita tidak bisa memaksakan apa yang ada di alam pikir kita, dengan alam pikir masyarakat luas. Kalau bahasa orang Jawa, ‘kudu empan papan‘. Yakni harus pandai menempatkan diri. Maka disini adalah, bagi designer hendaknya pandai dalam menempatkan sebuah karya pada tempat yang tepat. Agar tidak timbul misinterpretasi.
Nabi ﷺ bersabda:
من تشبه بقوم فهو منهم
“Orang yang menyerupai suatu kaum, ia bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud: 4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari: 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir: 1/152).
Maka, menyerupai disini termasuk menyerupai brand identity yang dimana ia bersifat dzahir atau empiris (bisa dilihat). Termasuk simbol yang kita bahas diawal tadi. Jadi, Rasulullah sudah memperingatkan untuk hati-hati jangan menyerupai. Kalau nekat menyerupai, maka nanti kamu dianggap bagian dari mereka.
Kita diajarkan oleh Rasulullah untuk ‘empan papan’. Memperhatikan tradisi atau ‘urf’ masyarakat. Termasuk masalah desain masjid. Urusan mendesain masjid hukum asalnya boleh. Namun jika menjadi sebab salah paham atau fitnah, maka ia menurut ahli fikih, hukumnya dapat berubah. Menjadi perkara yang dilarang atau makruh tergantung berat tidaknya resiko yang akan muncul.
Hal ini bersesuaian dari nasehat para Ulama:
لاَ يَنْبَغِيْ الخُرُوْجُ مِنْ عَادَةِ النَّاسِ
“Tidak seyogyanya untuk keluar dari adat manusia setempat.” (Imam Ibnu Aqil Al-Hambali)
لُبْسُ الأَلْبِسَةِ الَّتِي تُخَالِفُ عَادَاتِ النَّاسِ مَكْرُوهٌ لِمَا فِيهِ مِنْ شُهْرَةٍ، أَيْ مَا يَشْتَهِرُ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيُشَارُ إِلَيْهِ بِالأْصَابِعِ، لِئَلاَّ يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا إِلَى حَمْلِهِمْ عَلَى غِيبَتِهِ، فَيُشَارِكَهُمْ فِي إِثْمِ الْغِيبَةِ.
“Memakai berbagai pakaian yang menyelisihi adat manusia (di tempat seorang tinggal), hukumnya makruh (dibenci), karena di dalamnya terdapat syuhrah (tampil beda/ketenaran), artinya tampil benda/kelihatan menyolok di sisi manusia dan jari-jari (manusia) akan mengisyaratkan kepadanya (menunjuknya). Hal itu agar tidak menjadi sebab yang akan membawa mereka untuk mengunjingnya, lalu dia berserikat dengan mereka dalam dosa mengunjing.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 6/136)
Pembeda dalam Perang Ideologi
Tak kalah penting juga perihal rebutan pemaknaan itu, bisa jadi penguat dirinya atau malah dijadikan senjata menyerang yang mematikan oleh musuhnya. Contohnya agenda pemutarbalikkan stigma radikal-teroris dan kaum Muslimin.
Alatnya adalah identitas yang melekat dalam bentuk penampilan. Jadi, ada agenda stigmatisasi radikal dan teroris yang dilekatkan dengan penampilan seorang muslim yang mengikuti Sunnah. Tentu ini tidak adil dan beradab.
Muslim yang mengikuti Sunnah Nabi, adalah muslim yang baik.Merupakan orang yang cinta Agamanya dan cinta Rasulullah ﷺ. Karena Muhammad ﷺ adalah manusia terbaik akhlaknya. Jauh dari sifat-sifat tercela, apalaigi jadi teroris. Namun, dengan alasan ditemukan beberapa segelintir teroris yang jenggotan, malah berkembang bahwa semua yang jenggotan diwaspadai radikal.
Jenggotan Islam radikal? Hmm, apakah semua yang jenggotan seperti itu? Apa cuma orang muslim saja yang suka memelihara jenggot? Karl Marx yang Atheis jenggotnya sangat lebat juga. Pemikirannya radikal, tokoh revolusioner garis keras sosial-ekonomi Barat yang sangat anti kapitalisme. Menghalalkan revolusi dalam bentuk perebutan kekuasaan.
Marx menulis buku yang berpengaruh sampai sekarang yakni ‘Manifesto Komunis’ bersama kawannya yang jonggotnya tak kalah lebat juga, yakni Friedrich Engels. Mereka jenggotnya lebat-lebat, tapi kenapa ya sensinya cuma sama muslim yang jenggotan?
Demikian yang terjadi. Brand identity penampilan sunnah itu kini telah berhasil secara efektif dimanfaatkan oleh orang yang tidak suka dengan Islam. Ia ditindih dan dicampuri pemaknaan baru dengan terorisme-radikalisme sehingga menimbulkan persoalan-persoalan misinterpretasi dan umat Muslim yang cinta penampilan sunnah seakan tersudut dan tersalahkan.
Baca: Mengenal Gerakan Yahudi
Penutup
Dalam kasus-kasus seperti ini, perlulah ditegakkan budaya tabayyun dan berfikir cerdas. Selain itu juga perlunya sikap adil dan bijak. Berlaku bagi designer dan masyarakat umum. Designer harus menghindari karya-karya yang akan membuat kontroversi dan netizen bersikap sopan, tidak mudah menilai dan berkomentar, agar tidak terjadi salah paham melulu. Mengingat juga kekurangan secara umum di era teknologi modern digital ini, banyak menimbulkan salah paham dan fitan gegara hal-hal sepele.
Maka, kita perlu mempelajari kepentingan-kepentingan dari perbedaan pemikiran yang memiliki simbol-simbolnya sendiri itu. Juga mempelajari betul konspirasi-konspirasi yang ada secara mendalam, sehingga tidak mudah berkomentar dan menilai orang lain secara subjektif. Ini tidak memberi solusi dan tidak membangun, namun justru nambah lebih rumit lagi. Di zaman digital ini, visualisasi adalah bagian hal yang mendominasi. Ia memicu munculnya beragam misinterpretasi yang sangat sulit kita prediksi. Wallahua’lam.*
Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) XII UNIDA Gontor