Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Fikih Akhir Zaman dan Masa Depan Umat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Agustus 2021 10:40 10:40 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Agustus 2021 10:40
Bagikan
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

 

Hidayatullah.com | HABIB Dr. Abu Bakar al-Adni al-Masyhur, seorang ulama asal Hadramaut, dalam kitabnya, An-Nubdzah Ash-Shughra menjelaskan tentang fikih akhir zaman, atau yang populer disebut fikih tahawwulat.

Apa itu fikih akhir zaman? Habib Abu Bakar al-Adni menjelaskan, “Pemahaman syariat terhadap hal-hal yang telah, sedang atau akan terjadi dari perubahan dalam kehidupan manusia dan alam semesta, dan hal-hal baru dalam ilmu teoritis ataupun aplikatif, kebudayaan, kejadian dan fitnah di tahap-tahap kehidupan manusia secara umum dan kehidupan umat nabi Muhammad secara khusus hingga hari Kiamat, baik melalui teks-teks Qur’an dan Hadits yang meneropong masa depan, maupun teks-teks Qur’an dan Hadits yang menunjukkan kejadian di masa lalu.” (An-Nubdzah as-Shugra, hlm. 16)..

Secara singkat, fikih akhir zaman, sebagaimana ditulis dalam kitab An-Nubdzah as-Shughra, menerangkan keadaan umat-umat terdahulu dan hubungannya dengan tanda-tanda hari Kiamat, serta dalil-dali al-Qur’an-Hadis yang ‘membaca’ masa depan.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Dengan demikian, teori fikih akhir zaman yang dijelaskan Habib Abu Bakar al-Adni al-Masyhur ini menjawab kebutuhan-kebutuhan umat zaman sekarang ini. Di zaman yang sudah makin banyak pergolakan, perubahan-perubahan yang sedemikian cepat, terjadinya banyak permusuhan dan peperangan, maka umat Islam harus menentukan sikapnya dengan benar. Agar tidak ikut tersulut api fitnah.

Oleh karena itu, konsep fikih akhir zaman bukan sekadar mempelajari tanda-tanda hari Kiamat saja, tetapi bagaimana mensikapi tanda tersebut menjadi suatu rumusan dan kaidah. Makanya disebut “fikih”, karena berupa rumusan-rumusan dan kaidah. Karena rumusannya tentang mensikapi zaman akhir, maka disebut fikih akhir zaman. Atau bisa disebut fikih tahawwulat. Tahawwul artinya berubah. Karena mempelajari kaidah-kaidah menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi sebelum hari Kiamat.

Konsep fikih akhir zaman ini didasarkan pada Hadits Jibril. Yaitu Hadis yang memuat definisi tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari Kiamat, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadits itu berbunyi: “Dari Umar bin Khattab RA berkata: Ketika kami berada dengan Rasulullah ﷺ suatu hari, muncullah seorang lelaki yang pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat sisa perjalanan diwajahnya dan tak seorang pun dari kami yang mengetahui orang itu. Duduklah ia di hadapan Nabi Muhammad ﷺ, kemudian ia sandarkan kedua lututnya kepada kedua lutut Rasulullah ﷺ, dan ia letakkan kedua telapak tangannya di atas paha Rasulullah ﷺ dan ia berkata: Wahai Muhammad, beritahu saya tentang Islam. Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab: Islam adalah bahwa kamu bersaksi bahwasanya tiadak Tuhan selain Allah dan bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan berhaji ke Ka’bah jika kamu mampu. Kemudian orang itu berkata: Kamu benar! Umar berkata: Kami merasa heran kepada orang itu, dia bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ dan kemudian membenarkannya perkataan orang itu. Maka beri tahu aku tentang hari Kiamat. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang ditanya tentangnya/hari Kiamat (maksudnya adalah Rasulullah) tidak lebih tahu daripada yang bertanya (yaitu Jibril).” Kemudian orang itu berkata, maka beritahulah aku tentang tanda-tandanya. Rasulullah ﷺ bersabda: Ketika seorang budak perempuan melahirkan pemiliknya atau nyonyanya, dan ketika kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian, miskin, penggembala kambing saling tinggi meninggi dalam bangunan.”

Dari Hadits tersebut, maka rukun agama ada empat; yaitu Islam, iman, ihsan dan hari Akhir. Fikih tahawwulat pondasi dasarnya adalah rukun agama ke-empat. Dalam Hadits Jibril di atas, hanya disebut sedikit di antara tanda hari Kiamat. Tetapi pada intinya, menjelaskan tentang banyaknya fitnah agama.

Fitnah adalah cobaan yang bersifat umum atau menyeluruh yang menimpa perorangan ataupun umat Islam secara keseluruhan dan berpotensi menyebabkan tergelincirnya orang tersebut dari jalan agama.

Habib Abu Bakar al-Adni al-Masyhur menjelaskan ada dua misi dari rukun agama yang empat itu, supaya umat Muslim terhindar dari fintah. Yaitu, pertama, memperbaharui bahasa metode dakwah, dengan anggapan dakwah datang terdahulu sebelum datangnya fiqih usul, yang dimulai dari diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, juga sebagai pembaharuan metode ulama-ulama yang adil, di dalam penyampaian sesuatu yang dilandasi dengan al-hikmah dan pengajaran yang baik, juga sebagai mengatur ulang norma-norma  salamah  dan sanad yang di landasi dengan menjaga lidah dari mencela dan menjaga tangan dari pertumpahan darah, kecuali yang Allah syariatkan dan wajibkan (yaitu berjihad) (An-Nubdzah as-Shughra).

Kedua, sebagai konservasi ilmu-ilmu sawabit (Islam, iman dan ihsan) dan maksud dari ‘konservasi’ yaitu: menjaga kemuliaan dan sanad yang terdapat pada ilmu-ilmu (akidah, syariah dan tingkatan suluk) baik di dalam periode maupun pada para ahli ilmu, (menjaganya) dari permainan orang-orang yang mengubah-ubah agama dan fitnah yang menyesatkan.  (An-Nubdzah as-Shughra).

Dengan demikian, dua misi yang bertujuan menyelamatkan umat dari api fitnah akhir zaman itu adalah dengan meningkaatkan dakwah. Memberi penerangan yang baik kepada umat. Pemberian penerangan harus penuh hikmah. Hikmah maksudnya tepat sasaran, proporsional, menjawab kebutuhan umat, menghindar dari adu-domba musuh-musuh Islam yang berkeinginan saling membunuh antar sesama saudara. Tujuan berikutnya yang terumus sebagai pedoman adalah kembali kepada mendidik umat, menjaga ilmu, menjaga akidah dan akhlak umat.

Artinya, bagaimanapun terjadi pergolakan dan huru-hara manusia, harus ada yang mampu menjaga ilmu dan akidah umat. Yaitu pendidikan. Perlu ada yang mendakwahi dengan tepat, benar dan menghasilkan buah yang baik.

Ilmu fikih akhir zaman ini sangat penting dan berpengaruh bagi masa depan umat Islam secara keseluruhan dan juga bagi setiap manusia dari umat Rasulullah ﷺ. Dengan ilmu ini, seorang Muslim bisa memiliki gambaran mengenai hal-hal yang akan dia hadapi dan juga sekaligus menentukan sikap dan tindakan yang harus dia ambil ketika menghadapi berbagai hal yang bisa menjerumuskan dia ke jurang kesesatan dan perangkap fitnah.*

Pengasuh Pondok Pesantren Dalwa, Pasuruan, Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Akhir zamanfikih
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bimtek dai Marak Ujaran Kebencian, Menghina Simbol Agama, Menag Ingatkan 7 Seruan Ceramah di Rumah Ibadah
Tulisan selanjutnya Zaitun Rasmin: Dakwah Online Makin Semarak di Masa Pandemi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?