Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Mengenal Madzab Asy’ari dan Akidah Ahlus Sunnah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Oktober 2022 10:24 10:24 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 April 2014 09:46
Bagikan
Bagikan

Imam Asy’ari dikenal  mengkritik mu’tazilah dengan logika-logika mu’tazilah, metode Imam Asy’ari lalu diikuti banyak ulama besar di kemudian hari

Oleh: Kholili Hasib
 
Hidayatullah.com | ASY’ARIYAH adalah madzhab dalam bidang akidah (teologi). Sebagaimana disiplin ilmu lainnya yang memiliki imam, asy’ariyah memiliki imam yang bernama al-Imam Abu al Hasan al-Asy’ari (873 – 947 M).

Beliau seorang ahli kalam, alim, zahid ahlus sunnah wal jam’ah (Aswaja) yang berasal dari suku Asy’ari – suku yg berasal dari sebuah daerah di negeri Yaman. Ia pernah diasuh oleh tokoh Mu’tazilah, Ali al Jubbai, namun beliau akhirnya balik mengkritik kekeliruan-kekeliruan tokoh mi’tazilah. Dan menjadi rujukan ulama dalam menghadapi mu’tazilah.

Imam Asy’ari dikenal  mengkritik mu’tazilah dengan logika-logika mu’tazilah. Dengan pertolongan Allah beliau berhasil mematahkan hujjah mu’tazilah dengan rasional tanpa keluar dari syariat.

Metode Imam Asy’ari lalu diikuti banyak ulama besar di kemudian hari. Hingga beliau diberi gelar “mujaddid” (pembaharu) karena dinilai berhasil mengalahkan dominasi pemikiran mu’tazilah.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan

Berbagai ulama dari disiplin ilmu mengikuti madzhabnya. Di antaranya; imam al Qusyairi, al Juwaini, al Ghazali, Syahrastani, al Razi, al Amidi, al Subki, al Baihaqi,  Khatib al Baghdadi, ibnu Asakir, imam Nawawi, imam Ibnu Katsir, al Iraqi, Ibn Hajar al Asqalani dll hingga mujahid agung, panglima besar kaum Muslimimin sultan Shalahuddin al Ayyubi.

Begitu pula para ulama pengikut madzhab Maliki dalam bidang teologi mengikuti imam Asy’ari. pengikut imam Syafii juga dalam bidang teologi mengikuti madzhab Asy’ari. Beberapa tokoh generasi awal madzhab Hambali seperti imam Ibnu Sam’un, al Kalwadzani dan al Hafidz Ibn Jauzi juga pengikut madzhab Asyari.

Banyaknya ulama yang mengikuti imam Asyari dalam metodologi akidah adalah karena beliau berhasil mematahkan mu’tazilah dengan tetap menyeimbangkan antara naql (teks agama) dengan aql (akal) secara adil. Kaidah tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah yaitu “taqdiimul naql alan naql” (mendahulukan teks atas akal).

Sehingga beliau berjasa atas perjuangan para ulama sebelumnya yang menghadapi mu’tazilah. Hingga akhirnya para tokoh awal madzhab Hanbali mengikutinya karena dianggap berjasa meneruskan perjuangan imam Ahmad bin Hanbal dalam memerangi mutazilah. Meski metodenya berbeda.

Peradaban Islam oleh para ulama dibangun atas madzhab ini. Para saintis, filsuf dan pemikir menggunakan metode Asy’ari untuk memataahkan argumen-argumen asing yang mempengaruhi pemikiran umat.

Dasar-dasar madzhab Asy’ari mengikuti ijma ulama yaitu al Qur’an, Hadis, ijma dan akal.

Madzhab Asy’ari juga bertumpu pada al-Qur’an dan al-sunnah. Mereka teguh memegangi al-ma’sur. ”Ittiba” lebih baik dari pada ibtida’ (Membuat bid’ah).

Dalam mensitir ayat dan hadist yang hendak di jadikan argumentasi, kaum Asy’ariah bertahap, yang ini merupakan pola sebelumnya sudah di terapkan oleh Asy’ariah. Biasanya mereka berhati-hati tidak menolak penakwilan sebab memang ada nas-nas tertentu yang memiliki pengertian sama yang tidak bias di ambil dari makna lahirnya, tetapi harus di takwilkan untuk mengetahui pengertian yang di maksud.

Kaum Asy’ariah juga tidak menolak akal, karena bagaimana mereka akan menolak akal padahal Allah menganjurkan agar umat Islam melakukan kajian rasional.

Pada prinsipnya kaum Asy’ariah tidak memberikan kebebasan sepenuhnya kepada akal seperti yang di lakukan kaum mu’tazilah, sehingga mereka tidak memenangkan dan menempatkan akal di dalam naql (teks agama). Akal dan naql saling membutuhkan.naql bagaikan matahari sedangkan akal laksana mata yang sehat.dengan akal kita akan bias meneguhkan naql dan membela agama.

Adapun pandangan-pandangan Asy’ariyah yang berbeda dengan Muktazilah, di antaranya ialah:

– Bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil kalau Tuhan mempunyai sifat, seperti yang melihat, yang mendengar, dan sebagainya, namun tidak dengan cara seperti yang ada pada makhluk. Artinya harus ditakwilkan lain.
– Al-Qur’an itu qadim, dan bukan ciptaan Allah, yang dahulunya tidak ada.
– Tuhan dapat dilihat kelak di akhirat, tidak berarti bahwa Allah itu adanya karena diciptakan dan lain-lain.*

Penulis adalah anggota MIUMI Jatim dan Peneliti di InPas Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahlus sunnahakalakidah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Suryadharma Ali Terancam Sanksi
Tulisan selanjutnya Antara Masyumi, PKS dan Jokowi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Feature
29 Agustus 2026 10:49
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun
‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza

Terbaru

  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

5 Januari 2023 14:30
ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?