Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Jangan Sampai Kalah dengan Sekularisme

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 1 Januari 2021 15:04 3:04 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 31 Desember 2020 13:31
Bagikan
Prof Wan Mohd Nor Wan Daud pada acara Hidayatullah Global Forum bertema "Universitas Untuk Apa" di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl Cipinang Cempedak 1, Polonia, Jakarta Timur, Selasa (12/11/2019).
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

 

Hidayatullah.com | FAHAM sekularisme telah masuk ke berbagai bidang kehidupan manusia modern. Karena itu, kita gagal melahirkan individu-individu yang baik dan pemimpin yang baik dalam berbagai bidang.

Demikian disampaikan oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, atau akrab disapa Prof. Wan, dalam ceramah bertajuk “Jalan Keluar dari Kemelut Pemikiran dan Peradaban Umat”, pada Rabu 30 Desember 2020 melalui dalam kajian Akhir Tahun yang dilaksanakan secara daring.

Prof. Wan merupakan ilmuan terkemuka tingkat dunia yang telah bertahun-tahun merenungi persoalan pemikiran umat Islam. Sejak beliau membantu Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas (Prof. Al-Attas) membangun kampus  International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Kuala Lumpur Malaysia, sebuah kampus yang pernah menjadi kebanggan dunia Islam di abad modern.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Sejak mendampingi Prof. Al-Attas itu, Prof. Wan meneleiti dan menghasilkan karya-karya penting yang dibaca oleh para sarjana Muslim. Salah satu buku penting beliau adalah berjudul Falsafah dan Amalan Pendidikan Syed M Naquib al-Attas. Buku ini, antara lain menjelaskan salah satu jalan keluar dari kemelut yang dialami umat Islam modern.

Prof. Wan sebagaimana telah juga ditulis oleh Prof. Al-Attas, mengatakan jalan keluar umat Islam atas semua kemelut ini sudah ada. Jalan keluar ini telah juga diamalkan oleh Nabi kita.   Pendidikan yang membangun manusia melalui worldview yang benar. Demikian ditegaskan oleh Prof. Wan sebagai saluran keluar dari krisis besar umat Islam di abad ini. Jangan lupa meneladani para ulama-ulama besar dahulu yang berhasil membangun pendidikan yang melahirkan manusia-manusia yang hebat.

Bagaimana cara Imam al-Ghazali membina manusia yang baik, itulah yang mesti dicermati oleh para sarjana Muslim sekarang. Prof. Al-Attas pernah mengingatkan pada sidang internasional tentang pemikiran Imam al-Ghazali di ISTAC, bahwa kondisi masalah umat Islam pada saat ini hampir sama dengan dengan kondisi yang dialami umat Islam pada masa Imam al-Ghazali. Karena itu, menurut Prof. Al-Attas, karya-karya Imam al-Ghazali harus menjadi rujukan, tumpuan dan dasar dalam menyelesaikan masalah-masalah umat Islam sekarang.

Jika Imam al-Ghazali mengoreksi pemikiran sampai melahirkan karya Tahafut Falasifah, kemudian beliau merumuskan bagaimana membina manusia yang baik dengan menulis kitab agung berjudul Ihya’ Ulumuddin. Berarti, tahap pertama yang harus dilakukan umat Islam sekarang adalah koreksi dan mengidentifikasi, kemudian memformulasi pemikiran worldview Islam dalam pendidikan.

Identifikasi dan koreksi itu ditujukan terhadap faham sekularisme yang saat ini menjadi faham filsafat. Umat Islam harus bisa mengidentifikasi gejala-gejala sekularisme dalam berbagai bidang kehidupan. Jika telah ditemukan, maka harus dikoreksi.

“Kekeliruan yang sangat dahsyat sekali saat ini adalah faham sekularisme”, kata Prof. Wan. Peringatan Prof. Wan kali ini harus benar-benar dicermati oleh para sarjana dan ulama, khususnya di Indonesia. Munculnya sarjana-sarjana Muslim yang mengkaji al-Qur’an dan hadis dengan framework sekular itu kekeliruan yang serius yang diakibatkan oleh sekularisme sebagai paham filsafat diterima dengan lapang dada di perguruan tinggi Islam.

Akibat dari kajian al-Quran dan hadis dengan kerangka berifkir sekular itu maka lahir pemikiran aneh yang jauh dari agama dan nilai-nilai etika bangsa dari kalangan lembaga Islam sendiri. Maka kita harus mengoreksi diri, bagaimana bisa seorang sarjana membolehkan kawin sesama jenis, mencampur adukkan ajaran-ajaran agama, dan lain-lain.

Semua itu bermuara dari pengkajian Islam tetapi dengan kerangka berfikir sekularisme. Dengan demikian, kekeliruan umat Islam zaman ini adalah kesalahan yang sistematik. Program sekularisasi telah menjadi sistem ilmu pengetahuan.

Sekularisme sebagai program filsafat sesungguhnya mengancam semua agama di dunia. Harvey Cox (1929) – pelopor sekularisasi Eropa – menyatakan bahwa masa modern adalah zaman yang tidak ada agama sama sekali, oleh karenanya perlu dijelaskan bagaimana berbicara Tuhan tanpa agama (Tuhan sekuler). Dengan teori inilah, akhirnya pandangan sekularis (penganut teologi sekuler) tentang Tuhan berbeda sama sekali dengan konsep ketuhanan dalam Islam.

Maka, imbas dari gerakan sekularisasi adalah peminggiran peran Tuhan dalam kehidupan manusia. Ludwig Feurbach (1804-1872), salah seorang tokoh sekulerisme Barat, dalam The Essence of Christinity secara lugas menyatakan bahwa agamalah yang sebenarnya menyembah manusia (religion that worships man), bukan sebaliknya. Pendapat Feurbach ini kemudian diikuti oleh Harvey Cox yang meyakini  manusia sebagai pemegang otoritas dalam beragama. Baginya, manusia adalah fokus dalam teologi. Maka ia mengusulkan agar konsep Tuhan perlu dimanusiawikan dan diduniawikan.

Prof. Al-Attas dalam bukunya Islam dan sekularisme telah menulis persoalan ini sejak empat puluh tahun yang lalu. Dalam bukunya ini, Prof. Al-Attas menceritakan bagaimana nasib agama Kristen di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18 tidak berdaya menghadapi gempuran sekularisme.

Para teolog-teolog terkemuka Kristen Eropa di abad itu sesungguhnya jauh-jauh hari mengingatkan akan bahaya faham ini bagi agama. Tetapi karena tidak berdaya, maka teolog Kristen Eropa pun mengikuti arus sekularisasi ini. Sehinggalah ajaran agama berubah-ubah. Bahkan sampai pada aspek yang sangat fundamental.

Buku Islam dan Sekularisme sesungguhnya peringatakan serius untuk umat Islam yang hidup di abad modern ini. Hati-hati jangan sampai pengalaman Kristen di Eropa itu dialami oleh umat Islam di zaman modern ini. Maka, Islam jangan sampai kalah dengan sekularisme. Agar nasibnya tidak tragis.

Karena itu, jalan keluar atas kemelut gerakan sekularisasi ini adalah  kembali dan melanjutkan pendidikan Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ, mengamalkan pendidikan golongan dewas. Para sahabat Nabi saw itu dididik dengan cara dan level yang tinggi.

Kitab Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin,  dapat dijadikan sebagai model pembinaan manusia dewasa. Konon, murid langsung Imam al-Ghazali memang tidak banyak.  Tetapi, murid imam al-Ghazali memiliki murid-murid yang banyak dan berpengaruh. Bahkan pengaruhnya dirasakan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani hingga generasi setelahnya sampai umat Islam berhasil memerdekakan Baitul Maqdis.

Imam al-Ghazali mendidik di Madrasah Nidzamiyah. Para mudirnya mendirikan madrasah-madrasah yang banyak yang menghasilkan pemimpin-pemimpin hebat. Bahkan Ahmad Syalabi mengatakan, di zaman kesultanan Al-Ayyubi, tidak ada pemimpin, komandan militer, guru besar, ulama yang tidak ada sambungan ilmu kepada Imam al-Ghazali.

Maka, perkara penting saat ini agar umat Islam tidak kalah dengan sekularisme adalah menyelenggarakan pendidikan tinggi, mendidik golongan manusia dewasa dan membangun perguruan tinggi berkualitas yang penyelenggaraan pendidikannya berdasarkan worldview Islam. Pendidikan pesantren merupakan harapan besar umat Islam. Khususnya di Indonesia. Melalui saluran pendidikan model inilah kemelut umat Islam akan tertangani dengan baik. Sehingga, umat Islam harus fokus, berkenan untuk “merunduk” sebentar untuk serius bersama-sama membina pendidikan tinggi dan pesantren yang berkualitas.*

Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) dan pengajar di INI-Dalwa

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:sekularismeSyed Muhammad Naquib al-AttasWan Mohd Nor Wan Daud
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bangladesh Tetap Pindahkan Kelompok Pengungsi Muslim Rohingya ke Pulau Terpencil Meski Terdapat Protes
Tulisan selanjutnya Pimpinan MPR Apresiasi FPI Tempuh Jalur Hukum, Minta Pemerintah Juga Harus Taat Konstitusi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

Hikmah
13 Juni 2026 04:49
Bersama DPR-DPD RI, MUI Gelar Hari Dialog Antar Peradaban Internasional, Dorong Perdamaian Global dari Indonesia
PHK Tembus 23 Ribu Pekerja, DPR Desak Penguatan Perlindungan dan Percepatan Penyerapan Tenaga Kerja
MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Terbaru

  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase
  • Pasokan Avtur Saudi ke Eropa Melebihi Sebelum Penutupan Selat Hormuz
  • Vape Piu Piu Bikin Pengguna Seperti Zombie, Kata Kepolisian Malaysia

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?