Hidayatullah.com– Berbagai penyakit berbahaya seperti kolera, TB (Tuberculosis), dan HIV dikabarkan mulai mengintai para pengungsi etnis Muslim Rohingya di kamp-kamp pengungsian, salah satunya yang berada di Cox’s Bazar, Bangladesh.
Anggota tim medis, dr Rosita Rivai, yang tergabung dalam Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) mengatakan, wabah penyakit tersebut disebabkan minimnya fasilitas air minum dan sarana kebersihan bagi para pengungsi. Kondisi itu membuat para pengungsi mudah terjangkit virus penyakit yang ditularkan sesama para pengungsi lainnya.
“Mayoritas pengungsi mudah terinfeksi segala penyakit menular,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Kamis (28/09/2017) dalam keterangan tertulis.
Baca: Ini Bantuan yang Dibutuhkan Para Pengungsi Rohingya di Bangladesh
Ia menyebut, kondisi pengungsian kumuh. Tempat tinggal beratapkan terpal seadanya, beralaskan tanah, kardus, tikar, serta tempat MCK (mandi, cuci, kakus) yang menjadi satu dengan pengungsi yang terjangkit penyakit, membuat penularan penyakit bertambah cepat menyebar di kalangan mereka.
Rosita menambahkan, relawan kemanusiaan yang tergabung di IHA bersama Ikatan Dokter Indonesia telah melakukan Aksi Layanan Sehat Darurat. Pelayanan dilakukan dengan jumlah tim medis 8 orang, terdiri dari empat dokter dan empat perawat.
Tim medis, terangnya, melayani puluhan pasien pengungsi Rohingya dengan mayoritas penyakit infeksi saluran penapasan dan penyakit kulit, beberapa pengungsi juga terjangkit penyakit diare dan mata. Sedangkan mayoritas pasien adalah anak-anak balita dengan status kurang gizi.
Baca: Sebagian Bantuan Indonesia untuk Pengungsi Rohingya Telah Didistribusikan
“Ibu dan anak yang paling rawan dari penyakit, apalagi dengan banyaknya jumlah pengungsi yang melahirkan di kamp-kamp pengungsian, maka hal tersebut harus ditangani secepat mungkin agar tidak mudah langsung terjangkit penyakit,” imbuh Rosita yang tergabung dalam tim medis Dompet Dhuafa pada misi kemanusiaan itu.
Selain itu, ia menambahkan, sebagai salah satu kamp pengungsian terbesar di dunia menurut World Health Organization (WHO), dengan jumlah pengungsi sedikitnya 400 ribu warga Rohingya yang tersebar di 68 kamp sepanjang perbatasan Bangladesh-Myanmar, kamp-kamp pengungsian juga tengah menghadapi kekurangan pangan dan obat-obatan.*