Hidayatullah.com—Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dr. Dudung Abdurachman, S.E., M.M sangat mengapresiasi rudal karya anak bangsa dengan kandungan lokal sangat tinggi. Terlebih selama ini rudal buatan CIRNOV telah sering diujitembakkan sehingga potensi untuk dapat digunakan oleh TNI cukup besar.
“Kami sangat bangga, karena (produksi rudal) justru munculnya dari Muhammadiyah. Ini luar biasa menurut saya, karena selama ini kita bergantung pada teknologi dari luar.” Demikian disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman saat melakukan kunjungan ke laboratorium atau Pusat Riset CIRNOV Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Senin (22/5/2023).
KSAD hadir didampingi oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. beserta Rektor UAD Dr. Muchlas, M.T juga tim dari Mabes TNI AD. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala CIRNOV Prof. Hariyadi, pembuatan rudal sudah dimulai sejak 2016 dan uji tembak dilakukan tiap tahunnya yang bertujuan untuk mengevaluasi dan menyempurnakan teknologi strategis bangsa yang dibuat.
Dudung menyarankan agar rudal hasil riset yang dilakukan oleh CIRNOV UAD terus dikembangkan. Hal itu sangat mungkin, pasalnya CIRNOV UAD selama sudah menjalin MoU dengan PT Pindad.
Rudal sasaran udara yang dibuat tim CIRNOV merupakan jenis panggul/MANPADS (Man-Portable-Air-Defense-Systems) yang menggunakan teknologi fire and forget yaitu rudal setelah ditembakkan ke area target, maka rudal akan mencari sendiri sasaran tanpa dipandu dari bawah karena dilengkapi dengan sensor inframerah.
Teknologi ini sudah cukup standar diterapkan untuk rudal antipesawat terbang. Tim CIRNOV sudah cukup menguasai dalam pembuatan teknologi tersebut.
Selain itu, jangkauan rudal dapat bervariasi tergantung banyak sedikitnya dan desain bahan bakar roket pendorong yang dibuat oleh PT Dahana. Untuk standar senjata anti peﷺat terbang, jangkauan dari 3.000 m hingga 6.000 m.
Rudal yang dibuat tim CIRNOV, selama ini memiliki kemampuan mengunci sasaran melalui komponen seeker yang bekerja pada spektrum sinar inframerah telah mampu diteruskan ke sistem kendali berupa gerakan canard (sirip depan) rudal sehingga rudal akan menuju area sasaran yang dikunci tersebut sampai menghantamnya.
Pengendalian rudal sangat rumit mengingat rudal selama terbang dengan kecepatan tinggi (dapat melebihi kecepatan suara) melakukan gerakan serempak untuk gerakan berputar (rolling), mengangguk (pitching), dan menggeleng (yawing).
Teknologi yang rumit ini menjadikan teknologi rudal cukup eksklusif dan protektif dalam pembuatannya yang memerlukan keahlian tingkat tinggi. Selama ini, tim CIRNOV sudah menembakkan roket/rudal lebih dari 50 unit untuk kepentingan uji dinamis termasuk rudal sasaran darat.
Menurut Prof. Hariyadi, ia berharap ke depannya ada kerja-kerja yang lebih presisi untuk menjadikannya rudal ini dapat dipergunakan sebagai alutsista TNI. Selain dengan Pindad, ia berharap ada kerja sama intensif dengan BUMN Strategis, PT Dahana, dan institusi TNI/Kemenhan mengingat produk alutsista harus dikerjakan di bawah peraturan dan pengawasan yang sudah diundang-undangkan, katanya.*