Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Karena Tekanan Sosial, Banyak Pemuda Korea Selatan hanya Mengurung Diri di Kamar

Ahmad
Terakhir diupdate: 5 Juni 2023 12:33 12:33 pm
Ahmad
Dipublikasikan 5 Juni 2023 12:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Pada 2019, Yoo Seung-gyu akhirnya keluar dari apartemen tipe studio miliknya untuk kali pertama dalam lima tahun. Sebagai langkah pertama, laki-laki berusia 30 tahun itu membersihkan “apartemennya yang berantakan” bersama saudaranya.

Kemudian dia pergi ke laut untuk memancing, bersama sesama pengurung diri yang dia temui melalui sebuah organisasi nirlaba.  “Rasanya aneh berada di laut, tetapi pada saat yang sama sangat menyegarkan setelah mengurung diri. Rasanya tidak nyata, tapi yang pasti saya ada di sana. Saya ada,” kata Yoo dikutip BBC News Indonesia.

Semakin banyak kaum muda Korea Selatan memilih untuk mengurung diri di kamar dan menarik diri sepenuhnya dari masyarakat karena gagal memenuhi harapan.

Orang-orang yang mengasingkan diri ini dikenal sebagai hikikomori, istilah yang pertama kali diciptakan di Jepang pada tahun 1990-an untuk menjabarkan fenomena penarikan diri secara ekstrem dari pergaulan di kalangan remaja dan dewasa muda.

Di Korea Selatan, yang sedang berjuang melawan tingkat kesuburan terendah di dunia dan menurunnya produktivitas, hal ini telah menjadi perhatian serius. Pemerintah Korsel sampai menawarkan tunjangan bulanan kepada para pengurung diri yang memenuhi ambang batas pendapatan tertentu demi membujuk mereka keluar dari rumah.

Baca Juga

Tidak Bermanfaat Bagi Negara, Kenya Depak Raksasa Kimia India Tata Chemicals
Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya

Mereka yang berusia antara sembilan sampai 24 tahun, berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, dapat menerima hingga 650.000 won (senilai Rp7,49 juta) sebagai tunjangan hidup bulanan.

Mereka juga dapat mengajukan permohonan subsidi untuk berbagai layanan, termasuk kesehatan, pendidikan, konseling, layanan hukum, kegiatan budaya, dan bahkan “memperbaiki penampilan dan mengobati bekas luka”.

Insentif ini bertujuan untuk “memungkinkan para pemuda yang tertutup memulihkan kehidupan sehari-hari mereka dan berintegrasi kembali ke dalam masyarakat”, kata Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga Korea Selatan.

Mereka mendefinisikan kaum muda pengurung diri sebagai “anak muda yang tinggal di ruang tertutup untuk jangka waktu yang lama, terputus dari dunia luar, dan mengalami kesulitan signifikan dalam menjalani kehidupan normal”.

Namun, menawarkan sejumlah uang untuk mengatasi masalah ini justru tidak akan membuatnya hilang, kata para remaja yang mengurung diri mereka sendiri. Yoo sekarang menjalankan sebuah perusahaan yang memberi sokongan kepada para pemuda pengurung diri. Nama perusahaannya, Not Scary.

Kondisinya kini jauh berbeda dengan masa-masa ketika ia tidak keluar dari kamarnya bahkan untuk ke WC.  Namun, perjalanannya keluar dari tempat menyendirinya itu penuh dengan pasang surut.

Dia pertama kali menarik diri dari dunia luar saat berusia 19 tahun. Dia muncul lagi, tapi untuk menjalani wajib militer selama dua tahun, dan kemudian mengasingkan diri lagi selama dua tahun setelah itu.

Park Tae-hong, mantan pengurung diri lainnya, mengatakan bahwa mengisolasi diri dapat menjadi hal yang “menenangkan” bagi sebagian orang.

“Ketika Anda mencoba hal-hal baru, itu mengasyikkan, tetapi pada saat yang sama Anda harus menahan rasa lelah dan cemas. Ketika Anda hanya berada di kamar Anda, Anda tidak perlu merasakan hal itu. Namun, hal itu tidak baik untuk jangka panjang,” ujar laki-laki berusia 34 tahun itu.

Sekitar 340.000 orang berusia 19 hingga 39 tahun di Korea Selatan – atau 3% dari kelompok usia ini – dianggap kesepian atau terisolasi, menurut Institut Kesehatan dan Urusan Sosial Korea.

Penelitian juga menunjukkan peningkatan proporsi rumah tangga dengan satu anggota di Korea Selatan, yang mencapai sepertiga dari seluruh unit keluarga pada 2022. Di saat yang sama, jumlah orang yang meninggal karena “kesepian” meningkat.

Namun, uang atau ketiadaan uang, bukanlah penyebab utama yang membuat kaum muda menyendiri.  “Mereka berasal dari latar belakang keuangan yang beragam,” kata Park.

“Saya bertanya-tanya mengapa pemerintah mengaitkan penyembunyian diri dengan status keuangan. Tidak semua anak muda yang menutup diri mengalami kesulitan keuangan.”

“Individu yang sangat membutuhkan uang mungkin dipaksa untuk beradaptasi dengan masyarakat. Ada banyak kasus yang berbeda,” tambahnya.

Baik dia maupun Yoo, misalnya, didukung secara finansial oleh orang tua mereka ketika mereka menyendiri. Hal yang umum terjadi di antara para anak muda penyediri ialah keyakinan bahwa mereka belum memenuhi standar kesuksesan masyarakat — atau keluarga mereka.

Beberapa pemuda merasa tidak nyaman di lingkungannya karena mereka tidak menempuh jalur karier konvensional, sementara yang lain mungkin dikritik karena nilai akademis yang buruk.  Yoo mengaku masuk universitas karena ayahnya menginginkannya, tetapi dia berhenti setelah satu bulan.

“Bersekolah membuat saya merasa malu. Mengapa saya tidak bisa memiliki kebebasan untuk memilih [jurusan kuliah saya]? Saya merasa sangat menderita,” katanya.

Dia juga tidak pernah merasa bisa berbicara dengan orang tuanya tentang hal ini. “Budaya ‘malu’ di Korea membuat para pengurung diri lebih sulit untuk membicarakan masalah mereka,” kata Yoo.

“Kala itu, saya menyimpulkan bahwa hidup saya salah, dan mulai mengasingkan diri.”

Selama mengasingkan diri, ia bahkan tidak mau pergi ke kamar kecil karena tidak ingin bertemu dengan keluarganya. Bagi Park, mengasingkan diri dilakukan karena tekanan sosial, yang diperparah ketegangan hubungan dengan keluarganya.

Park Tae-hong, seorang mantan petapa, mengatakan kesulitan keuangan bukan jadi alasan utama yang membuat para pemuda mengasingkan diri.

“Ayah dan ibu saya sering bertengkar sejak saya masih kecil. Hal ini juga memengaruhi kehidupan saya di sekolah. Sekolah di Korea terkadang sangat keras, dan saya merasa kesulitan. Saya tidak bisa mengurus diri saya,” kata Park.

Dia mulai terapi pada 2018, saat berusia 28 tahun. Sekarang, secara bertahap, dia kembali membangun kehidupan sosialnya.

Kaum muda di Korea Selatan merasa “tertindas” karena masyarakat mengharapkan seseorang untuk menjadi seperti apa yang diharapkan pada usia tertentu, kata Kim Soo Jin, seorang manajer senior di Seed:s, yang juga mengkhususkan diri dalam program-program untuk hikikomori.

“Ketika mereka tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut, mereka berpikir ‘saya gagal’, ‘saya terlambat untuk ini’. Atmosfer sosial seperti ini menekan harga diri mereka dan pada akhirnya dapat membuat mereka terasing dari masyarakat,” tambahnya.

Seed:s memiliki ruang fisik yang dijuluki “terowongan tikus tanah”, sehingga para pengurung diri dapat beristirahat, memiliki waktu tenang, dan menjalani konseling.

Program-programnya terbuka untuk semua orang, terlepas dari tingkat pendapatan mereka.

Sebuah lingkungan, di mana kaum muda dapat menemukan lebih banyak variasi pekerjaan dan kesempatan pendidikan, akan lebih ramah terhadap individu yang tertutup, kata Kim.

“Kaum muda yang tertutup menginginkan tempat kerja di mana mereka bisa berpikir ‘Ah, saya bisa melakukan banyak hal, tidak terlalu sulit. Saya rasa saya bisa belajar lebih banyak di sini dan kemudian memasuki dunia nyata’,” katanya.

Park juga berharap suatu hari nanti masyarakat Korea dapat lebih menerima anak muda yang memiliki minat di luar kebiasaan.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anak muda Korea SelatanHeadlineHikikomorikorseltekanan sosial
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bank di Aceh Dinilai Belum Sesuai Syariah, Ulama Minta Kredit Diganti Mudharabah
Tulisan selanjutnya Erdogan Berjanji Merangkul Semua Elemen: “Abad Türkiye telah Dimulai”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih

Berita
5 September 2026 09:34
Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya

Terbaru

  • Tidak Bermanfaat Bagi Negara, Kenya Depak Raksasa Kimia India Tata Chemicals
  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Uni Eropa Bendera
Berita

Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil

5 September 2026 10:14
Berita

Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’

3 September 2026 19:56
Syeikh Jarrah palestina
Berita

Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza

3 September 2026 19:12
Audiensi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dalam membahas potensi dan tata kelola pelaksanaan dam Haji di Indonesia, termasuk peluang pemanfaatan daging dam bagi masyarakat yang membutuhkan di Jakarta, Rabu (292026). ANTARAHO-Baznas RI
Berita

Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

3 September 2026 15:08
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?