Hidayatullah.com—Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen Katolik, Filipina ingin tetap inklusif dan mengambil langkah untuk menjadikan negara tersebut fokus utama pariwisata ramah Muslim di Asia.
Wakil Menteri Pariwisata Myra Paz Valderrosa-Abubakar mengatakan pemerintah sedang mengerjakan beberapa program untuk menarik wisatawan Muslim dan mendorong hotel dan resor untuk mendapatkan pengakuan halal.
“Kalau bicara halal perlu ada sertifikasi yang diakui terutama untuk dapur dan makanan. Makanya kita mulai dengan ramah muslim. Itu langkah awal,” ujar Valderrosa-Abubakar dikutip laman resmi pemerintah, www.pna.gov.ph.
Kantor Berita Filipina melaporkan bahwa setiap perusahaan dapat mengajukan sertifikat ramah Muslim dari Departemen Pariwisata asalkan memenuhi kriteria. Di antaranya memiliki setidaknya lima persen dari total kamar lengkap dengan stiker arah kiblat, perlengkapan sajadah, dan kitab susi al-Quran yang harus disimpan dengan baik dan persediaan air bersih di kamar mandi dengan selang untuk wudhu.
“Perusahaan akomodasi dapat disertifikasi dan diakui sebagai ramah Muslim, tetapi hanya dua kali. Yang pertama setelah aplikasi dan kemudian setelah perpanjangan pertama,” kata Valderrosa-Abubakar.
“Untuk ketiga kalinya, jika mereka melihat langkah tersebut berhasil menarik lebih banyak pengunjung ke hotel dan resor mereka, mereka perlu memastikan dapur mereka sudah mendapatkan sertifikat halal,” katanya.
Instansi pemerintah dapat mengeluarkan pengakuan ramah-Muslim untuk fasilitas, tetapi hanya lembaga sertifikasi yang dapat mengeluarkan logo halal yang menyatakan bahwa makanan yang disiapkan diperbolehkan untuk dimakan sesuai dengan ajaran Islam.
“Fasilitas atau layanan ramah Muslim yang tidak disertifikasi oleh lembaga sertifikasi halal tetapi selama Anda tidak menyajikan produk haram, kami dapat menganggapnya ramah Muslim,” tambah dia.
Departemen Pariwisata Filipina berencana meluncurkan Pameran Halal pertama pada tahun 2023, menerbitkan catatan perjalanan untuk wisatawan Muslim, mendirikan Museum Warna Mindanao, dan bermitra dengan Grab untuk Aplikasi Halal, untuk lebih menarik wisatawan Muslim.
Wisata Halal ala Taiwan dan Jepang
Selain Filipina, negara non-Muslim yang sangat giat untuk menarik wisatawan Muslim adalah Taiwan dan Jepang. Kepala Biro Pariwisata Taiwan yang berbasis di Kuala Lumpur, Chou Shi-Pi dalam acara 2023 Taiwan Tourism Workshop di Jakarta Selatan mengatakan meskipun Taiwan memiliki hanya memiliki populasi muslim tidak lebih dari 200 ribu orang, tapi terus berkomitmen menjadikan Taiwan sebagai negara yang ramah Muslim.
Berdasarkan peringkat dari Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI), Taiwan kembali meraih peringkat kedua sebagai negara tujuan wisata non-OKI (Organisasi Kerja Sama Islam).

Bekerja sama dengan Asosiasi Muslim Tionghoa (The Chinese Muslim Association), Taiwan memperkenalkan sumber daya wisata halal di Taiwan yang terbaru, sehingga menunjukkan para umat Islam cara berwisata di Taiwan dengan nyaman dan aman. “Saat ini, lebih dari 300 restoran dan hotel di Taiwan telah disertifikasi untuk melayani pengunjung sesuai dengan standar halal,” jelas Chou lebih lanjut.
Pasca berakhirnya pandemic dan pembatasan pada 13 Oktober 2022, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke negara tersebut pada tahun 2022 mencapai 27.162 orang. Angka ini lebih tinggi 135,57 persen dari angka yang ditargetkan Biro Pariwisata.
Selain Taiwan, negara yang juga agresif menarik wisatawan Muslim dating adalah Jepang. Jepang juga salah satu tujuan yang populer bagi wisatawan Muslim dunia.
Dalam upaya untuk menarik lebih banyak wisatawan Muslim, Jepang merestrukturisasi industri pariwisatanya agar dapat melayani kebutuhan spesifik umat Islam dengan lebih baik.
Jepang dikunjungi lebih dari 300.000 wisatawan Muslim pada tahun 2013 dan pengunjungnya meningkat menjadi lebih dari satu juta pengunjung Muslim setiap tahun pada tahun 2020.
Sebagian besar kunjungan berasal dari negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sekitar 65% dari semua pengunjung Muslim.
Untuk memenuhi permintaan fasilitas Halal yang terus meningkat, Jepang telah menerapkan langkah-langkah untuk meningkatkan fasilitas ibadah shalat, ketersediaan makanan halal, dan layanan terkait perjalanan lainnya bagi umat Islam.
Awal bulan ini, Jepang meringankan persyaratan visa untuk pelancong dari negara-negara Asia Tenggara. Dengan kesadaran yang meningkat, bisnis dan perusahaan lokal dan Jepang secara bertahap mengubah pendekatan mereka untuk melayani pasar perjalanan Muslim.*