Hidayatullah.com—Restoran cepat saji McDonald’s ditutup di seluruh Sri Lanka pada hari Ahad setelah raksasa siap saji asal AS itu melancarkan gugatan hukum terhadap pewaralaba lokal atas dugaan tingkat kebersihan yang tidak memuaskan, kata pejabat pengadilan.
Toko-toko tersebut akan ditutup hingga 14 April, berdasarkan perintah Pengadilan Tinggi Komersial Kolombo setelah perusahaan induk menuduh pemegang waralaba lokal gagal memenuhi standar kebersihan internasional.
“Perintah telah dikeluarkan untuk penutupan sambil menunggu penyelidikan,” kata seorang pejabat pengadilan yang dikutip AFP.
Pengacara yang mewakili McDonald’s mengatakan kepada pengadilan bahwa mereka telah mengakhiri perjanjian waralaba dengan perusahaan lokal, Abans
“Perusahaan induk memutuskan untuk mengakhiri perjanjian dengan pewaralaba karena masalah standar. Mereka tidak menjalankan bisnis di negara tersebut. Mereka mungkin memutuskan untuk kembali dengan pewaralaba baru,” katanya Sanath Wijewardane, pengacara McDonald’s pada Reuters.
Sidang kasus tersebut rencananya akan dilanjutkan pada awal April mendatang. Sejauh ini, McDonald’s maupun Abans belum memberikan komentar apapun mengenai masalah tersebut.
Abans telah menyelenggarakan waralaba yang melibatkan sebanyak 12 gerai McDonald’s sejak perusahaan AS tersebut memasuki Sri Lanka pada tahun 1998.
Sementara itu, pemberitahuan terlihat di luar gerai McDonald’s pada hari Minggu yang menyatakan bahwa restoran tersebut ‘tutup’ tanpa indikasi apakah atau kapan akan dibuka kembali.
Pekan lalu, seluruh restoran McDonald’s di Sri Lanka dilaporkan tidak terpengaruh akibat kesalahan teknologi yang mengganggu pesanan di sebagian besar Asia Timur.
Abans telah menyelenggarakan waralaba McDonald’s di Sri Lanka dengan 12 gerai sejak perusahaan AS tersebut masuk ke negara tersebut pada tahun 1998.
Di luar gerai McDonald’s di seluruh negeri, terlihat pemberitahuan yang mengatakan bahwa gerai tersebut “tutup” dan tidak ada indikasi apakah atau kapan gerai tersebut akan dibuka kembali.
Toko-toko di Sri Lanka tidak terpengaruh ketika kendala teknologi mengganggu pemesanan di toko-toko di sebagian besar Asia Timur pada minggu lalu.*