Hidayatullah.com– Direktur US Secret Service Kim Cheatle mengundurkan diri menyusul insiden penembakan di lokasi kampanye capres Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump, yang mengalami luka di bagian telinga kanannya.
Dia dihujani seruan mundur Partai Demokrat dan Partai Republik setelah sidang di Kongres AS pada hari Senin terkait penembakan tersebut.
Anggota Kongres AS sangat geram ketika Cheatle menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait upaya pembunuhan terhadap Trump di Butler, Pennsylvania, beberapa hari lalu, terutama tentang persiapan pengamanan bagi seorang bekas presiden yang sedang berkampanye untuk menjadi presiden Amerika selanjutnya.
Dalam kesaksiannya di Kongres AS, Cheatle tidak memberikan penjelasan sama sekali tentang bagaimana tersangka Thomas Matthew Crooks bisa memanjat ke atap gedung di mana dia kemudian melepaskan tembakan dan mengapa Trump diperbolehkan naik ke atas podium. Seorang penonton kampanye tewas dan dua lainnya mengalami luka serius akibat terkena peluru yang ditembakkan pelaku ke arah Trump. Padahal, banyak petugas keamanan dan aparat penegak hukum dari berbagai lembaga berbeda ditempatkan di lokasi kampanye tersebut.
Crooks akhirnya mati oleh penembak jitu tidak lama setelah insiden tersebut.
Dalam sidang terpisah di Capitol Hill hari Selasa (23/7/2024), Christopher Paris, komisioner kepolisian negara bagian Pennsylvania membeberkan kesalahan prosedur keamanan yang dilakukan aparat sebelum terjadi penembakan, lansir BBC.
Menurut Paris, dua petugas yang ditempatkan di posisi yang menguntungkan di atas atap – lokasi yang kemudian dipilih Thomas Matthew Crooks untuk melakukan aksinya, meninggalkan pos mereka untuk membantu menyelidiki laporan tentang orang yang mencurigakan.
Kemudian, seorang polisi sempat memergoki Crooks di atas atap hanya beberapa detik sebelum menembak Trump.
Meskipun mengakui adanya “kegagalan kritis” di Butler, ia mengatakan bahwa Secret Service adalah “pihak yang paling bertanggung jawab dan menjadi penengah terakhir atas segala masalah keamanan apa pun yang berdampak pada pihak yang dilindungi dan masyarakat.”
Usai sidang di Kongres AS, James Comer dan Jamie Raskin – politisi terkemuka dari Republik dan Demokrat di House of Representatives Oversight Committee – mengatakan bahwa pihaknya berkeyakinan Cheatle harus meletakkan jabatan.
Presiden Joe Biden mengangkat Cheatle sebagai direktur US Secret Service pada tahun 2022. Sebelum memimpin dinas keamanan yang bertugas melindungi presiden dan mantan presiden AS serta pejabat tinggi lainnya itu, Cheatle sudah berdinas selama 27 di berbagai posisi di berbagai lembaga.
Semasa dia menjadi agen Secret Service, Cheatle terlibat dalam evakuasi wakil presiden AS kala itu Dick Cheney dari Gedung Putih saat terjadi serangan 11 September 2001 yang meruntuhkan gedung WTC di New York City.
Cheatle bertugas menjadi pengawas prosedur perlindungan bagi Joe Biden saat masih menjabat wakil presiden. Dia kemudian menjadi wakil direktur operasi perlindungan.
Menanggapi pengunduran diri Cheatle, dalam sebuah pernyataan Presiden Joe Biden menyampaikan ucapan terima kasih atas baktinya selama puluhan tahun.
Biden juga mengatakan review independen untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi terkait insiden penembakan Trump pada 13 Juli masih terus dilakukan.
Biden mengatakan akan menunjuk direktur US Secret Service yang baru segera.
Untuk saat ini, Menteri Keamanan Dalam Negeri Alejandro Mayorkas sudah menunjuk Ronald Rowe sebagai pejabat sementara direktur SS.
Rowe, memiliki pengalaman 24 tahun bekerja di US Secret Service, menjabat wakil direktur dinas perlindungan pejabat tinggi AS itu sejak April 2023.*