Hidayatullah.com – Nasib seorang tersangka pembunuh berantai akhirnya akan diputuskan pada tanggal 12 September setelah pengadilan kriminal Kairo menyerahkan berkas perkaranya kepada mufti agung negara Mesir, Dr Nazir Ayyad, untuk peninjauan akhir.
Sebuah pengadilan Mesir pada Sabtu (24/08) memutuskan Karim Salim, 37 tahun, bersalah atas pembunuhan tiga orang wanita setelah membius dan menyiksa mereka hingga tewas. Kejahatan ini telah membuat gempar masyarakat di negara dengan penduduk terpadat di dunia Arab itu dalam beberapa bulan terakhir.
Di Mesir, pengadilan pidana harus meminta persetujuan final dari mufti agung – yang bertugas mengeluarkan fatwa sebagai formalitas hukum dalam kasus-kasus hukuman mati. Namun, keputusan tersebut masih dapat diajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi.
Selim juga dihukum karena melakukan tindakan seksual menyimpang dengan mayat korbannya serta merekam prosesnya di dalam ruangan kedap suara yang sengaja dibangun untuk tujuan ini di rumah, di distrik mewah Pemukiman Kelima di dekat Kairo.
Dijuluki oleh media lokal sebagai “Pembunuh Pemukiman Kelima”, Selim sebelumnya mengaku saat diinterogasi bahwa jumlah korbannya sebenarnya lebih banyak daripada yang telah ditemukan oleh pihak berwenang.
Mayat-mayat para wanita itu ditemukan secara terpisah, masing-masing ditemukan dalam keadaan telanjang di daerah-daerah terpencil di provinsi-provinsi di luar Kairo. Selim mengakui bahwa ia mengenal para korbannya secara online, beberapa di antaranya ia klaim sebagai pekerja seks.
Laporan otopsi menunjukkan bahwa ketiga korban tersebut dibunuh pelaku dengan cara yang sama karena semuanya menunjukkan tanda-tanda penyiksaan yang sama, termasuk luka cekikan dan cambukan.
Bukti-bukti yang memberatkan Selim termasuk sidik jari di salah satu pakaian korban. Tes laboratorium terhadap komponen perut dan darah mereka menunjukkan tanda-tanda narkotika dalam tubuh mereka.
Media lokal melaporkan bahwa Selim berasal dari keluarga kaya dan memperoleh gelar dari universitas swasta paling bergengsi di Mesir, American University di Kairo (AUC), kemudian bekerja sebagai guru di sebuah sekolah internasional, sebelum ia berhenti dari pekerjaannya. Dia kemudian membuat saluran TikTok di mana dia mengajar bahasa Inggris Amerika.*
Baca juga: Nazir Ayyad Ditunjuk Sebagai Mufti Agung Baru Mesir, Menggantikan Shawki Allam