Hidayatullah.com– Presiden Tunisia, Kais Saied, kembali terpilih untuk masa jabatan kedua selama lima tahun dengan kemenangan telak, meskipun pemilu kali ini hanya diikuti oleh 27,7 persen pemilih atau yang terendah sepanjang sejarah negara Afrika Utara itu.
Independent High Authority for Elections (ISIE), hari Senin (7/10/2024) menyatakan Saied telah memenangkan 90,7% suara dalam pemilihan yang digelar pada hari Ahad, dengan partisipasi pemilik suara sebesar 27,7%, lansir The Guardian.
Peraih suara terbanyak kedua 7,4 persen adalah Ayachi Zammel yang sedang mendekam di dalam sel setelah divonis penjara 12 tahun dengan dakwaan memalsukan dokumen menjelang pemilu. Zouhair Maghzaoui, sekutu Saied yang kemudian menjadi musuh, meraih suara terkecil.
ISIE mendiskualifikasi lebih dari selusin kandidat sebelum pemilihan, sehingga hanya tiga yang bertarung di tempat pemungutan suara.
Jumlah pemilih yang memberikan suara dalam pilpres kali ini lebih tinggi dibandingkan 11% yang hadir dalam pemilihan lokal bulan Desember lalu, tetapi masih merupakan angka terendah dalam sejarah pilpres. Para pengamat mengatakan hal itu memberikan gambaran mengenai ketidakpuasan di kalangan banyak warga Tunisia, di saat negara itu terjerumus kembali dalam pemerintahan otoriter.
Saied naik ke puncak kekuasaan pertam kali pada tahun 2019 dalam pemilihan kedua setelah demonstrasi besar “Arab Spring” yang menyebabkan tergulingnya presiden kala itu Ben Ali, yang telah berkuasa selama lebih dari dua dekade.
Sejak menjadi presiden, Saied melakukan tindakan-tindakan kontroversial seperti menangguhkan parlemen dan mendukung referendum yang memberinya kekuasaan besar dua tahun lalu.
Tidak hanya itu, Saied juga memecat hakim, memecat para pejabat yang dinilai berseberangan dengannya, memenjarakan tokoh-tokoh oposisi termasuk mantan anggota parlemen Saied Ferjani yang sampai saat ini masih mendekam di dalam kurungan.*