Hidayatullah.com – Lembaga penyiaran publik mengakui bahwa sebuah helikopter ‘Israel’ yang mengangkut “bantuan dan peralatan” untuk Druze Suriah telah mendarat di Sweida, Suriah selatan, pada hari Jumat.
Laporan itu juga dikonfirmasi oleh media Suriah, yang menyebut bahwa helikopter Angkatan Udara ‘Israel’ tersebut mendarat di Sweida selama beberapa menit.
Seorang pejabat keamanan ‘Israel’, yang tidak menyebutkan namanya, menyatakan bahwa keputusan mengirim “bantuan” kepada Druze Suriah sudah mendapatkan restu pimpinan politik. Sumber tersebut mengklaim bantuan tersebut bertujuan untuk membantu Druze di Sweida menghadapi ‘tantangan kemanusiaan’.
Sementara, kedatangan helikopter penjajah tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan penduduk lokal. Mereka khawatir bahwa ‘Israel’ telah mengirim senjata ke kota tersebut untuk meningkatkan situasi mereka dengan pemerintah Suriah.
Kabar hubungan antara Druze-Israel ini muncul di tengah serangan udara intens zionis di berbagai wilayah Suriah. ‘Israel’ berdalih serangan itu untuk melindungi Druze Suriah dari pemerintahan yang dipimpin Ahmad Sharaa.
Kantor berita pemerintah Suriah SANA melaporkan bahwa serangan ‘Israel’ menargetkan lokasi-lokasi di desa Shat’ha di Hama barat laut dan kota-kota Al-Tal dan Harasta di pedesaan Damaskus. Serangan tersebut mengakibatkan tewasnya satu warga sipil dan melukai beberapa lainnya.
Pada Jumat pagi, militer ‘Israel’ mengumumkan serangan udara di dekat istana presiden di Damaskus. ‘Israel’ menggambarkan serangan itu sebagai “pesan peringatan” kepada pemerintah Suriah, yang kemudian menyebut serangan itu sebagai “eskalasi berbahaya”.
Kemudian pada hari Sabtu, ‘Israel’ mengklaim telah mengevakuasi lima warga Druze Suriah yang terluka untuk dirawat di rumah sakitnya. Hingga kini, sudah ada 15 warga Druze yang dievakuasi ke ‘Israel’, menurut Anadolu.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya peringatan bahwa ‘Israel’ berusaha mengeksploitasi komunitas Druze untuk membenarkan intervensinya di Suriah, sementara Damaskus bersikeras bahwa semua komponen populasi memiliki hak yang sama.
Sejak tahun 1967, ‘Israel’ telah menduduki sebagian besar Dataran Tinggi Golan. Zionis telah memanfaatkan situasi tersebut setelah tergulingnya rezim Bashar al-Assad, menduduki zona penyangga Suriah dan menyatakan runtuhnya perjanjian pelepasan diri tahun 1974 antara kedua belah pihak.
Meskipun pemerintahan baru Suriah di bawah Ahmad al-Shara bersikeras bahwa mereka tidak menimbulkan ancaman apa pun terhadap ‘Israel’, mereka telah melakukan serangan udara hampir setiap hari terhadap Suriah selama berbulan-bulan, yang mengakibatkan korban sipil dan hancurnya lokasi militer, kendaraan, dan amunisi milik tentara Suriah.*




