Hidayatullah.com– Sejumlah maskapai penerbangan global seperti Air France dan Lufthansa menghindari wilayah udara Pakistan di tengah ketegangan dengan negara tetangga India. Demikian ditunjukkan oleh sejumlah situs pelacak dan pemantau penerbangan global hari Senin (5/5/2025).
Menyusul insiden penembakan di tempat wisata di wilayah sengketa Kashmir akhir bulan lalu yang menewaskan lebih dari 20 pelancong, India dan Pakistan bersitegang dan mengambil sejumlah langkah pembatasan.
India mengambil langkah-langkah seperti menutup wilayah udaranya untuk maskapai penerbangan Pakistan, sementara Pakistan melarang maskapai yang dimiliki atau dioperasikan oleh negara tetangganya itu, menangguhkan perdagangan dan menghentikan visa khusus bagi warga India, meskipun Pakistan masih mengizinkan maskapai penerbangan internasional menggunakan wilayah udaranya.
Maskapai penerbangan Lufthansa Group “menghindari wilayah udara Pakistan sampai pemberitahuan lebih lanjut”, kata perusahaan asal Jerman itu dalam sebuah pernyataan yang dikirimkan kepada Reuters. Konsekuensinya, masa tempuh sejumlah rute penerbangan ke Asia semakin lama.
Flight tracking data menunjukkan pesawat-pesawat British Airways, Swiss International Air Lines dan Emirates berbelok ke utara ke arah Delhi guna menghindari wilayah udara Pakistan, setelah terbang di atas Laut Arab.
British Airways dan Emirates tidak segera menanggapi permintaan komentar perihal itu, lapor Reuters hari Senin (5/5/2025).
Sementara itu, Air France dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa pihaknya untuk sementara sampai pemberitahuan lebih lanjut tidak akan terbang di atas Pakistan, dengan alasan adanya ketegangan antara India dan Pakistan.
Maskapai penerbangan asal Prancis itu mengatakan mengubah sejumlah jadwal dan rute penerbangannya untuk tujuan seperti Delhi, Bangkok dan Ho Chi Minh, dan memperingatkan bahwa masa tempuh akibatnya akan bertambah.
Lufthansa penerbangan LH760 dari Frankfurt ke New Delhi terbang lebih lama hampir satu jam pada hari Ahad (4/5/2025) disebabkan rute yang diambilnya lebih jauh, menurut pantauan Flightradar24.
Situasi seperti ini merugikan banyak pihak. Maskapai penerbangan harus menanggung beban biaya bahan bakar tambahan dan menempuh rute lebih jauh. Penumpang terpaksa lebih lama di perjalanan. Pakistan kehilangan pendapatan dari bea pesawat yang melintas, yang mencapai ratusan dolar per penerbangan tergantung bobot pesawat dan jarak tempuhnya. Semakin lama di udara risiko keselamatan juga semakin tinggi.*




