Hidayatullah.com– Pemerintah Ekuador mengekstradisi gembong narkoba ternama Adolfo Macías alias Fico” ke Amerika Serikat, lebih fari setahun setelah dia berhasil melarikan diri dari penjara berpenjagaan ketat.
Pesawat yang mengangkut Macias mendarat di negara bagian New York pada hari Ahad malam, menurut sebuah situs web pelacakan penerbangan seperti dilansir The guardian Senin (21/7/2025).
Pihak kejaksaan AS pada bulan April membuat dakwaan atas Macias, pimpinan geng narkoba Los Choneros, dengan tuduhan pengedaran kokain, konspirasi dan pelanggaran kepemilikan senjata api, termasuk penyelundupan senjata.
Sebuah surat dari Departemen Kehakiman AS hari Ahad menyebutkan Macias akan dihadirkan di pengadilan federal Brooklyn pada hari Senin ini untuk mendengarkan dakwaan. Pengacaranya, Alexei Schacht, mengatakan kepada media bahwa kliennya akan menyatakan tidak bersalah atas dakwaan yang dituduhkan kepadanya.
Macías dikeluarkan dari sel sebuah penjara berpenjagaan maksimum di bagian barat daya Ekuador pada hari Ahad guba menjalani proses ekstradisi, kata seorang juru bicara otoritas penjara nasional SNAI kepada awak media.
Macías, seorang bekas sopir taksi, pekan lalu di sebuah pengadilan di Quito menyatakan bersedia untuk diekstradisi ke AS guna menghadapi dakwaan.
Dia warga Ekuador pertama yang diekstradisi oleh negaranya ke negara lain berdasarkan undang-undang disahkan tahun lalu, setelah Presiden Daniel Noboa meminta pendapat rakyat lewat referendum guna menindak keras geng-geng kriminal.
Ekuador, yang terletak di antara dua negara penghasil kokain terbesar dunia Kolombia dan Peru, beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan tindak kekerasan geng kriminal yang berkaitan dengan persaingan antara kartel narkoba Meksiko dan Kolombia.
Los Choneros pimpinan Macias memiliki keterkaitan dengan kartel Sinaloa asal Meksiko dan Gulf Clan asal Kolombia serta mafia-mafia asal negeri di kawasan Balkan, menurut Ecuadorian Organized Crime Observatory.
Kaburnya Macias dari penjara memicu aksi kekerasan oleh geng kriminal di mana-mana dan pemerintah mengerahkan personel militer dan kepolisian dalam jumlah besar untuk menangkapnya. pemerintah Quito bahkan menawarkan sayembara berhadiah $1 juta untuk informasi yang berujung pada penangkapannya.
Pada 25 Juni, Macías ditemukan sedang bersembunyi di sebuah bunker yang disembunyikan di bawah lantai keramik di sebuah rumah mewah di kota pelabuhan nelayan Manta, daerah pusat operasi Los Choneros.
Tidak lama setelah Macias kabur dari penjara pada Januari 2024, Presiden Noboa menyatakan Ekuador dalam status darurat konflik bersenjata internal dan memerintahkan pengerahan militer beserta tank ke jalan-jalan guna “menetralisir” geng kriminal. Langkah ini dikritik oleh organisasi-organisasi peduli HAM.
Dalam wawancara dengan CNN ketika itu, Noboa mengatakan Macias akan diekstradisi “lebih cepat lebih baik … Kami dengan senang hati akan menyerahkannya ke tangan aparat hukum di Amerika Utara.”
Lebih dari 70% kokain yang diproduksi di dunia diedarkan melalui pelabuhan-pelabuhan Ekuador, menurut data pemerintah. Pada 2024 saja, aparat Ekuador berhasil menyita 294 ton narkoba yang sebagian besar berupa kokain.*




