Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Thailand dan Kamboja Setuju Gencatan Senjata Tanpa Syarat

Ama Farah
Terakhir diupdate: 28 Juli 2025 21:01 9:01 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 28 Juli 2025 21:01
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Thailand dan Kamboja setuju untuk melakukan gencatan senjata “segera dan tanpa syarat” setelah melakukan perundingan di Malaysia guna menghentikan pertempuran yang terjadi di sekitar perbatasan kedua negara bertetangga itu.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang bertindak sebagai tuan rumah, mengatakan kedua pihak mencapai kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata terhitung hari Senin tengah malam waktu setempat atau Selasa dini hari.

“Ini merupakan langkah vital pertama menuju de-eskalasi dan pemulihan perdamaian dan keamanan,” kata Anwar, seperti dilansir The Guardian Senin (28/7/2025).

Perundingan digelar di Malaysia, yang saat ini menjadi ketua blok kerja sama regional ASEAN, dan dihadiri oleh sejumlah pejabat dari Amerika Serikat dan China.

Negosiasi dilakukan kurang dari 48 jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa dia sudah menelepon pemimpin kedua negara tersebut, memperingatkan bahwa negosiasi dagang akan ditangguhkan sampai pertempuran berhenti. Thailand dan Kamboja menghadapi kemungkinan tarif AS 36% mulai 1 Agustus.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Sedikitnya 35 orang tewas dan lebih dari 300.000 orang terpaksa pergi meninggalkan rumah mereka sejak pertempuran pecah di perbatasan pada hari Kamis pekan lalu.

PM Kamboja Hun Manet mengatakan kepada awak media bahwa pihaknya berharap dan yakin hasil perundingan akan memberikan banyak peluang bagi ratusan ribu orang kembali ke rumah mereka, bagi kedua negara untuk berhenti saling serang dan membangun kembali kepercayaan dan kerja sama di antara mereka.

Pejabat sementara PM Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan kesepakatan itu mencerminkan tekad Thailand untuk mewujudkan perdamaian, dan mengatakan bahwa pihaknya berkeyakinan gencatan senjata akan berhasil bila ada keinginan baik dari kedua belah pihak.

Mereka berdua mengucapkan terima kasih kepada PM Anwar, AS dan China.

Hun Manet juga mengucapkan terima kasih kepada Trump atas mediasinya hari Sabtu.

Sebelumnya Hun Manet mengatakan perundingan akan diorganisir bersama oleh Malaysia, AS serta China. China memiliki hubungan dagang yang erat dengan Thailand dan Kamboja. Kamboja merupakan sekutu China di kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan kesepakatan hari Senin itu, Anwar mengatakan para komandan regional dari pihak militer Thailand dan Kamboja akan bertemu pada hari Selasa pukul 7 pagi. Pada tanggal 4 Agustus akan digelar pertemuan oleh komite perbatasan umum, sebuah badan yang dibentuk oleh Thailand dan Kamboja guna memfasilitasi negosiasi terkait perbatasan kedua negara.

Thailand dan Kamboja juga sepakat untuk melanjutkan kembali komunikasi langsung antara perdana menteri, menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara, kata Anwar.

Perselisihan Thailand dan Kamboja soal perbatasan wilayah sudah berlangsung lama dan masalahnya berakar dari pertikaian perihal peta wilayah pada masa kolonial. Bentrokan bersenjata terakhir ini dipicu oleh insiden bulan Mei, ketika baku tempat singkat di antara pasukan penjaga perbatasan kedua negara terjadi di kawasan perbatasan yang disengketakan, yang merenggut satu nyawa tentara Kamboja. Dari situ berkembang menjadi aksi saling balas.

Pekan lalu kedua negara menurunkan level hubungan diplomatik mereka dengan memanggil pulang duta besar masing-masing.

Tita Sanglee, seorang associate fellow di ISEAS-Yusof Ishak Institute, mengatakan terlalu dini untuk memastikan bahwa gencatan senjata itu dihormati. “Mengingat ketegangan masih sangat tinggi. Membangun kembali kepercayaan butuh dari sekedar waktu,” kata Sanglee.

Krisis diperparah dengan memburuknya hubungan antara Hun Sen – bekas PM Kamboja yang juga ayah dari PM Hun Manet – dan Thaksin Shinawatra, bekas PM Thailand yang juga ayah dari PM Thailand saat ini Paetongtarn Shinawatra.

Paetongtarn diberhentikan sementara dari tugasnya sebagai PM bulan ini, setelah Hun Sen membocorkan rekaman pembicaraan telepon antara dirinya dengan Paetongtarn Shinawatra, di mana Paetongtarn memanggil Hun Sen dengan sebutan paman.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kamboja
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Brigade Al-Qassam Hamas bagikan rekaman video sergap APC Israel (Video) Hamas Sergap Zionis dari Dekat, Ledakkan 3 APC ‘Israel’ Beserta Kru di Dalamnya
Tulisan selanjutnya Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar Milad MUI ke-50: Ulama Harus Menjaga Umat dari Perpecahan dan Perselisihan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Berita
18 Juli 2026 10:12
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

17 Juli 2026 15:23
Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

17 Juli 2026 14:04
Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

15 Juli 2026 21:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?