Hidayatullah.com– Thailand dan Kamboja setuju untuk melakukan gencatan senjata “segera dan tanpa syarat” setelah melakukan perundingan di Malaysia guna menghentikan pertempuran yang terjadi di sekitar perbatasan kedua negara bertetangga itu.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang bertindak sebagai tuan rumah, mengatakan kedua pihak mencapai kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata terhitung hari Senin tengah malam waktu setempat atau Selasa dini hari.
“Ini merupakan langkah vital pertama menuju de-eskalasi dan pemulihan perdamaian dan keamanan,” kata Anwar, seperti dilansir The Guardian Senin (28/7/2025).
Perundingan digelar di Malaysia, yang saat ini menjadi ketua blok kerja sama regional ASEAN, dan dihadiri oleh sejumlah pejabat dari Amerika Serikat dan China.
Negosiasi dilakukan kurang dari 48 jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa dia sudah menelepon pemimpin kedua negara tersebut, memperingatkan bahwa negosiasi dagang akan ditangguhkan sampai pertempuran berhenti. Thailand dan Kamboja menghadapi kemungkinan tarif AS 36% mulai 1 Agustus.
Sedikitnya 35 orang tewas dan lebih dari 300.000 orang terpaksa pergi meninggalkan rumah mereka sejak pertempuran pecah di perbatasan pada hari Kamis pekan lalu.
PM Kamboja Hun Manet mengatakan kepada awak media bahwa pihaknya berharap dan yakin hasil perundingan akan memberikan banyak peluang bagi ratusan ribu orang kembali ke rumah mereka, bagi kedua negara untuk berhenti saling serang dan membangun kembali kepercayaan dan kerja sama di antara mereka.
Pejabat sementara PM Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan kesepakatan itu mencerminkan tekad Thailand untuk mewujudkan perdamaian, dan mengatakan bahwa pihaknya berkeyakinan gencatan senjata akan berhasil bila ada keinginan baik dari kedua belah pihak.
Mereka berdua mengucapkan terima kasih kepada PM Anwar, AS dan China.
Hun Manet juga mengucapkan terima kasih kepada Trump atas mediasinya hari Sabtu.
Sebelumnya Hun Manet mengatakan perundingan akan diorganisir bersama oleh Malaysia, AS serta China. China memiliki hubungan dagang yang erat dengan Thailand dan Kamboja. Kamboja merupakan sekutu China di kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan kesepakatan hari Senin itu, Anwar mengatakan para komandan regional dari pihak militer Thailand dan Kamboja akan bertemu pada hari Selasa pukul 7 pagi. Pada tanggal 4 Agustus akan digelar pertemuan oleh komite perbatasan umum, sebuah badan yang dibentuk oleh Thailand dan Kamboja guna memfasilitasi negosiasi terkait perbatasan kedua negara.
Thailand dan Kamboja juga sepakat untuk melanjutkan kembali komunikasi langsung antara perdana menteri, menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara, kata Anwar.
Perselisihan Thailand dan Kamboja soal perbatasan wilayah sudah berlangsung lama dan masalahnya berakar dari pertikaian perihal peta wilayah pada masa kolonial. Bentrokan bersenjata terakhir ini dipicu oleh insiden bulan Mei, ketika baku tempat singkat di antara pasukan penjaga perbatasan kedua negara terjadi di kawasan perbatasan yang disengketakan, yang merenggut satu nyawa tentara Kamboja. Dari situ berkembang menjadi aksi saling balas.
Pekan lalu kedua negara menurunkan level hubungan diplomatik mereka dengan memanggil pulang duta besar masing-masing.
Tita Sanglee, seorang associate fellow di ISEAS-Yusof Ishak Institute, mengatakan terlalu dini untuk memastikan bahwa gencatan senjata itu dihormati. “Mengingat ketegangan masih sangat tinggi. Membangun kembali kepercayaan butuh dari sekedar waktu,” kata Sanglee.
Krisis diperparah dengan memburuknya hubungan antara Hun Sen – bekas PM Kamboja yang juga ayah dari PM Hun Manet – dan Thaksin Shinawatra, bekas PM Thailand yang juga ayah dari PM Thailand saat ini Paetongtarn Shinawatra.
Paetongtarn diberhentikan sementara dari tugasnya sebagai PM bulan ini, setelah Hun Sen membocorkan rekaman pembicaraan telepon antara dirinya dengan Paetongtarn Shinawatra, di mana Paetongtarn memanggil Hun Sen dengan sebutan paman.*




