Hidayatullah.com – Pihak kepolisian Istanbul berhasil menangkap seorang pria yang berupaya membakar Masjid Hagia Sophia dan melarikan diri dari lokasi kejadian. Pelaku, yang menyulut api dengan salinan Injil saat melancarkan aksinya, dilaporkan memiliki catatan kriminal panjang.
Berita pembakaran baru viral dan ramai diperbincangkan pada 5 Agustus, meskipun sebenarnya insiden tersebut terjadi pada 11 Juli sekitar pukul 22.00.
Menurut media lokal, Haber Turk, insiden yang terjadi itu bermula ketika seorang pria dengan menyembunyikan wajahnya dari kamera dengan topi merah memasuki Masjid Agung Hagia Sophia. Kamera CCTV masjid memperlihatkan pria tersebut langsung membakar sebuah buku di samping sebuah tiang di depan Perpusatakaan Mehmet II.
Api yang membakar buku tersebut, yang kemudian diidentifikasi sebagai salinan Injil, kemudian menyebabkan karpet di bawah buku tersebut terbakar. Pria itu meninggalkan lokasi kejadian dengan tergesa-gesa menggunakan kendaraan, tetapi petugas polisi yang ditempatkan di dekat Hagia Sophia berhasil mengidentifikasi tersangka, yang kemudian ditangkap. Sementara itu, api dengan cepat dipadamkan oleh petugas keamanan sebelum menyebar.
Tersangka pembakar kemudian diidentifikasi sebagai Mesut Guclu, seorang warga berusia 42 tahun dari distrik Kagithane, Istanbul. Dalam pernyataannya dua hari setelah insiden, ia mengatakan bahwa ia seorang duda dengan tiga anak, serta membela diri dengan menyatakan bahwa ia menderita gangguan jiwa dan meminta perawatan.
Penyelidikan awal menemukan bahwa tersangka memiliki banyak catatan kriminal, termasuk tuduhan penyerangan, pengancaman, penghinaan, dan pencurian kendaraan, dan sebelumnya telah dirawat di rumah sakit jiwa setidaknya lima kali.
Setelah diperiksa oleh jaksa dan dihadapkan pada hakim di Istanbul, pengadilan memutuskan bahwa—berdasarkan bukti yang diajukan yang mengarah pada kejahatan ‘menyerang tempat ibadah’ dan bahwa tahanan telah melarikan diri setelah insiden dan berisiko merusak atau menghilangkan barang bukti—ia harus ditahan, sehingga ia kemudian dijebloskan ke penjara.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Yayasan melaporkan dalam sebuah pernyataan bahwa, setelah insiden pada 11 Juli, api berhasil dipadamkan tepat waktu dan tidak ada kerusakan signifikan yang terjadi di bagian dalam Hagia Sophia.
Peringatan 5 tahun Masjid Hagia Sophia
Pada 10 Juli 2025, sehari sebelum insiden pembakaran, menandai peringatan lima tahun pembukaan kembali Hagia Sophia menjadi masjid, membatalkan statusnya sebagai museum yang ditetapkan dalam keputusan Kabinet tahun 1934.
Setelah penaklukan Istanbul oleh sultan Utsmaniyah ketujuh, Mehmed II, pada 29 Mei 1453, Hagia Sophia, yang telah berfungsi sebagai gereja selama 916 tahun, diubah menjadi masjid.
Berkat penaklukan kota yang dulunya bernama Konstantinopel, Sultan Mehmed mendapatkan gelar “Fatih” (Sang Penakluk) dan melaksanakan shalat Jumat pertama di Hagia Sophia pada 1 Juni 1453.
Dengan jatuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah dan berdirinya Republik Turki, status Hagia Sophia berubah lagi. Pada 24 November 1934, Dewan Menteri mengeluarkan Dekrit No. 7/1589, yang mengubah Hagia Sophia menjadi museum.
Pada tahun 2016, Asosiasi untuk Layanan Yayasan Sejarah dan Lingkungan mengajukan gugatan kepada Dewan Negara untuk membatalkan keputusan Kabinet tahun 1934 tersebut. Kasus ini diselesaikan pada 10 Juli 2020, ketika Majelis ke-10 Dewan Negara dengan suara bulat membatalkan keputusan Kabinet tahun 1934 yang menetapkan status museum Hagia Sophia.
Keputusan Dewan Negara disambut gembira oleh warga yang berkumpul di Alun-alun Hagia Sophia. Pada hari yang sama, Presiden Recep Tayyip Erdoğan menandatangani Keputusan Presiden untuk membuka kembali Hagia Sophia untuk beribadah.
Keputusan Presiden tersebut juga mengalihkan Hagia Sophia ke Direktorat Urusan Agama (Diyanet) dan menyetujui pemulihan statusnya sebagai masjid. Keputusan ini dipublikasikan dalam edisi khusus Lembaran Negara yang dirilis pada hari yang sama.*




