Hidayatullah.com – Yusha Evans adalah seorang misionaris muda. Suatu ketika ia kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya menjadi titik awal iman Kristennya goyah. ‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Bibel?’’ tanya Benjamin tiba-tiba. ‘’Hei, apa maksudmu kawan?” tukas Yusha, “Saya ini seorang misionaris dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’
Benjamin menjawab, ‘’Apakah kau pernah membaca Bibel seperti membaca sebuah novel mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tahu seluruh detail isinya?’’
Yusha mengaku tak pernah membaca Bibel dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Bibel dari awal hingga akhir. Dia memintanya untuk membaca Bibel selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Bibel.
Maka mulailah Yusha membaca Bibel dari awal. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Bibel dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya.
Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar. Hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat. Setelah banjir, Nabi Nuh meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk.
Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. ‘’Tidak mungkin seorang nabi mabuk,” katanya. Yusha kembali melanjutkan bacaannya.
Semakin dalam membaca, kian banyak ia menemukan kesenjangan dalam Bibel. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan.
Mereka malah seperti pelaku kriminal, yang justru dicari-cari polisi. Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa.
Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya mengatakan, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinanmu terhadap Yesus.’’
Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Cukup percaya saja pada apa yang diajarkan.
Sejumlah pendeta bahkan memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Sebab kitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka memintanya untuk membaca Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut Yesus berkata Tuhan itu satu. Ayat tersebut adalah Markus 12:29, yang berbunyi, “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”
Ia juga menemukan ayat yang menyebutkan Yesus memerintahkan untuk menyembah satu Tuhan. Perintah tersebut ada di surat Matius 4:10 dan Lukas 4:8, di mana Yesus berkata, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Namun faktanya, kata Yusha, mengapa para pendeta menyuruh menyembah Trinitas.
Rasa penasaran Yusha semakin menggebu. Ia pun mempertanyakan penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya. Dalam hatinya muncul kegamangan. Menurut Yusha hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya dipaku tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta.
Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang berkhutbah di gerejanya. Yusha tentu saja kecewa, namun ada yang membuatnya lebih kecewa.
‘’Aku,” kata Yusha, “telah membaca Bibel berulang kali. Bibel pun sudah dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Kitab ciptaannya haruslah sempurna pula.’’
Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memilih untuk mencari agama lain. Lantas, mengapa ia memilih Islam, bukan agama lain?
Jawabannya ada di video di bawah ini:




