Hidayatullah.com– Seorang anggota parlemen dari kelompok Hizbullah, hari Sabtu (6/9/2025), menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menyerahkan senjata, satu hari setelah pemerintah Libanon memerintah militer untuk melucuti persenjata kelompok itu.
Politisi Hizbullah, Hassan Ezzedine, mengatakan kelompoknya tidak akan menyerahkan senjatanya atas dasar keadaaan atau alasan apapun, lapor National News Agency seperti dilansir AFP.
Di tengah tekanan kuat dari Amerika Serikat dan kekhawatiran akan serangan udara Zionis Israel atas wilayahnya, pemerintah Beirut bulan lalu memerintahkan militer untuk membuat rencana pelucutan senjata Hizbullah sebelum akhir tahun ini.
Pada pertemuan hari Jumat, yang dicela Hizbullah dan para sekutunya, kabinet menyetujui rencana yang dibuat militer.
Berbicara usai pertemuan itu, Menteri Informasi Paul Morcos militer akan mulai melaksanakan rencana itu “sesuai dengan kapabilitas yang ada.”
Dia mengatakan bahwa komandan militer memperingatkan perihal “hambatan” dalam pelaksanaannya, terutama “serangan Israel”, dan tidak memberikan waktu pelaksanaan operasi tersebut.
Para pihak yang membuat rencana jahat dan keputusan gegabah perihal pelucutan senjata Hizbullah dan mereka yang mendukung rencana itu, harus memikirkan ulang dan mengoreksi kesalahan mereka, kata Ezzedine dalam sebuah acara yang digelar pada hari Sabtu di bagian selatan Libanon yang merupakan basis pendukungnya. “Jika tidak, mereka akan menanggung akibatnya… yang akan datang kemudian,” imbuhnya.
Ezzedine memuji “sikap berani” para menteri Shis dari HIzbullah dan sekutunya Amal yang melakukan aksi walk out saat rapat kabinet, ketika militer mulai memaparkan rencana pelucutan senjata Hizbullah yang mereka rancang.
Pemerintah mengatakan pelucutan senjata Hizbullah merupakan bagian dari implementasi gencatan senjata yang dijembatani Amerika Serikat yang mengakhiri lebih dari satu tahun perseteruan antara petempur Hizbullah dan Israel pada bulan November 2024.
Meskipun sudah ada gencatan senjata, Israel masih terus menggempur wilayah Libanon dengan alasan menarget HIzbullah, mengatakan bahwa mereka akan berhenti apabila senjata militan itu sudah dilucuti seluruhnya.
Israel saat ini masih menempatkan pasukannya di lima titik di bagian selatan Libanon yang dianggap strategis.*




