Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

KNEKS: Ekosistem Halal Indonesia Harus Tersambung dari Industri hingga Keuangan Syariah

Bambang S
Terakhir diupdate: 10 Oktober 2025 15:55 3:55 pm
Bambang S
Dipublikasikan 10 Oktober 2025 15:55
Bagikan
KNEKS: Ekosistem Halal Indonesia Harus Tersambung dari Industri hingga Keuangan Syariah
Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sholahudin Al-Aiyub
Bagikan

Hidayatullah.com – Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sholahudin Al-Aiyub, menegaskan pentingnya membangun ekosistem halal yang terintegrasi di Indonesia. Hal ini ia sampaikan dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Jiexpo Kemayoran Jakarta 08-12 Oktober 2025.

Daftar isi
  • Ekosistem Halal yang Berhasil
  • Jadi Acuan Negara Lain
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Menurut kiai Aiyub konektivitas antara industri halal, keuangan syariah, dan keuangan sosial syariah seperti Zakat, Infak, Sedekah belum berjalan optimal. Padahal hal ini menjadi kunci untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.

Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah ini mengakui, target Indonesia untuk menjadi negara nomor satu dalam industri halal dunia pada 2029 bukan perkara mudah. Negara-negara lain seperti Malaysia dan Arab Saudi disebutnya melakukan akselerasi yang luar biasa dalam penguatan sektor halal.

“Jika kita melihat potensi dalam negeri, dengan dukungan pemerintah dan komitmen industri, kita tetap optimis bisa memperkuat ekosistem halal nasional,” ujar Sholahudin kepada Hidayatullah Online di Booth KNEKS dalam diskusi seputar Penguatan Sektor Ekonomi dan Keuangan Syariah Nasional, Kamis (09/102025).

Sholahudin menyoroti bahwa hingga kini hubungan antara industri produk halal dan keuangan syariah masih terpisah. Padahal, integrasi kedua sektor ini sangat penting agar tumbuh bersama secara berkelanjutan.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

“Saat ini industri produk halal masih berjalan sendiri, seakan-akan tidak terkait dengan keuangan syariah. Padahal kalau terhubung dengan keuangan sosial syariah seperti zakat dan infak, sedekah, dampaknya akan luar biasa,”tambahnya.

Sebagai contoh, Kiai Aiyub menyebut program KNEKS yang mendorong pelaku usaha kecil mengurus sertifikasi halal dengan pembiayaan berbasis Zakat Investment.

“Pelaku kecil bisa didorong lewat keuangan sosial syariah. Lalu ketika bisnisnya berjalan, mereka gunakan sistem keuangan syariah. Kalau ekosistem seperti ini bisa dirancang baik, daya saing kita akan semakin kuat,” jelasnya.

Ekosistem Halal yang Berhasil

Kiai Aiyub melanjutkan, ketika ada teman-teman dari Malaysia menanyakan bagaimana mengintegrasikan ekosistem halal. Maka contoh yang bisa kami berikan adalah di rumah sakit dan hotel syariah.

“Contoh terbaik kita adalah rumah sakit syariah. Dari dapur, laundry, hingga layanan medisnya semuanya bersertifikasi halal dan dikelola dengan skema keuangan syariah,” tutur Sholahudin.

“Yang kedua adalah hotel syariah. Restoran di dalamnya harus halal. Keuangannya juga dikelola sesuai prinsip syariah,” imbuhnya.

Meski demikian, ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah. Indonesia, kata Sholahudin, masih menjadi net consumer dalam industri halal, khususnya untuk sektor makanan dan minuman.

“Kita ini masih sangat menjadi konsumen besar. Misalnya untuk bahan gelatin, yang bahan utamanya tulang. Sebagian besar gelatin dunia berasal dari tulang babi, sementara kita belum mampu memproduksi dari tulang sapi yang halal,” ujarnya.

Jadi Acuan Negara Lain

Namun di sisi lain, Indonesia justru memiliki keunggulan pada jaminan kepastian halal. Sistem sertifikasi halal yang dikembangkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) kini menjadi acuan bagi sejumlah negara lain. “BPJPH sudah meluncurkan standar halal Indonesia yang bisa menjadi rujukan bagi negara-negara lain,” jelas Kiai Aiyub.

Di sektor farmasi dan kosmetika, KNEKS juga mendorong agar proses produksi sejak awal mempertimbangkan aspek kehalalan bahan. “Farmasi tidak bisa serta-merta mengganti bahan karena menyangkut efektivitas dan keamanan. Maka dari awal harus direncanakan apakah produknya akan halal atau tidak,” ujarnya.

“Begitu juga kosmetika. Sekarang sudah ada beberapa brand lokal yang kuat dan mulai berbicara di level global,” tambahnya.

Sholahudin optimistis, jika seluruh sektor industri, keuangan, sosial, dan riset saling terhubung dalam satu ekosistem halal yang utuh, Indonesia akan mampu menjadi pusat industri halal dunia. “Kalau kita serius, kita bisa masuk dan bersaing di level global. Ekosistem yang terbangun kuat akan menjadi kekuatan besar kita,” pungkasnya.*Azim Arrasyid

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ekonomi SyariahEkosistem HalalHeadlineKeuangan Syariahproduk halalSholahudin Al-Aiyub
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Indonesia Sharia Economic Festival Usulan Prioritas Bagi Haji Muda Perlu Data dan Pertimbangan Demografis
Tulisan selanjutnya Detail Pertukaran Tahanan Gaza: Kesepakatan Tahap Awal dan Tanggapan Para Analis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Berita
15 Juli 2026 20:18
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

17 Juli 2026 15:23
Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

17 Juli 2026 14:04
Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

15 Juli 2026 21:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?