Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Portugal akan Larang Burqa, Hanya Boleh Dipakai di Tempat Ibadah

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 21 Oktober 2025 12:04 12:04 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 21 Oktober 2025 13:00
Bagikan
Larangan Burqa Swiss
Bagikan

Hidayatullah.com – Parlemen Portugal telah menyetujui rancangan undang-undang yang melarang penutup wajah seperti burqa dan niqab di ruang publik. Larangan tersebut harus disetujui oleh presiden sebelum disahkan menjadi undang-undang.

Melansir 5Pillars, RUU yang melarang penutup wajah itu diajukan oleh partai sayap kanan Portugal, dan didukung oleh mayoritas partai sosial, dan liberal. Hanya sebagian kecil saja yang menentang.

Jika disahkan, rancangan undang-undang ini akan mengenakan denda mulai dari €200 hingga €4.000 (Rp3,8 juta hingga Rp19,6 juta) bagi siapa pun yang mengenakan pakaian yang menutupi wajah di ruang publik.

Pengecualian akan berlaku untuk alasan kesehatan, keselamatan, budaya, atau agama dalam keadaan tertentu. Penutup wajah tetap diizinkan di misi diplomatik, pesawat terbang, dan tempat ibadah.

Para pendukung undang-undang ini berpendapat bahwa undang-undang ini melindungi hak-hak perempuan dan memperkuat keselamatan publik.

Baca Juga

AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Mereka juga menyatakan bahwa perempuan yang dipaksa mengenakan burka kehilangan otonomi dan martabat, dan menegaskan bahwa imigran di Portugal harus menghormati norma-norma sosial negara tersebut, termasuk menjaga wajah mereka tetap terlihat di depan umum.

Anggota parlemen yang mendukung RUU tersebut juga mengutip kekhawatiran tentang identitas dan keamanan sebagai pembenaran atas dukungan mereka.

Namun, para penentang memperingatkan bahwa usulan tersebut berisiko menyasar Muslim dan mendorong intoleransi.

“Inisiatif ini semata-mata digunakan untuk menyasar orang asing, mereka yang memiliki keyakinan berbeda,” kata anggota parlemen dari Partai Sosialis (PS), Pedro Delgado Alves, yang partainya menentang RUU tersebut, menurut The Guardian.

Ia menambahkan bahwa meskipun tidak ada perempuan yang boleh dipaksa mengenakan jilbab, pendekatan partai sayap kanan ekstrem tersebut keliru.

RUU tersebut sekarang akan ditinjau oleh komite parlemen untuk Urusan Konstitusional, Hak, Kebebasan, dan Jaminan sebelum diajukan kepada Presiden Marcelo Rebelo de Sousa. Ia dapat menyetujuinya, memvetonya, atau merujuknya ke Mahkamah Konstitusi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Jika disahkan menjadi undang-undang, Portugal akan masuk ke dalam daftar negara Eropa yang memberlakukan pembatasan penutup wajah di ruang publik.

Prancis menjadi negara Eropa pertama yang menerapkan larangan burqa dan niqab pada tahun 2011, diikuti oleh Belgia setahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2010. Bulgaria memberlakukan larangan tersebut pada tahun 2016 dengan alasan masalah keamanan, sementara Austria mengesahkan undang-undang serupa pada tahun 2017.

Larangan di Denmark mulai berlaku pada tahun 2018, dan Belanda mengadopsi larangan parsial pada tahun 2012 yang mencakup sekolah, rumah sakit, dan transportasi umum. Norwegia juga mengesahkan undang-undang pada tahun yang sama yang membatasi penggunaan penutup wajah di lingkungan pendidikan.

Swiss menjadi negara terbaru yang mengikuti langkah ini, menyetujui larangan nasional melalui referendum tahun 2021 yang akan berlaku efektif pada Januari 2025.

Meskipun hanya sedikit perempuan di Portugal yang mengenakan burka atau niqab, undang-undang yang diusulkan telah memicu kembali perdebatan tentang keseimbangan antara sekularisme dan kebebasan beragama, serta tentang semakin besarnya pengaruh politik sayap kanan di Eropa.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:burqalarangan cadarniqabpenutup wajahPortugalUni Eropa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Abdurrahman Muhammad Bapak Pimpinan Umum Hidayatullah Kepemimpinan Syuro Kekayaan Moral Sekaligus Benteng Hidayatullah
Tulisan selanjutnya Erwin Aksa Pemuda Harus Jadi Penggerak Ekosistem Halal dan Penjaga Persatuan Bangsa Erwin Aksa: Pemuda Harus Jadi Penggerak Ekosistem Halal dan Penjaga Persatuan Bangsa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Berita
31 Agustus 2026 18:22
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
600 Aktivis Wahdah Islamiyah Ikuti Standardisasi Dai MUI

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing

2 September 2026 15:07
Berita

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

1 September 2026 12:00
Berita

Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

1 September 2026 09:01
Berita

Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

31 Agustus 2026 22:46
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?