Hidayatullah.com – Dewan Pakar Bidang Pendidikan Hidayatullah, Ali Imron, menegaskan tantangan menuju Indonesia Emas 2045 sebagai peluang sekaligus tantangan. Hal ini ia sampaikan dalam sambutan di arena Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 Hidayatullah yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta pada Kamis 23 Oktober 2025.
“2045, sebuah peluang sekaligus tantangan. Dari mana kita harus memulai tentu dari diri kita masing-masing. Bagaimana keluarga kita, bagaimana komunitas Hidayatullah di daerah-daerah,” kata Ali Imron dalam sambutannya dalam Munas VI Hidayatullah yang mengambil tema besar “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”.
Ia mengajak para kader untuk menatap jauh ke depan, tanpa melupakan akar perjuangan Hidayatullah. “Masa lalu penting untuk keseimbangan, tapi tatapan kita harus tetap ke depan, kepada sesuatu yang penting dan strategis. Apa yang kita lakukan hari ini mencerminkan yang akan kita dapatkan di masa yang akan datang,” lanjutnya.
Imron mengatakan kalau kita tidak menyiapkan diri dari sekarang, kita akan menjadi buih. Karena itu, kader Hidayatullah harus memantapkan diri, menatap masa depan dengan keyakinan dan visi yang kuat.
Imron menyampaikan optimismenya, bahwa Hidayatullah akan memiliki peran strategis dalam membangun generasi berkarakter global namun berakar kuat pada nilai keindonesiaan. “Sekolah-sekolah kita bukan sekadar pesantren biasa. Ia tumbuh dari kultur Indonesia, membawa misi perjuangan, dan punya obsesi global,” ujarnya.
Ia mencontohkan capaian penting lembaga pendidikan Hidayatullah yang telah bekerjasama dengan Universitas Islam Madinah (UIM) serta terkoneksi dengan kurikulum internasional seperti Cambridge. “Ini bagian dari kesiapan menghadapi masa depan, tanpa meninggalkan jati diri dakwah Hidayatullah,” tegasnya.
Imron meyakini, kekuatan Hidayatullah terletak pada sinergi antara pendidikan, kaderisasi, dan semangat dakwah yang berkelanjutan. “Saya meyakini Hidayatullah akan berperan maksimal di masa yang akan datang dan itu semua kuncinya ada pada ingin membangun sekaligus bersinergi,” tandasnya.
Kembali ke Hidayatullah
Ali Imron juga menyampaikan pesan bahwa kehadirannya di arena Musyawarah Nasional ke-6 Hidayatullah adalah dorongan para sahabat dan keluarga. “Pagi ini, di luar nalar saya diberi kesempatan untuk berdiri di majelis yang sangat terhormat,” ujarnya di awal mukadimah.
Ia menuturkan kedatangannya, bukan tanpa pergulatan panjang. “Panjang jalan ceritanya sampai kemudian saya bisa hadir di tempat ini berdasarkan desakan Ustaz Abdurrahman. Utamanya yang paling ngotot adalah istri dari almarhum Ustadz Abdul Manan,” ujarnya. “Seharian diskusi panjang dan mengharuskan saya memantapkan hati saya untuk bisa hadir dengan suasana yang sesungguhnya kurang percaya diri,” sambung Imron.
Bagi Pendiri Al-Izzah International Islamic Boarding School ini, perjalanan sampai pada titik ini mempunyai makna, kesadaran spiritual di tengah perjalanan panjang Hidayatullah. Ia mengistilahkan masih ada “cahaya yang bersinar” yang harus dijaga dan diperkuat.
“Di sini ada cahaya yang masih bersinar. Di sini ada harapan sekaligus tantangan yang sangat berat. Dan untuk itulah kemudian, kalau toh itu lilin, kalau toh itu kunang-kunang yang jauh di seberang masih memungkinkan untuk bisa hadir ikut membantu cahaya yang kini sedang bersinar,” sambungnya, disambut gemuruh takbir Musyawirin. “Allahu Akbar”.
Dalam pandangannya, Musyawarah Nasional ini bukan sekadar forum seremonial, tetapi momen penagihan moral bagi seluruh kader Hidayatullah. “Seolah-olah saya sedang ditagih. Tagihan itu bukan harta atau jabatan, tapi tagihan moral apa yang harus kita berikan untuk memikul amanat dakwah, tugas yang begitu mulia, misi perjalanan jihad di negeri yang tercinta ini, di Hidayatullah” tegasnya.* Azim Arrasyid




