Hidayatullah.com— Seorang pemimpin senior Jamiat Ulema‑e‑Islam (JUI) dari provinsi Khyber Pakhtunkhwa (KPK), Pakistan, dilaporkan tewas dalam penganiayaan brutal yang melibatkan penembakan oleh pelaku tak dikenal di wilayah Charsadda. Korban, Hafiz Abdul Salam Arif, dikenal sebagai ulama berpengaruh dan anggota dewan provinsi partai tersebut.
Menurut kepolisian setempat, Inspektur Penyidikan Safdar Khan menyatakan bahwa Arif sedang dalam perjalanan pulang setelah melaksanakan salat di sebuah masjid saat dua pria berbaju gelap yang mengendarai sepeda motor menembaknya secara tiba‑tiba.
“Insiden sedang diselidiki dari segala sudut,” ujar Safdar Khan dikutip laman Dawn. “Polisi telah mengumpulkan bukti dari lokasi kejadian dan juga memanggil tim ahli untuk memberikan bantuan.”
Menurut laporan The Milli Chronicle, insiden terjadi pada hari Selasa di kawasan Tehsil Tangi, tepatnya Jalan Mandani–Takhthbhai dekat wilayah jamalabad dairy farm, Charsadda.
Arif, selain menjabat sebagai anggota dewan provinsi JUI, juga dikenal sebagai pengelola madrasah Abu Bakar Siddique di Tangi serta khatib (penceramah) di salah satu masjid setempat.
Dalam pernyataan tertulis, seorang petugas kepolisian menyebut: “Putra korban telah mendaftarkan laporan di Kantor Polisi Mandani.”
Hingga saat ini, belum ada pihak yang secara resmi mengklaim tanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Beberapa analisis media melihat insiden ini sebagai bagian dari pola pembunuhan tokoh agama dan politikus lokal yang meningkat di wilayah barat laut Pakistan, yang sering disebut oleh media sebagai aksi ‘unknown gunmen’ (penembak tak dikenal), kutip Millennium Post.
Seorang pengamat keamanan menyatakan bahwa fenomena penembakan terhadap tokoh JUI dan militan Islam konservatif lainnya dapat dikaitkan dengan persaingan antar‑kelompok ideologis maupun perubahan orientasi strategis lembaga intelijen Pakistan.
“Formasi kekuatan bayangan ini menyampaikan pesan bahwa tak seorang pun tak tersentuh,” tulis analisis di media independent.
Partai JUI dipimpin oleh Maulana Fazal‑ur‑Rehman dan selama ini berperan aktif dalam politik nasional Pakistan serta di kawasan KPK. Pembunuhan Arif dipandang oleh sejumlah pengamat sebagai pukulan terhadap jaringan pengaruh partai di wilayah pedesaan dan madrasah—yang selama ini menjadi basis sosialnya.
Pihak kepolisian mengatakan penyelidikan telah dibuka dan petugas sedang memeriksa tayangan kamera pengawas, jejak kendaraan, serta motif yang mungkin terkait dengan aktivitas politik maupun keagamaan korban.
“Kami belum mengecualikan kemungkinan persaingan lokal maupun agenda eksternal,” kata Safdar Khan.
Sementara itu, masyarakat dan umat muslim di Charsadda serta kader JUI tampak berduka. Seorang warga lokal yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan:
“Beliau sangat dihormati sebagai guru dan pembimbing—kini kami kehilangan pengayom.”
Kejadian pembunuhan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai keamanan para pemimpin agama dan partai politik di kawasan KPK, serta bagaimana aparat keamanan akan merespon meningkatnya aksi kekerasan terhadap tokoh publik.
Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan politik‑keagamaan yang belum sepenuhnya terkuak pelakunya di Pakistan.
Pemerintah provinsi KPK dan otoritas federal belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun menurut laporan situs berita “Dawn”, kepolisian telah melakukan penjagaan ekstra di seluruh Charsadda dan daerah sekitarnya guna mencegah eskalasi. Dengan tidak adanya klaim tanggung jawab dan motif yang jelas sampai saat ini, kasus pembunuhan Hafiz Abdul Salam Arif tetap menjadi bahan pengawasan bagi pengamat keamanan dan politik di Pakistan — apakah ini hanya aksi kriminal semata, atau bagian dari konflik ideologis yang lebih luas.*




