Hidayatullah.com—Presiden Suriah, Ahmad al‑Sharaa, menegur para mantan komandannya terkait kemewahan yang mencolok dan mengambil langkah tegas terhadap praktik nepotisme, termasuk menutup kantor bisnis saudaranya, Jamal al‑Sharaa, sebagai bagian dari upaya pencegahan korupsi di Suriah.
Laporan ini dikutip dari Reuters dalam artikel “No spoils of war: Syria’s new ruler lays down the law to loyalists” (31/10/2025).
Dalam pertemuan tertutup di Idlib pada 30 Agustus, Sharaa menyoroti sejumlah mobil mewah, termasuk Cadillac Escalade dan Range Rover, yang digunakan oleh pejabat dan mantan komandan loyalis.
Ia menegur mereka dengan pertanyaan: “Apakah kalian lupa bahwa kalian adalah anak-anak revolusi? Sudah tergoda begitu cepat?”
Beberapa pegawai negeri bahkan diminta menyerahkan kunci mobil mereka atau menghadapi investigasi terkait keuntungan tidak sah, meski Kementerian Informasi menyatakan pertemuan itu bersifat “informal” dan membantah bahwa kunci benar-benar diserahkan.
Langkah ini menegaskan tekad Ahmad al‑Sharaa untuk mencegah praktik korupsi dan kolusi di pemerintahan Suriah pasca‑Assad.
Penutupan kantor bisnis saudara presiden, Jamal al‑Sharaa, terkait dugaan penggunaan hubungan keluarga untuk keuntungan pribadi, menjadi sinyal penting bahwa tidak ada toleransi terhadap nepotisme.
Reuters melaporkan bahwa dua kakak Sharaa lainnya memegang posisi strategis dalam pemerintahan baru, yang menandakan bahwa presiden tetap menjaga keseimbangan kekuasaan keluarga sambil menegakkan prinsip transparansi.
Situasi ini terjadi setelah Sharaa menggulingkan pemerintahan Bashar al‑Assad yang lama, meninggalkan Suriah dalam kondisi kekerasan sektarian sporadis.
Lebih dari 2.000 orang tewas dalam konflik antara mantan faksi pemberontak dan pasukan loyalis sebelumnya, serta terjadi penggusuran dan penyitaan properti yang luas.
Dengan menegur mantan komandan dan menutup kantor saudara, Ahmad al‑Sharaa berupaya memperkuat legitimasi pemerintahannya dan menandai awal reformasi administratif yang lebih bersih.
“Dia memerlukan sumber daya finansial yang cukup untuk mempertahankan administrasinya — bukan untuk keuntungan pribadi, tetapi untuk menjaga otoritasnya,” ujar Hossam Jazmati, peneliti Suriah, menekankan penting langkah Ahmad al-Sharaa ini.
Meski skeptisisme tetap ada terkait efektivitas awal langkah simbolis ini, tindakan Ahmad al‑Sharaa menjadi ujian penting bagi kepemimpinannya dalam membangun pemerintahan Suriah yang lebih transparan dan bebas dari praktik korupsi.
Reuters menyebut bahwa ini merupakan tanda awal dari transformasi budaya politik dan administratif yang diupayakan presiden baru.*




