Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

“Abu Lulu” Komandan RSF yang Akui Membunuh Lebih 2.000 Warga Sipil di Darfur

Ahmad
Terakhir diupdate: 8 November 2025 11:26 11:26 am
Ahmad
Dipublikasikan 8 November 2025 11:17
Bagikan
Abu Lulu — nama samaran dari Al-Fateh Abdullah Idris
Bagikan

Abu Lulu, dijuluki “Tukang Jagal El Fasher” akibat dugaan keterlibatannya dalam eksekusi massal warga sipil di Darfur, memicu desakan investigasi kejahatan kemanusiaan dan genosida Sudan

Hidayatullah.com | DUNIA internasional diguncang oleh pengakuan mengejutkan Al-Fateh Abdullah Idris, komandan milisi Rapid Support Forces (RSF) Sudan yang dikenal dengan julukan “Abu Lulu.” Dalam sebuah siaran langsung di media sosial, Abu Lulu mengaku telah membunuh lebih dari 2.000 orang sejak konflik bersenjata pecah di Darfur.

“Saya ingin membunuh 2.000 orang, tapi saya rasa jumlahnya sudah melewati itu. Saya sampai kehilangan hitungan, dan saya mulai dari nol lagi,” kata Abu Lulu dalam siaran langsung TikTok yang dikutip oleh Press TV (5/11/2025).

Pernyataan itu memicu kecaman luas dari berbagai organisasi kemanusiaan dan lembaga hak asasi manusia.

Al Jazeera melaporkan, video pengakuan tersebut memperkuat bukti keterlibatan langsung Abu Lulu dalam eksekusi massal warga sipil non-Arab di wilayah El Fasher, ibu kota negara bagian North Darfur.

Baca Juga

Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Menurut laporan Anadolu Agency (AA), Abu Lulu berasal dari suku Arab Mahariya (Rizeigat) dan memiliki hubungan dekat dengan keluarga Dagalo—klan pemimpin RSF, Mohamed Hamdan Dagalo alias “Hemedti.”

Koneksi ini disebut-sebut menjadi faktor yang mempercepat karier militernya hingga menjabat sebagai salah satu komandan lapangan paling berpengaruh dalam pasukan RSF.

TRT World menulis bahwa Abu Lulu awalnya bergabung dengan RSF sekitar tahun 2013, setelah mengikuti pelatihan militer. Ia kemudian dikirim ke Yaman sebelum memimpin operasi di Darfur. Selama operasi militer di El Fasher, ia dikenal karena taktik brutal dan gaya kepemimpinan ekstrem.

Sejumlah rekaman video yang diverifikasi oleh The Independent menunjukkan Abu Lulu mengeksekusi tahanan dan warga sipil secara langsung di hadapan anak buahnya.

“Ia berdiri dengan senjata otomatis dan memerintahkan orang-orangnya untuk menembak, satu per satu, ke arah warga sipil yang sudah ditahan,” tulis media itu (28/10/2025).

Abu Lulu’s "arrest" was nothing but a UAE PR stunt. He’s recently appeared in a new video in Babanusa despite previously boasting about killing more than 2,000 civilians.#Sudan pic.twitter.com/zw5XwtZk1T

— KimJongWins (@KimJongwins) November 6, 2025

Dalam investigasi Sudan Independent, banyak saksi mata melaporkan bahwa pasukan di bawah komando Abu Lulu menargetkan warga dari etnis Berti dan Borgo.

Para korban disebut dieksekusi setelah diidentifikasi berdasarkan suku. Pola kekerasan semacam ini, menurut para pengamat, memenuhi elemen pembersihan etnis.

Seorang peneliti dari Human Rights Watch, Omar Mahjoub, menegaskan bahwa pengakuan terbuka Abu Lulu memperlihatkan “tingkat impunitas yang menakutkan” di dalam tubuh RSF.

“Ia tidak hanya melakukan pembunuhan massal, tapi juga membanggakannya di depan publik. Ini bukan lagi sekadar pelanggaran perang—ini kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata Mahjoub dalam wawancara dengan Al Jazeera (4/11/2025).

Kementerian Luar Negeri Sudan menyatakan sedang mengumpulkan bukti untuk membawa kasus ini ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

“Kami tidak bisa menutup mata atas pengakuan seperti ini. Dunia harus bertindak,” ujar juru bicara Kemenlu, Ahmed El Tayeb, kepada Darfur 24 (1/11/2025).

Namun, pihak RSF mencoba meredam tekanan internasional. Dalam pernyataan resminya, juru bicara RSF menyebut Abu Lulu telah “ditahan” untuk penyelidikan internal. “Kami tidak mentoleransi pelanggaran terhadap warga sipil,” demikian pernyataan RSF yang dikutip Al Jazeera.

Meski demikian, para analis meragukan keaslian penangkapan tersebut. “Langkah RSF menahan Abu Lulu tampaknya hanya strategi pencitraan untuk menutupi keterlibatan struktural mereka dalam kejahatan di Darfur,” tulis Al Jazeera dalam analisisnya berjudul ‘Arrest of Abu Lulu Does Little to Distance RSF from Sudan Massacre’ (4/11/2025).

Sejak konflik antara RSF dan militer Sudan (SAF) pecah pada April 2023, wilayah Darfur menjadi medan paling berdarah.

Menurut Washington Post, lebih dari 10.000 orang telah tewas dan jutaan lainnya terpaksa mengungsi, sebagian besar akibat kekerasan yang dilakukan pasukan RSF.

“Kasus Abu Lulu hanyalah puncak dari gunung es,” kata analis Sudan, Dr. Salma Eldoma, kepada TRT World. “Ia adalah simbol dari impunitas yang sudah lama dibiarkan tumbuh dalam konflik Darfur. Jika dunia gagal menuntut keadilan sekarang, sejarah akan berulang.”

Hingga kini, Abu Lulu belum diserahkan ke otoritas internasional, dan RSF masih menguasai sebagian besar wilayah barat Sudan. Pengakuannya yang viral memperkuat tekanan agar Mahkamah Pidana Internasional memperluas penyelidikan terhadap seluruh rantai komando RSF.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abu LuluDarfurgenosida SudanHeadlineJagal El FasherKonflik Sudan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Genosida Sudan: Apa yang Perlu Kita Tahu?
Tulisan selanjutnya Polisi Inggris Bilang Suporter Maccabi Tel Aviv Dilarang Nonton Laga Aston Villa karena Hooliganisme

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Terbaru

  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

18 Juli 2026 10:26
Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

18 Juli 2026 10:12
Berita

Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

18 Juli 2026 09:49
Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?