Hidayatullah.com– Mantan presiden Iraq Barham Salih terpilih menjadi pimpinan badan urusan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa UNHCR.
Majelis Umum, hari Kamis (18/12/2025), secara bulat memilih Salih atas rekomendasi Sekjen PBB Antonio Guterres lapor kantor berita IANS.
“Sebagai bekas pengungsi, saya mengetahui langsung bagaimana perlindungan dan kesempatan dapat mengubah jalan hidup seseorang,” kata Salih usai pemilihannya. “Pengalaman itu akan memperkaya pendekatan kepemimpinan yang berasaskan pada empati, pragmatisme, serta komitmen prinsip terhadap hukum internasional.”
Dia akan menggantikan tugas Gilippo Grandi asal Italia, yang masa jabatan keduanya habis pada akhir tahun ini.
Menyambut baik penggantinya, Grandi berkata, “Latar belakang dan pengalamannya membuat beliau pantas untuk memimpin UNHCR di saat terjadi pengungsian berskala besar dan semakin rumitnya tantangan kemanusiaan dan politik.”
Guterres sendiri sebelumnya juga pernah memimpin lembaga PBB yang mengurus keperluan para pengungsi di seluruh dunia itu.
Kecuali Sadruddin Aga Khan dan Sadako Ogata asal Jepang, delapan komisioner lainnya yang duduk di kursi pengurus lembaga itu semuanya orang Eropa.
Guterres memilih Salih dari sebuah panel tediri dari sepuluh orang yang dicalonkan oleh negara-negara anggota PBB.
Kandidat lainnya termasuk Jesper Brodin asal Swedia, yang sudah mengundurkan diri dari jabatan CEO perusahaan perlengkapan rumah tangga Ikea; mantan menteri luar negeri Spanyol Arancha Gonzalez Laya, serta bekas wali kota Paris Anne Hidalgo.
Salih menjabat sebagai presiden Iraq dari 2018 sampai 2022, setelah menjabat sebagai perdana menteri regional di kampung halamannya Kurdistan dari tahun 2009 sampai 2012.
Semasa pemerintahan Saddam Hussein, dia pernah ditangkap pada 1979 karena terlibat dalan gerakan nasional orang-orang Kurdi.
Dia pergi meninggalkan Iraq menuju Inggris, di mana dia menempuh pendidikan sarjana teknik sipil di University of Cardiff, sarjana tingkat doktoral di bidang statistik dan komputer dari University of Liverpool.
Sekembalinya ke Iraq dia mendirikan American University of Iraq di Sulaimani.
Menurut UNHCR, terdapat lebih dari 117 juta pengungsi di seluruh dunia, yang kebanyakan berada di negara berkembang.UNHCR memiliki 14.600 staf dan pekerja di 128 negara.
Disebabkan kekurangan dana, UNHCR mengatakan berbagai program esensial bernilai $1,4 miliar terpaksa ditangguhkan atau ditiadakan.
Hampir 11,6 juta pengungsi dan lainnya yang dipaksa berpindah tempat terancam kehilangan sokongan dari UNHCR.
Merujuk kasus pengusiran pengungsi oleh Pakistan, UNHCR mengatakan bahwa sekitar 1,9 juta orang Afghanistan telah pulang atau dipaksa pulang sejak awal tahun ini, tetapi malangnya mereka tidak memiliki dukungan finansial yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.*




