Hidayatullah.com – Ratusan warga Swedia memutuskan untuk membatalkan perayaan Tahun Baru 2026 dan memilih berunjuk rasa sebagai bentuk solidaritas dengan rakyat Gaza. Ini terjadi di di ibu kota Swedia, Stockholm.
Meskipun suhu sangat dingin, para pengunjuk rasa berkumpul di Lapangan Segels Torg pada Rabu memenuhi seruan dari berbagai organisasi masyarakat sipil untuk berduka atas anak-anak dan warga sipil yang dibunuh oleh ‘Israel’ daripada merayakan Tahun Baru.
Sambil membawa spanduk bertuliskan “Anak-anak dibunuh di Gaza,” “Sekolah dan rumah sakit dibom,” “Patuhi gencatan senjata segera,” dan “Akhiri kekurangan pangan,” massa menuntut diakhirinya genosida ‘Israel’ di Gaza. Mereka dengan tegas juga mendesak pemerintah menghentikan penjualan senjata ke ‘Israel’.
“Di tahun baru ini, kami menolak kematian massal, pengepungan di Palestina, dan kebisuan terhadap peristiwa-peristiwa ini. Kami menolak untuk memulai tahun baru dengan menutup mata terhadap ketidakadilan,” bunyi pernyataan para demonstran, dibuat atas nama penyelenggara.
Pernyataan itu juga menekankan bahwa ‘Israel’ tidak mematuhi komitmen perdamaian dengan Palestina.
“Saat dunia memasuki tahun baru, genosida terus berlanjut di Palestina. Meskipun gencatan senjata telah disepakati, warga Palestina terus dibunuh, pengepungan berlanjut, dan orang-orang membeku hingga mati karena dibiarkan tanpa tempat berlindung di tenda-tenda,” imbuh pernyataan tersebut.
Sambil mengibarkan bendera Palestina dan membawa obor, para demonstran kemudian berbaris menuju Parlemen Swedia.
Warga Palestina menuduh ‘Israel’ berulang kali melanggar perjanjian gencatan senjata, yang menghentikan perang ‘Israel’ selama dua tahun yang telah menewaskan lebih dari 71.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 171.000 lainnya sejak Oktober 2023.
Sejak kesepakatan gencatan senjata 10 Oktober, setidaknya 414 orang telah tewas dan lebih dari 1.100 lainnya terluka, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.*




