Hidayatullah.com– Serangan Israel atas Libanon, menyusul serangan AS dan Israel atas Iran pada 28 Februari, hingga saat ini sudah menghancurkan atau merusak lebih dari 62.000 unit rumah di negara yang berbatasan langsung di bagian selatan dengan wilayah Palestina yang dikuasai Zionis itu.
“Dalam kurun sekitar 45 hari (sejak perang dimmulai), terdapat 21.700 unit rumah hancur dan 40.500 unit rumah rusak,” kata Chadi Abdallah, kepala National Council for Scientific Research (CNRS), dalam konferensi pers hari Rabu (22/4/2026) seperti dilansir AFP.
Serangan Israel atas Libanon telah merenggut nyawa lebih dari 2.400 orang dan membuat lebih dari satu juta orang kehilangan tempat tinggal sejak Hizbullah pada 2 Maret melancarkan serangan balasan ke Israel atas serangan yang dilakukannya bersama Amerika Serikat ke Iran dua hari sebelumnya.
Meskipun sudah ada kesepakatan gencatan senjata 10 hari terhitung Jumat pekan lalu, tentara Israel masih terus melakukan penghancuran dan pengeboman atas rumah-rumah warga di wilayah selatan Libanon yang saat ini mereka duduki, menurut otoritas Libanon, para saksi mata, serta foto-foto yang diambil AFP dari sisi wilayah Israel.
CNRS memperkirakan bahwa “428 unit rumah dihancurkan dan 50 rumah dirusak” oleh Israel pada masa tiga hari pertama gencatan senjata, kata Abdallah.Libanon akan mengusulkan perpanjangan gencatan senjata dalam pembicaraan dengan Israel selanjutnya yang dijadwalkan akan digelar pada hari Kamis (24/4/2026), kata seorang pejabat Libanon kepada AFP.
Israel menggempur wilayah Libanon menyusul perang di Gaza 7 Oktober 2023 dengan alasan menarget para tokoh dan anggota Hizbullah yang mendukung Hamas. Serangan itu berkembang menjadi perang Israel-Hizbullah sampai terjadi kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran pada November tahu lalu. Namun, dengan berbagai dalih serangan Zionis tidak pernah benar-benar berhenti meskipun ada beberapa kali gencatan senjata. Zionis bahkan semakin berani dengan mengerahkan tentaranya ke dalam wilayah Libanon dengan dalih membuat zona penyangga demi mengamankan wilayahnya dari serangan Hizbullah.
“Agresi yang meluas antara 2023 dan 2025, yang pada faktanya agresi itu tidak pernah berhenti, menimbulkan kerusakan sangat besar di berbagai tingkatan,” kata Menteri Lingkungan Libanon Tamara Zein dalam konferensi pers.
Dia menambahkan bahwa lebih dari 220.000 unit rumah hancur atau rusak selama masa itu.Zein mengatakan bahwa serangan Israel tidak mengabaikan kawasan pemukiman penduduk, infrastruktur sipil dan rumah ibadah, serta mengakibatkan kerusakan parah dan meluas di lahan pertanian dan kawasan hutan.*




