Hidayatullah.com – Lembaga Amil Zakat (LAZ) perlu menyiapkan langkah bersatu dengan seluruh stakeholder zakat untuk hadapi ketidakpastian global. Demikian salah satu poin penting dalam agenda Leaders Talk Forum Zakat yang mengangkat tema “Geopolitik & Masa Depan Zakat” yang berlangsung daring yang dimoderatori oleh Public Relations BMH Pusat, Imam Nawawi (Kamis, 23/4).
Ketua Umum Forum Zakat Wildhan Dewayana dalam sambutannya mengatakan bahwa para pemimpin LAZ memerlukan pandangan pakar agar keputusan yang diambil bisa diperkuat dengan data, tidak semata berbasis intuisi.
“Karena ini tentang bagaimana kita merespon, baik ke dalam (internal LAZ) maupun keluar. Apakah masih ada peluang. Seperti apa dukungan kita untuk Gaza, Palestina. Dan bagaimana kita bisa tetap hadir secara otentik dalam situasi ini,” ungkapnya.
Ketidakpastian Global
Sementara itu narasumber pertama, Rizky Wisnoentoro, PhD yang merupakan Ketua Program Studi Master of Finance in Sustainable Finance Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) mengatakan Indonesia mesti siap.
“Sebelum perang Iran terjadi, kemiskinan di Indonesia itu sudah rentan. Apalagi sekarang yang nilai rupiah terus melemah terhadap dolar. Bisa memicu penurunan angka muzakki. Sebab gaji Rp16 juta rupiah antara 2010 dengan sekarang 2026 nilainya berbeda, lebih kecil,” jelasnya.
Kalau itu terus terjadi maka angka muzakki akan turun. Belum lagi kalau ternyata subsidi energi ternyata melebihi kemampuan APBN, maka ini akan menjadi tekanan bagi muzakki.
Tantangan Zakat Kian Berat
Melanjutkan diskusi narasumber kedua, Pizaro Gozali Idrus, yang merupakan pengamat geopolitik nasional mengatakan bahwa tantangan zakat semakin berat.
“Tantangan kedepan berat bagi lembaga amil zakat. Karena fokus dunia pada perang, militer dan ekonomi. Sementara dampaknya sudah menjalar kemana-mana. Jadi LAZ memang harus bekerjasama,. Apalagi isu Palestina kian tergeser seiring dengan perang yang terus berkembang dan tdiak tahu kapan berakhir,” tegasnya.
Puncaknya narasumber ketiga, CEO Rumah Zakat Irvan Nugraha menegaskan bahwa tantangan besar LAZ kian panjang. “Utamanya adalam menghadapi kemiskinan, krisis kemanusiaan dan juga perubahan iklim,” tuturnya.*/Herim




