Hidayatullah.com – Umat Muslim di Tanah Air saat ini mengalami dilema karena Iran tak bisa dipisahkan dari Syi’ah. Hal itu disampaikan oleh Dr. Akmal Sjafril dalam kajian daring Tuesday’s Special yang diselenggarakan oleh Sekolah Pemikiran Islam (SPI) pada Selasa (19/05) malam lalu.
Di tengah mengalir derasnya dukungan terhadap Iran untuk mengalahkan AS dan Israel, netizen dikejutkan dengan kemunculan sebuah video. Dalam video yang viral beredar di media sosial itu, seorang pemuda dengan lantangnya melaknat Abu Bakar, sahabat terdekat Nabi Muhammad saw. Lokasi pengambilan video tersebut ditengarai di sekitar Islamic Cultural Center (ICC), Pejaten, yang dikenal sebagai pusat kegiatan kelompok Syi’ah di Jakarta.
“Video tersebut menghentak kesadaran publik. Banyak yang mengaku kaget setelah melihat kenyataan bahwa ternyata Syi’ah belum berubah. Mereka masih suka melaknat para sahabat Rasulullah SAW, bahkan yang sekelas Abu Bakar,” ujar Akmal.
Apa yang terlihat dalam video tersebut berkebalikan dengan klaim yang telah cukup lama beredar, yaitu bahwa Syi’ah tidak lagi membolehkan melaknat para sahabat Nabi. “Sudah lama dibicarakan bahwa Ali Khamenei telah berfatwa melarang laknat kepada para sahabat. Akan tetapi, larangan itu disampaikan tanpa konsekuensi pada pelanggarnya. Hari ini kita menyaksikan bahwa pada kenyataannya larangan itu tidak dipatuhi. Atau, kemungkinan lebih buruknya, fatwa itu tidak pernah ada atau tidak pernah dianggap serius oleh siapapun,” ungkap Akmal lagi.
Tindakan melaknat sahabat Nabi itu berdampak pada dukungan terhadap Iran. Pasalnya, Iran memang tidak bisa dipisahkan dari Syi’ah. “Kenyataannya ajaran Syi’ah-lah yang dominan di sana. Meski di negara mana pun pasti ada oposisi atau orang yang tak sependapat dengan pemerintahnya, namun Iran saat ini memang identik dengan Syi’ah. Karena itu, umat Muslim di Indonesia yang mayoritasnya Ahlu Sunnah wal Jama’ah tentu kini berpikir dua kali dalam memberikan dukungan kepada Iran,” ujar pendiri SPI ini.
Dalam menyikapi ajaran Syi’ah, Akmal merujuk pada buku Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? yang diterbitkan oleh Pustaka Sidogiri. Menurut Akmal, buku itu adalah karya buatan penulis dalam negeri yang paling komprehensif dalam menjelaskan tentang Syi’ah.
“Dalam buku itu disimpulkan bahwa ‘aqidah Ahlu Sunnah dan Syi’ah tidak mungkin diselaraskan, dan karenanya tak perlu diselaraskan. Di sisi lain, hal itu tidak berarti kelompok Ahlu Sunnah dan Syi’ah harus selalu berseteru dan tak boleh bekerja sama dalam hal-hal keduniaan,” papar Akmal lagi.
Untuk menyikapi perkembangan terkini, Akmal menyampaikan tiga rekomendasi. “Pertama, kita harus memprioritaskan kepentingan Dunia Islam. Kalau kita mendukung Iran, itu bukan karena kita membenarkan ideologinya, melainkan karena bahaya AS dan Israel lebih besar,” ungkapnya.
“Kedua, kita boleh saja menjalin hubungan dengan Iran, namun dengan penuh kewaspadaan. Rasulullah saw pernah mengikat perjanjian dengan tiga kabilah Yahudi di Madinah, Musa bin Nushair menerima bantuan dari Kerajaan Kristen Sabtah untuk menaklukkan Andalusia, dan Shalahuddin al-Ayyubi menggunakan pendidikan untuk menghapus dominasi Syi’ah dari Mesir. Kita tidak mesti berkonflik, tidak pula mengandalkan kekerasan, namun tidak boleh naif dan bersikap seolah-olah tidak tahu akan bahaya Syi’ah,” tandas Akmal lagi.
Rekomendasi ketiga, yang menurut Akmal bisa jadi malah lebih fundamental daripada dua yang sebelumnya, adalah tidak melupakan problematika internal Ahlu Sunnah. “Dilema yang kita hadapi kini adalah buah dari kenyataan bahwa negara-negara Ahlu Sunnah tidak memiliki kekuatan militer seperti Iran, sehingga lemah dalam pembelaannya terhadap Palestina dan tidak mampu melindungi diri sendiri. Kalau saja ada negara Ahlu Sunnah yang mampu berdiri tegar di hadapan musuh-musuh Islam, maka kita bahkan tak perlu membicarakan Iran. Dan kelemahan ini adalah buah dari kesalahan-kesalahan kita sendiri, mulai dari lemahnya komitmen, rapuhnya ukhuwwah, ketinggalan dalam persaingan sains dan teknologi, dan seterusnya,” pungkas lelaki berdarah Minang itu.
Selain Tuesday’s Special, SPI juga menawarkan Kajian Online Pemikiran (KOMIK) Intensif yang digelar secara berseri sebanyak empat kali kajian dalam sebulan. Agenda KOMIK Intensif terdekat adalah di bulan Juni dengan tajuk “Sisi Lain dari Perjuangan Kemerdekaan Indonesia”. Agenda-agenda SPI dapat dipantau melalui akun Instagram-nya di @spi.indonesia.*SPI Media Center




