Hidayatullah.com – Umat Muslim harus mengubah cara pandang; membela Palestina bukan hanya kewajiban tapi juga merupakan hak kita. Hal itu ditegaskan oleh Gita Hastarika, seorang antropolog yang belakangan sering menyuarakan pembelaannya terhadap Palestina, dalam perhelatan Muslim Network Forum (MNF) 2026 yang digelar Ahad (19/07) silam di Kantor INSISTS, Jakarta.
Menurut Gita, hal tersebut adalah pencerahan yang telah didapatkannya setelah menghabiskan banyak waktu merenungkan nasib warga Palestina yang telah menjadi korban genosida selama bertahun-tahun lamanya.
“Kalau kita memandang pembelaan terhadap Palestina sebagai sebuah kewajiban, maka kita akan merasa lelah dalam melakukannya. Tapi setelah saya renungkan, sebenarnya ini adalah hak istimewa yang telah Allah berikan kepada kita. Menjadi pembela Palestina adalah sebuah kehormatan,” ujarnya.
Genosida yang terjadi di Gaza sejak 2023 telah membangkitkan semangat Gita untuk lebih intens belajar agama, meski ia sudah Muslim sejak lahir. Setelah menunjukkan posisinya yang tegas menentang genosida, Gita telah mengalami banyak cobaan.
“Mulai dari menyaksikan kawan yang memilih diam walau hatinya menolak genosida, sebab ia masih membutuhkan sponsor dari kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan zionis, sampai benar-benar dimusuhi orang. Tentu saja awalnya kita sedih ditinggalkan teman-teman, tapi pada akhirnya saya menyadari bahwa ternyata hidup baik-baik saja tanpa mereka,” ungkap Gita.
Pada akhirnya semua tergantung bagaimana kita memaknai tantangan yang kita hadapi dalam hidup. “Kalau yang kita maknai sebagai kemenangan adalah kekayaan, misalnya, maka bisa jadi kita akan merasa kalah. Tapi kalau untuk mendapat kekayaan itu kita harus kehilangan prinsip, maka menurut saya sejatinya kita telah kalah,” tandas Gita dengan mantap.
Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat, Akmal Sjafril, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pernyataan Gita tersebut. Menurut Akmal, ini adalah perspektif yang semestinya dipahami oleh setiap aktivis Muslim.*
“Ada sebuah hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang menyatakan bahwa tidak ada manusia yang masuk Surga dan ingin kembali ke dunia, kecuali orang yang mati syahid. Mereka yang mati syahid bahkan ingin hidup supaya bisa mati syahid sepuluh kali lagi, semata-mata karena telah mengetahui keutamaan dari mati syahid itu,” ungkap Akmal.
Menurut Akmal, hadits ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk berjuang memang merupakan hak istimewa yang tidak didapatkan oleh semua orang. “Ada generasi yang hidup di masa-masa ketika Palestina berada dalam keadaan damai, tapi kita hidup di masa berjuang. Kita memiliki kesempatan yang tidak dimiliki oleh semua generasi. Karena itu, kesempatan ini memang harus kita maknai sebagai sebuah privilege, alias hak istimewa. Kalau kita tidak mengambil hak ini, maka kita sendiri yang akan merugi!” pungkas pendiri SPI ini.
Muslim Network Forum adalah forum diskusi yang sedianya akan digelar secara rutin setiap tahunnya oleh SPI untuk mendiskusikan berbagai persoalan Dunia Islam kontemporer. Sesuai tajuk yang dipilih untuk tahun ini, “Building Strategic Collaboration For Palestine”, diskusi diharapkan mampu melahirkan terobosan-terobosan baru yang kolaboratif untuk memperkuat pembelaan terhadap Palestina. (SPI Media Center)




