Hidayatullah.com—Hari Jumat (15/04/2015) pagi masyarakat Indonesia di Mesir mengadakan acara silaturahmi dengan hafidz cilik perwakilan Indonesia Musa La Ode Abu Hanafi yang dilaksanakan di Masjid Sekolah Indonesia Kairo (SIC), Jl. Musoddaq no. 68 Giza.
Sejak jam 9 pagi masyarakat sudah berkumpul menunggu kedatangan Musa yang dikabarkan dalam perjalanan dari Pyramidea menuju SIC.
Tepat jam 10 pagi ia sampai ke Masjid Indonesia Kairo (MIC) dengan didampingi oleh Staff Penerangan Sosial Budaya KBRI Kairo, Kopri Muhammad Nurzein. Musa sampai di ke SIC dengan wajah yang ceria dan sumringah layaknya anak-anak kecil seumurnya yang masih suka bermain dan tidak terikat dengan protokoler-protokoler resmi.
Di MIC Musa langsung disambut Bapak Drs.Muhammad Samsul Hadi M.Pd., Kepala Sekolah Indonesia Kairo dan diberi tempat duduk di depan anak-anak SIC dan para wali muridnya dan masyarakat Indonesia-Kairo serta keluarga besar KBRI Kairo.
Kepala Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI-Kairo, Lautinia Suteja memberi sambutan dengan mengucapkan terima kasih kepada Masjid Indonesia Kairo yang sudah menyediakan tempat untuk acara ramah-tamah masyarakat Indonesia di Mesir dengan Duta Bangsa Indonesia.
“Musa La Ode Abu Hanafi, hafidz cilik Kebanggan kita dan juga kebanggan Mesir,” ujarnya.
Meski sekarang baru mendapatkan juara III, Lautinia berharap kedepan bisa menggondol juara I. Lautinia juga mengharapkan agar anak-anak bangsa kita dapat mencapai prestasi apapun di bidangnya masing-masing, dan tentu akan bernilai positif dan berguna pada kemudian harinya nanti.
Dalam kesempatan yang sama, La Ode Abu Hanafi, orang tua kandung Musa yang menjadi pendamping untuk mengikuti MTQ Internasional di Mesir diminta memberi wejangan.
Dalam kesempatan itu, La Ode menyampaikan tips-tips melahirkan anak sholeh. Jurus pertama adalah mencarikan ibu yang solehah buat anak-anaknya. Menurutnya, ibunya Musa yang solehah lah yang memiliki peran melahirkan Musa dan adik-adiknya untuk menjadi anak-anak hafidz.
Selanjutnya adalah ketekunan dan kedisplinan dalam menjalankan agenda atau jadwal belajar dan bermain anak-anak secara kontinyu.
“Bukan hanya waktu belajar anak saja yang tidak boleh diganggu, melainkan waktu bermain dan waktu istirahat anak juga tidak boleh diganggu,” ujar La Ode.
Ia juga menyampaikan bahwa salah satu trik berikutnya adalah sifat Qana’ah terhadap pemberian rizki yang dianugerahi Allah dan tidak mengkhawatirkannya. Ia memberi contoh, orang non-Muslim saja diberi Allah rizki yang luas, apalagi orang-orang yang secara serius menjaga Kita Suci Allah, meskipun pada awal-awalnya kesulitan itu ada, kata La Ode yang sebelumnya pernah bekerja sebagai tukang menderes karet di gunung dengan sepeda ontel pinjamaan.
Ia bersyukur, kini anak-anaknya sukses menjadi hafidz dan sudah ada yang juara dunia.
Baca:
Musa Juara 3 Pada Hifzil Quran Internasional Meski Jadi Peserta Paling Kecil
Saat ditanya wartawan TV One apakah ia berniat akan mendirikan sekolah tahfidz, La Ode menjawab: “Rencana itu ada, tapi belum memikirkannya jauh, karena saya ingin menambah anak-anak saya lagi yang akan saya siapkan menjadi hafidz-hafidz.”
Acara dilanjutkan dengan topic “Ikut Merasakan Hafalan Musa”. Acara dimulai oleh guru agama SIC, dimana Ustaz Zulfi Akmal memulai membacakan sepotong ayat, lalu Musa dengan tenang dan lancar membaca sambungan ayat tersebut dengan benar berikut menyebutkan nama surat, nama juz dan jumlah ayat dari surat tersebut diiringi tepuk tangan meriah dari masyarakat Indonesia yang penuh gemuruh dan antusias yang membahana di masjid SIC-Mesir.

Acara “Ikut Merasakan Hafalan Musa” terus berlangsung beberapa saat dengan sangat antusias dan diikuti peserta dengan perasaan mengharukan.
Saat memasuki acara foto, jamaah Masjid Indonesia Kairo yang begitu antusias ikut berebutan hingga menyebabkan suasana berdesak-desakan.
Suasana ini menyebabkan panitia harus ‘mengamankan’ Musa dengan cara digendong.
Semoga antusias masyarakat tidak hanya sebatas saat musa masih bocah, sebatas kebanggan kepada Musa yang sukses dididik menjadi anak cilik sholeh yang hafal Al-Quran.
Harapan kita, masyarakat juga tetap dapat antusias dan cinta kepada Musa, tetapi juga dapat menjadi agen keshalehan (mushlih) dan perbaikan serta agen perubahan kepada seluruh mayarakat Indonesia.*/kiriman Syafruddin Ramly (Mesir)