Hidayatullah.com—Peneliti sejarah, Dr Tiar Anwar Bachtiar mengatakan sangat penting umat Islam melakukan Islamisasi dalam pengajaran sejarah, sebab sejarah merupakan konsep pemikiran yang berkaitan dengan ideologi.
Hal ini perlu dilakukan mengingat ideologi yang saat ini merasuki materi dan pengajaran sejarah harus digantikan dengan ideologi yang benar, yaitu Islam.
“Tokoh-tokoh sekuler diangkat secara dominan dalam sejarah, seolah mereka pemeran utama dalam berdirinya Indonesia. Hal tersebut kemudian menjadi legitimasi, bahwa sekularisasi yang saat ini terjadi, merupakan kesepakatan yang telah dimulai oleh para pendiri negeri” demikian ungkap Tiar Anwar Bahtiar, di hadapan peserta workshop “Perspektif Islam dalam Pengajaran Sejarah” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) dan Ma`had `Aly Imam al Ghazally (MAIG) Surakarta Sabtu 7 November 2015 kemarin.
Menurut Tiar, ada tiga permasalahan yang terjadi dalam penulisan dan pengajaran sejarah di Indonesia, yang bagi beliau tidak bebas nilai dan melayangkan cara pandang sejarawan serta kepentingan politik pada masa tertentu.
Pertama sekularisasi, yaitu sejarah hanya dianggap sebagai hasil dari perbuatan dan pengalaman manusia yang tidak melibatkan Tuhan di dalamnya. Kedua de-islamisasi, yaitu menghilangkan peran Islam dalam sejarah Indonesia. Ketiga, nativisasi, yaitu mendefinisikan kembali akar sejarah Indonesia pada kebudayaan lama (primitif) yang berdasarkan animisme-dinamisme. [Baca: Sekularisasi dan Deislamisasi merupakan Tantangan Pengajaran Sejarah di Indonesia]
Ia mencontohkan, bagaimana nativisasi dan deislamisasi terjadi dalam buku materi Sejarah Kelas IX yang banyak digunakan di sekolah-sekolah, di mana menyebutkan bahwa Kerajaan Majapahit yang berideologi Hindu-Budha, adalah yang pertama kali menyatukan Nusantara dan merupakan jiwa bangsa Indonesia.
Sedangkan keruntuhan Majapahit dan perpecahan yang selanjutnya terjadi, disebabkan oleh serangan Kerajaan Demak, Gresik dan Tuban yang menganut agama Islam.
“Ini merupakan kebohongan dan ketidak-adilan yang ditanamkan dalam sejarah Indonesia, seperti rekayasa asal-usul manusia, yang sebenarnya tidak ilmiah dan lebih karena pesanan ideologi,” ujar penulis buku buku Sejarah Nasional Indonesia Perspektif Baru ini.
“Banyak sekali hal-hal yang tidak ilmiah dalam sejarah, lebih banyak karena ideologi. Ideologi apapun selalu diperkuat dengan sejarah, dan sejarah memperkuat ideologi” jelasnya.
Peran Islam yang sangat kuat dalam membentuk sejarah Indonesia pun, akhirnya dimentahkan dan dicurigai sebagai kepentingan yang memperpecah belah. Hal ini memberikan tanda akan antipati nya terhadap Islam.
“Orang Indonesia anti terhadap Islam yang dianggap dari Arab, tapi mereka suka dan menerima dengan sejarah yang dibuat oleh orang-orang Eropa dan Kristen” tambah Tiar, doktor bidang sejarah, lulusan Universitas Indonesia (UI) ini.
Karena itu menurutnya, tiga hal mendesak yang perlu dilakukan adalah; pertama, menetapkan tujuan-tujuan operasional pendidikan dan pengajaran sejarah dalam kerangka kepentingan pendidikan Islam.
Kedua, membuat narasi bahan ajar sejarah yang disesuaikan dengan Islamic Worldview. Ketiga menyiapkan guru-guru sejarah yang memiliki visi Islam dan memahami ajaran Islam dengan baik.*/kiriman Galih (Surakarta)