Hidayatullah.com– Di antara faktor gagalnya pendidikan di negeri ini adalah karena tidak memperhatikan aspek ubudiyah. Demikian disampaikan oleh Dosen Filsafat Pendidikan Islam, Dr. Abas Mansur Tamam di hadapan puluhan mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Jawa Barat, Sabtu (07/05/2016).
“Dengan pendidikan yang berorientasi ibadah, seorang Muslim mampu menjaga adab setiap perilakunya. Tidak semata mengandalkan kecerdasan nalarnya,” ungkap Wakil Ketua Program Studi (Prodi) Ekonomi Islam UIKA tersebut.
Manusia beradab, kata Abas, senantiasa memperhatikan perbuatannya dalam tinjauan ubudiyah.
Menurut Abas, meski demikian ubudiyah dalam dunia pendidikan tidak melulu hanya aspek hubungan ritual kepada Allah. Tapi juga menyangkut hubungan manusia (adab) kepada alam, manusia, kehidupan, dan akhirat.
“Jika ubudiyah sebagai ontologi dalam pendidikan ini mengakar dengan baik, niscaya bisa mengurangi dan mengurai permasalahan pendidikan,” ungkap Abas yang menulis disertasi S-3 berjudul “Tren Liberal dalam Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia”.
Unggul dengan Ilmu Agama
Disebutkan, orang yang beradab selalu berusaha bersikap adil dan ihsan dalam bergaul dengan orang lain.
Berbeda dengan yang kehilangan adab, kekuasaan yang dipunyai justru menjadi alat untuk merampas hak orang lain.
“Akibatnya bukan jadi pemimpin tegas, malah berubah jadi buas kepada rakyat kecil,” ujar Abas menilai sebagian pemimpin masyarakat.
Hasil pendidikan semacam itu, lanjut Abas, akibat terlanjut meniru pendidikan Barat yang notabene mengalami sekularisasi. Mirisnya, sebagian besar generasi muda kini berkiblat kepada budaya Barat.
“Padahal ubudiyah menurut mereka hanyalah kekayaan materi dan kesenangan foya-foya,” papar dosen yang menyelesaikan seluruh jenjang akademiknya di al-Azhar Kairo, Mesir ini.
Abas menambahkan, secara umum orang yang bekerja dan berpikir tentang dunia tidak salah. Tetapi keliru jika ia terjebak menjadikan dunia sebagai orientasi dan tujuan hidupnya.
“Yang paling baik itu sesuai ajaran al-Qur’an, fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah (di dunia baik dan di akhirat baik. Red),” terangnya.
Terakhir, Abas mengingatkan, bahwa generasi orang shaleh dahulu unggul di bidang ilmu pengetahuan karena mereka menguasai ilmu agama terlebih dahulu.
Sebaliknya, umat Islam mengalami kemunduran sekarang, karena ilmu agama sebagai fardhu ain mulai diabaikan dalam kehidupan mereka.
“Kapasitas ilmiah itu berbanding lurus dengan kapasitas religius. Keunggulan generasi terdahulu karena memiliki kedalaman ilmu, keikhlasan beramal, kesungguhan berdakwah dan kesabaran,” pungkasnya sambil mengutip perkataan Ibn al-Qayyim dalam kitabnya, I’lam al-Muwaqi’in.* Kiriman Arsyis Musyahadah, pegiat komunitas PENA