DAKWAH pada hakekatnya merupakan kerja-kerja peradaban yang membawa masyarakat ke arah kesempurnaan dan keselamatan.
Ibarat seorang petani, seorang aktivis dakwah diharapkan mampu memilih benih yang akan ditaburnya, mengolah tanah, memberi pupuk dan air, menjaga supaya benih itu cukup mendapat udara dan sinar matahari, melindungi dari hama dan lain-lain sebagaimana dijelaskan (alm.) M. Natsir dalam “Fiqhud Dakwah”.
Tidak ada yang menyangsikan peran sentral da’i dan petani dalam membangun peradaban, tetapi juga tidak banyak yang bersedia mengambil peran ini. Apalagi secara khusus menyiapkan diri dengan bekal ilmu yang memadai, padahal tantangannya semakin kompleks. Gerakan kristenisasi, aliran kepercayaan dan kebatinan, infiltrasi budaya hedonisme, materialisme, kapitalisme, filsafat liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, relativisme dan nihilisme merupakan di antara contoh nyata tantangan dakwah kontemporer.
Seiring dengan ini, juga bermunculan sekumpulan orang yang mengaku paling “Indonesia” dan giat melempar stigma anti kebhinekaan dan kearab-araban.
Untuk menjawab pelbagai tantangan di atas, Program Kaderisasi Ulama (PKU) di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor hadir dengan memfokuskan pada (i) pendalaman ilmu-ilmu Islam yang fundamental; (ii) pengenalan metodologi, ideologi dan konsep-konsep kunci peradaban Barat yang merongrong wibawa studi Islam; serta (iii) pembekalan teknik dan metode ghazwul fikri dalam bentuk pelatihan jurnalistik, leadership, multi media, dan lain sebagainya.
MIUMI DIY dan PKU Gontor Gelar Seminar Nasional “Pemikiran Islam Kontemporer”
Hingga tahun ini PKU UNIDA telah menghasilkan sepuluh angkatan kader-kader dakwah dari seluruh pelosok Indonesia.
Di akhir sesi pelatihan yang berjalan selama enam bulan, peserta PKU ditugaskan untuk mempresentasikan kajian akhir mereka di beberapa universitas, pesantren dan ormas-ormas Islam.
Pada angkatan ke X ini, di antara kegiatan seminar dan Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam dilaksanakan di kantor Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Pondok Pesantren Modern Daar El-Istiqomah, Pondok Pesantren Modern “La Tansa” dan lain-lain.
Saefull Yusuf alfaaiz S.Kom.I, salah satu peserta PKU angkatan X yang mengkaji tema: “Peran Media Sekuler terhadap Pembentukan Budaya” memaparkan gelombang invasi media sosial terhadap umat. Ia sangat prihatin dengan sedikitnya aktivis dakwah yang bergerak di bidang ini.
Dalam paparannya, ia menguraikan setidaknya ada 124 situs berkedok Islam; 181 situs ditengerai menyimpang dari ajaran Islam. Sedangkan situs dakwah sendiri saat ini hanya berkisar 28 situs, padahal situs-situs Kristen saja sudah mencapai sekitar 714.
Pembentukan budaya melalui media pada umumnya dilakukan dengan tiga cara, yaitu: advertising, movies, entertainment. Melalui tiga cara tersebut, transformasi budaya-budaya hedonisme, konsumerisme dan materialisme secara perlahan dan pasti akan menjangkiti generasi umat.
Dalam presentasinya, Yusuf menjelaskan bahwa gaya hidup (lifestyle) yang menjanjikan kesenangan dan dijadikan tujuan mutlak dalam hidup (ultimate goals in life) adalah ciri khas budaya hedonisme. Pembudidayaan hedonisme dikampanyekan melalui media bersamaan dengan konsumerisme dan materialisme.
Dengan tersosialisasikannya budaya ini, maka generasi umat secara pasti akan meninggalkan cita-cita dan idealismenya, untuk kemudian menjualnya demi uang. Dampak perang budaya ini dikuatirkan akan menjadikan Indonesia sebagai negara sekuler dan menjauhkan dari nilai-nilai agama yang merupakan salah satu tujuan utama NKRI didirikan.
Oleh karena itu, Yusuf berharap agar umat Islam sebagai aset berharga dapat terus menjadi perisai bangsa. Senada dengan hal ini, KH. Dr. Soleh pengasuh Pondok Pesantren “La Tansa” Lebak Banten dalam sambutannya di hadapan santri-santri dan peserta PKU, beliau menegaskan bahwa Pesantren adalah benteng terakhir bagi nilai-nilai umat Islam di Indonesia di bidang pendidikan.
Sementera itu pengasuh Ponpes Modern Daar El-Istiqomah Serang, KH. Drs. Sulaeman Ma’ruf, juga menyampaikan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia diharapkan mampu untuk menjaga identitasnya dan tidak berpikiran pragmatis.
Semoga kedepannya, kader-kader umat dari seluruh penjuru Indonesia mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI sebagai bumi para wali secara elegan dan berkarakter.
Mengingat pentingnya program ini, maka kaderisasi dakwah tidak boleh berhenti dan mencukupkan dengan hasil yang dicapai. Sebab dakwah adalah kerja-kerja peradaban yang memerlukan keberlangsungan secara berterusan. Jika terhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut!*./ Dr. Henri Shalahuddin, MIRKH, S.Ag, dosen PKU UNIDA Gontor